Buta aksara di Kabupaten Jayapura masih ribuan

Tarian tifa oleh anak-anak PAUD dan TK dalam rangka peringatan Hari Aksara Internasional di Kabupaten Jayapura. -Jubi/Engel Wally

Papua No.1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Menurut data terakhir pada 2020, menunjukkan bahwa buta aksara sebanyak 4.538 orang tersebar di 19 distrik di Kabupaten Jayapura. Sementara yang sudah mendapat Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA) sebanyak 500 orang dan yang belum sebanyak 4.038 orang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Ted Jonnes Mokay mengatakan, tingginya angka buta aksara di daerah ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat lokal, tetapi juga warga dari luar daerah yang datang ke Kabupaten Jayapura.

Menurutnya, penuntasan buta aksara tidak hanya menjadi tugas Dinas Pendidikan semata, tetapi harus juga didukung oleh semua pihak mulai dari LSM, NGO, serta para penggiat literasi yang tersebar di setiap distrik dan kampung di Kabupaten Jayapura.
“Upaya kita selama ini secara bersama meningkatkan mutu pendidikan, juga berharap angka buta aksara dapat menurun,” ujar Ted Mokay, usai peringatan Hari Aksara Internasional di halaman Kantor Dinas Pendidikan, Gunung Merah Sentani, Selasa (14/9/2021).

Dikatakan, untuk menurunkan angka buta aksara, ada sejumlah lembaga pendidikan yang diajak kerja sama, seperti Yayasan Nusantara Sejati yang langsung di bawah naungan UNICEF, ada WVI, dan sejumlah lembaga swasta yang fokus pada bidang pendidikan, secara khusus untuk menuntaskan buta aksara di Papua.

Program calistung (baca, tulis, dan menghitung), kata Mokay, tetap menjadi prioritas dan hingga saat ini masih berjalan secara bertahap di setiap sekolah dan kelompok belajar anak. Untuk melaksanakan program tersebut bersama sejumlah lembaga, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran khusus agar keberlangsungan program calistung tetap berjalan.

“Dari total angka buta aksara, tertinggi di Distrik Kaureh dengan jumlah 704 orang, Unurumguay 676 orang, dan Yapsi 456 orang. Untuk distrik perkotaan, Distrik Sentani Kota masih yang tertinggi dengan jumlah 390 orang, Sentani Timur 100 orang, dan Waibhu 127 orang,” sampainya.

Sementara itu, Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro mengatakan, untuk mengetahui mereka yang melek baca atau buta aksara adalah ketika mereka berada di bangku sekolah. Sementara mereka yang tidak sedang di bangku sekolah, cukup sulit untuk diketahui.

Loading...
;

Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan dapat bekerja sama memberikan informasi siapa saja yang buta aksara. Buta aksara ini tidak hanya mereka yang berada di bawah usia 17 tahun atau usia sekolah, di atas usia tersebut juga masih ada.

“Generasi 80-an hingga 90-an pasti sudah bisa membaca, tetapi di bawah dari 80-an atau 70-an secara khusus di kampung-kampung pasti masih ada. Tetapi fokus kita untuk mereka yang berada pada usia sekolah, informasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk hal ini,” katanya. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top