HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Bulog Merauke serap padi petani dalam bentuk gabah

Gabah petani yang sudah dipanen dan sedang dikeringkan – Jubi/Frans L Kobun
Bulog Merauke serap padi petani dalam bentuk gabah 1 i Papua
Gabah petani yang sudah dipanen dan sedang dikeringkan – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi –  Terhitung sejak 20 Maret 2020, Badan Urusan Logistik Sub divre Merauke sudah tidak menyerap beras lagi, namun penyerapan dalam bentuk gabah sesuai instruksi Bulog pusat.

“Memang pembelian gabah dari petani  merupakan instruksi dari pusat. Dengan demikian, kami di setiap daerah wajib menjalankan,” kata kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub divre Merauke, Djabiruddin, Senin, (27/4/2020).

Bulog Merauke serap padi petani dalam bentuk gabah 2 i Papua

Baca juga : Serapan beras Bulog di Papua dan Papua Barat hanya 70 persen

Ketika OAP ancam hambur gabah padi di jalan

Beras petani tak diserap, dimana tanggung jawab Bulog Merauke?

Ia menjelaskan harga gabah  kering panen (GKP) di tingkat petani dibeli Rp 4.200 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) di tempat penggilingan  Rp 5.250 per kilogram. Kalau harga GKG  yang sudah masuk ke bulog Rp  5.300 per kilogram.

Loading...
;

Ia menegaskan gabah yang masuk di gudang harus memenuhi persyaratan yakni kadar air 14 persen dan hampa kotoran 3 persen.Jika tak memenuhi, akan dipulangkan dan diperbaiki.

“Memang pembelian tetap melalui mitra bulog. Namun kita buka juga kepada petani maupun gapoktan. Jika ingin menjual gabah, silahkan saja tetapi harus memenuhi persyaratan dimaksud,” kata Djabiruddin, menjelaskan.

Tercatat saat ini sudah sekitar 100 ton gabah yang telah dibeli Bulog dan tersimpan di gudang. Lembaga ogistik itu akan menggiling melalui mitra kerja jika hendak didistribusikan.

“Kami akan menanggung jasa gilingan 1,5 persen. Begitu juga buruh akan dibiayai bulog saat menurunkan gabah maupun menaikan beras setelah penggilingan dilakukan,” katanya.

Seorang petani Merauke, Marlan,  mengaku pemeberlakukan aturan penjualan gabah ke Bulog itu merugikan karena harga tidak sesuai dibandingkan tenaga yang dikeluarkan  saat  membuka lahan hingga merawat padi hingga proses panen.

“Kalau kita menjual beras, masih bisa ada keuntungan yang didapatkan, setelah dilakukan penggilingan,” kata Marlan. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa