Cakupan vaksinasi PNG rendah, bahkan sebelum Covid-19

Secara umum, Papua Nugini telah menjadi negara yang paling buruk, atau kedua terburuk, dalam hal cakupan tiga vaksin utama sejak 2017. - ADB/Flickr

Papua No.1 News Portal | Jubi

 

Oleh Stephen Howes dan Kingtau Mambon

Sudah diketahui secara umum bahwa tingkat cakupan vaksinasi Covid-19 di Papua Nugini (PNG) itu cukup rendah. Melalui tulisan ini, kami ingin membahas beberapa konteks yang mungkin dapat menjelaskan mengapa keadaan itu bisa terjadi, dan menunjukkan bahwa ada persoalan-persoalan yang lebih luas daripada sekedar penurunan cakupan imunisasi nasional.

Pada saat ini Bank Dunia melaporkan data cakupan imunisasi untuk hampir semua negara, terutama terkait dengan tiga vaksin yang paling umum yaitu vaksin campak, vaksin gabungan untuk difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) yang disebut DPT, serta vaksin hepatitis B. Untuk ketiga vaksin tersebut, data terbaru (pada 2019) menunjukkan bahwa PNG memiliki cakupan vaksinasi anak terendah di dunia dengan cakupan 37% untuk vaksin campak, 35% untuk DPT, dan 35% untuk hepatitis B. Bahkan, PNG telah dilaporkan sebagai salah satu dari 10 negara ditingkat global dengan cakupan imunisasi campak dan hepatitis B paling rendah sejak 2015, dan sebagai salah satu negara dengan cakupan DPT paling rendah sejak sekitar tahun 2010. Secara umum, PNG telah menjadi negara yang paling buruk, atau kedua terburuk, dalam hal cakupan tiga vaksin tadi sejak 2017.

Negara-negara lain yang juga menduduki peringkat 10 negara terbawah (berdasarkan data dari 2019) dalam hal cakupan ketiga vaksin tadi adalah Somalia, Republik Afrika Tengah, Guinea, Chad, Sudan Selatan, Angola, Guinea Khatulistiwa, Haiti, dan Suriah. Secara umum, mereka ada sekelompok negara yang sedang dilanda krisis, baik oleh karena terorisme, pengungsi, dan/atau konflik skala besar. Mereka dan PNG.

Bagaimana bisa kita menjelaskan hal yang mengejutkan seperti ini?

Kami mencari jawaban berdasarkan karakteristik PNG yang tampaknya kalah jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Kita mungkin bisa menyebut PNG sebagai negara yang lemah dan dimana terjadi banyak konflik. Namun angkat rata-rata cakupan vaksinasi di negara-negara yang lemah dan yang terkena dampak konflik adalah 67% untuk vaksin DPT dan campak, dan 68% untuk hepatitis B. Kita mungkin bisa mempertimbangkan jawaban bahwa pemberian pelayanan esensial, termasuk kesehatan, di negara-negara Melanesia itu umumnya buruk. Tetapi tingkat imunisasi di Vanuatu dan Kepulauan Solomon adalah 80% atau lebih dari itu untuk vaksin campak, dan 90% atau lebih untuk DPT dan hepatitis B.

Loading...
;

Penjelasan atau jawaban yang umum adalah bahwa negara PNG, secara geografis, memang menantang. Lebih banyak populasi PNG yang berada di komunitas terpencil dan susah untuk dijangkau. Tapi itu tidak menjelaskan mengapa cakupan vaksinasi PNG menurun drastis selama 15 tahun terakhir.

Apakah mungkin ada kesalahan pada data yang ada? Tahun 2019 sebenarnya disebut-sebut sebagai ‘tahun imunisasi’ PNG, tahun di mana, menanggapi wabah polio yang pecah, ada dorongan agar kampanye vaksinasi besar-besaran dilakukan dengan bantuan donor yang signifikan. Menurut informasi dari UNICEF, lebih dari satu juta anak PNG divaksinasi terhadap campak (serta rubella dan polio) dalam kampanye nasional tahun itu. Tetapi data lainnya dari Bank Dunia, yang berasal dari UNICEF dan WHO, menggambarkan realitas yang berbeda. Begitu juga data nasional PNG sendiri, mungkin sebenarnya merupakan sumber yang dekat dengan asalnya, menunjukkan bahwa tingkat vaksinasi campak pada tahun 2019 itu sebesar 34%, sementara cakupan kombinasi vaksin DPT/hepatitis B mencapai 42%. Angka-angka ini juga tidak menunjukkan adanya peningkatan sama sekali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang ada hanya penurunan tingkat imunisasi yang berhenti akibat kampanye tadi.

Mungkin, kalau begitu, ada masalah dengan kualitas data imunisasi PNG (dan lebih umum lagi, sistem pengumpulan data kesehatan PNG yang terlalu rumit). Ada sejumlah komentar di laporan negara-negara yang disusun oleh UNICEF/WHO yang menyinyalir hal ini. Tetapi, bahkan jika ada pertanyaan dan keraguan seputar cakupan imunisasi PNG yang benar, program nasional dan data survei negara itu sendiri juga membenarkan jatuhnya tingkat imunisasi PNG selama sekitar 15 tahun terakhir.

Menurut data yang ada, tingkat imunisasi di PNG menunjukkan ada peningkatan sepanjang tahun 1990-an. Namun ada penurunan yang signifikan dari tahun 2013 sampai 2017.

Kemudian, solusi yang ditekankan atas masalah itu adalah dengan menyediakan dana melalui anggota-anggota parlemen untuk digunakan dalam membiayai proyek-proyek lokal. Tak sepeserpun dana ini sampai pada penyediaan pelayanan kesehatan. Yang terjadi adalah skandal korupsi narkoba yang terkenal. Dan ledayan SDM lalu berakhir, dan pendapatan negara menurun. Anggaran kesehatan dipotong (sebesar 9% dari 2013 ke 2017 setelah inflasi). Perdana Menteri Peter O’Neill lalu memperkenalkan kebijakan ‘pelayanan kesehatan gratis’ pada awal tahun 2014. Fasilitas-fasilitas kesehatan disarankan agar tidak membebankan biaya apa-apa pada pasien, padahal ini adalah sumber pemasukan mereka yang paling dapat diandalkan. Pada saat itu para analis memperingatkan bahwa ini akan semakin melemahkan sistem kesehatan PNG.

Sementara itu, pada saat yang sama, Australia pun mengubah alokasi bantuannya ke PNG dan tidak lagi memberikan dukungan pada penyediaan layanan kesehatan.

Saat ini, apapun pertanyaan yang mungkin kita miliki seputar keakuratan data cakupan imunisasi PNG, ada banyak bukti yang menunjukan bahwa tingkat imunisasi telah menurun hingga mencapai status kritis bahkan sebelum Covid-19. Kontroversi tentang vaksin Covid-19 hanya akan membuat program imunisasi yang umum menjadi jauh lebih sulit. Kita bisa saja berdebat apakah PNG adalah negara yang gagal. Tapi data ini adalah petunjuk yang jelas bahwa negara PNG telah gagal memberikan pelayanan kesehatan pada rakyatnya. (Devpolicy Blog/ Development Policy Centre)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top