Follow our news chanel

Burung pintar dan sampah plastik penghias sarang

Papua No. 1 News Portal | Jubi , 

Burung pintar ini tak seindah burung surga Papua The Bird of Paradise, apalagi warna bulunya, tak menarik dan juga memiliki ukuran yang jauh lebih dari ayam hutan mirip-mirip burung merpati.

Tapi jangan dilihat dari bentuk fisiknya semata. Burung ini sangat kreatif membangun dan menata sarang burung, serta pandai meniru berbagai suara.

Orang Arfak dari suku Khatam menyebut burung pintar, dalam bahasa lokal brinyei, sedangkan para pendatang dari luar menyebutnya briceu. Burung yang dalam bahasa latin ini dinamakan Amblyornis inornotus ini sangat mahir meniru berbagai suara, mulai dari manusia, babi dan suara alami hewan lainnya di dalam hutan.

Kawasan birdwatching ini letaknya di Kampung Kwau, Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari. Wilayah ini juga termasuk batas antara Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat. Jaraknya sekitar 2,4 kilometer dengan kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat. Hanya sekitar satu jam saja dari Kota Manokwari.

Rombongan media tour dalam International Confrence on Biodiversity Ecotourism and Creative Economy (ICBE) 2018 berkesempatan mengunjungi Papua Loreekit, Guest House di Kampung Kwau, Distrik Mokham milik Hans Mandacan, 9 Oktober 2018. Saat memasuki jalan setapak, tampak warna-warni bunga alami tertata rapi menuju guest house. Letaknya tak jauh dari jalan raya menuju Kabupaten Pegunungan Arfak.

Jika hendak menginap cukup membayar kamar seharga Rp 250.000 per malam, belum lagi ongkos koki untuk masak dan porter serta guide di lokasi sarang burung.

Loading...
;

Kebetulan Hans Mandacan masih mengikuti ICBE di Kantor Gubernur Provinsi Papua Barat, sehingga adik kandungnya, Hami Mandacan yang ikut bersama rombongan menuju sarang burung pintar. Hami bertindak sebagai penunjuk jalan sekaligus memberikan keterangan seputar kegiatan burung pintar.

Hutan di sekitar Kampung Kwau masih perawan alias hutan alami dan terdapat kayu merbau dan jenis kayu lainnya berlumut dan tanaman berspora. Jarak dari guest house tidak terlalu jauh, hanya 15 menit berjalan kaki menuju sarang burung pintar.

 Sayangnya rombongan tak sempat melihat aktivitas burung pintar di sekitar sarangnya. Maklum si burung pintar sudah terbang mengelilingi hutan pegunungan Arfak mencari daun-daun atau mencari sang betina pasangannya.

 “Biasanya setiap pagi pukul 06.00-08.00 waktu Papua, si burung pintar masih berdiam seorang diri, maklum burung betina tinggal di sarangnya di atas pohon,” kata Hami Mandacan seraya menambahkan, burung pintar jantan selalu membangun sarangnya di bawah pepohonan rindang di tengah hutan rimba pegunungan Arfak.

Penjaga sarang burung

Usai melihat langsung sarang burung pintar, pada 10 Oktober 2018 di sela-sela pertemuan ICBE 2018 di Kantor Gubernur Papua Barat, Jubi mewawancarai Hans Mandacan, si pemilik lokasi sarang burung pintar itu.

“Saya awalnya juga memenuhi kebutuhan dengan memanah burung di hutan,” kata ayah tiga putra ini.

Namun sejak 2009, lanjut dia, semua berubah dari pemanah burung, sampai akhirnya pemelihara sarang burung pintar dan burung cenderawasih.

Usaha ini, lanjut dia, membawa banyak untung karena menjaga pelestarian lingkungan dan langsung mendapat berkat.

“Saya langsung mendapat uang cash dari hasil kunjungan para peneliti maupun para fotografer profesional yang selalu menginap selama dua minggu atau seminggu,” katanya seraya menambahkan, saat saat ini ada tujuh tamu dari Jerman.

Kepada Jubi, Hans Mandacan mengaku telah mencatat 50 sarang burung pintar di kawasan Mokwam, Kampung Kwau seluas 40 hektare.

“Saya hanya tunjukkan dua sarang burung pintar dan burung cenderawasih,” katanya.

Burung pintar ini, lanjut Hans Mandacan, menghiasi sarangnya untuk menarik burung betina sebelum kawin dalam sarang.

“Burung pintar jantan ini membutuhkan waktu empat bulan membangun sarangnya dan dikerjakan sendiri,” kata Hans, ayah dari empat anak ini.

Di depan sarang burung pintar ini terlihat berbagai hiasan mulai dari bunga-bunga, daun-daunan, buah-buahan. Bahkan ada pula tutup botol plastik berwarna biru. Hans mengakui, burung pintar ini membawa sampah plastik dan menghiasi bagian depan sarangnya.

“Saya meminta agar jangan membuang sampah di sekitar hutan karena burung pintar ini terbang sejauh hampir dua kilometer,” katanya.

Dia menambahkan burung pintar ini memakan buah-buahan, termasuk pisang raksasa setinggi 15-20 meter yang tumbuh di sekitar lokasi sarang burung.

Lebih lanjut Hans mengatakan, musim kawin bagi burung pintar setiap Juni, saat musim kawin si jantan akan merayu betina dengan warna-warni di depan sarangnya. Jika si betina tertarik akan mengikuti si jantan dan kawin di dalam.

”Saya pernah mengantar para fotografer melihat dari dekat saat burung pintar kawin,” katanya seraya menambahkan, kalau musim kawin burung cenderawasih sekitar Juni di wilayah lainnya sejauh 1,5 kilometer dari lokasi guest house burung pintar.

Dikutip dari buku Ekologi Papua, terbitan Yayasan Obor dan Conservasi International 2012 menyebutkan para pakar burung sejak lama menaruh perhatian terhadap burung namdur terutama Frith pada 2004 yang menulis burung Namdur sangat istimewa karena burung jantan dalam banyak jenis membangun struktur yang berfungsi  untuk menarik perhatian betinanya, sebagai arena pameran dan tempat bercumbu.

Struktur atau sarang berbentuk kubah ini dibuat dari berbagai jenis bahan, mulai tempat yang dibersihkan dengan beberapa daun diletakkan sebagai hiasan, sampai ke struktur besar yang terbuat dari ranting-ranting, dihiasi ratusan benda warna-warni, seperti buah-buahan, bunga-bungaan, yang memakan waktu berbulan-bulan. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top