Follow our news chanel

Cangkang keong laut kembali digunakan sebagai mata uang di pedalaman PNG

Seorang penjaga toko di Kokopo menghitung mata uang adat dari cangkang keong yang dikenal dengan sebutan tabu, digunakan untuk membeli sembako. - The Guardian/ Kalolaine Fainu

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh  Kalolaine Fainu di East New Britain, Papua Nugini

Pembatasan ‘New normal’ akibat Covid-19 telah menyebabkan bangkitnya kembali kebiasaan-kebiasaan yang tradisional, termasuk berkebun, barter, dan penggunaan tabu sebagai mata uang.

Bagi banyak orang di Papua Nugini, Covid-19 ‘Niupela Pasin’  atau  pembatasan tatanan baru yang disebut ‘new normal’, menandakan bangkitnya kembali kebiasaan-kebiasaan yang lama tak dilakukan.

Sementara negara itu berperang melawan wabah infeksi virus Corona yang baru dimulai namun berpotensi akan melumpuhkan negara itu, dimulai dari ibu kota yang padat Port Moresby ke daerah pegunungan tinggi dan lembah-lembah bersungai di negara kepulauan yang luas itu, banyak kampung di PNG kembali ke sistem ekonomi tradisional.

Ketika provinsi East New Britain mulai memberlakukan karantina wilayah pada bulan April, transportasi umum dihentikan, akses masyarakat ke layanan-layanan tertentu juga dibatasi, dan pasokan barang kebutuhan pokok mulai menipis. Begitu juga dengan mata uang yang resmi.

Dengan hidupnya kembali tradisi barter dan pertukaran barang dan jasa informal, masyarakat di provinsi itu juga mulai kembali menggunakan mata uang adat, uang dari cangkang kerang tradisional yang umumnya jarang diperdagangkan secara komersial di luar penggunaannya untuk keperluan adat.

Loading...
;

Mata uang yang digunakan oleh orang-orang Tolai di East New Britain itu, tabu namanya, dibuat dari cangkang keong laut yang secara lokal dikenal sebagai palakanoara.

Umumnya digunakan dalam upacara pemakanan atau pembayaran mas kawin, tetapi juga dapat digunakan untuk membayar uang sekolah, denda-denda adat, dan bahkan pajak pemerintah daerah.

Aunty Minia Tolik dari Distrik Kerevat berkata bahwa selama periode karantina wilayah, lebih banyak orang yang menggunakan koleksi tabu untuk berbelanja keperluan harian karena mereka tidak punya uang.

“Kita tidak bisa pergi ke kota untuk menjual hasil kebun kita di pasar atau membeli barang dari toko-toko, jadi kita mulai menggunakan tabu.”

Vanessa Mulas, seorang warga Desa Kuradui, menerangkan bahwa orang-orang yang berhasil menghindari larangan menggunakan bus umum akan membawa pulang barang-barang dari toko, lalu menukarnya dengan tetangga mereka dengan tabu.

Nilai Tabu sendiri diukur berdasarkan panjangnya, untuk panjang satu setengah lengan setara dengan satu kantong beras.

Mulas menjelaskan bahwa dulu nilai 10 hingga 12 cangkang kecil itu setara dengan 10 toea (AS$ 0.03), tetapi dengan Covid-19, nilai tabu telah meningkat.

Desa Kuradui berada tepat di dalam zona karantina, dan Mulas menerangkan akibat pemberlakuan karantina wilayah yang mendadak, mereka tidak ada yang waktu untuk membeli stok sembako dari toko.

Hasil kebun-kebun pribadi habis dengan cepat, mendorong masyarakat untuk berkeliling di dalam batas desa mereka untuk mencari orang untuk melakukan barter yang bersahabat.

“Saya membarter beberapa sembako saya yang berlebih seperti beras, ikan kaleng, sabun, dan mie dengan hasil kebun segar,” katanya, setiap pertukaran barang dinegosiasikan dengan sangat hati-hati.

Mulas juga berkata bahwa karantina wilayah telah memberikan kesempatan yang langka kepada keluarga-keluarga PNG untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, dan bagi anak-anak untuk lebih terlibat dalam berkebun, panen, dan memasak.

Para tetua juga telah kembali membiasakan kebiasaan-kebiasaan lama dalam mengawetkan makanan, seperti mengubur kau kau (ubi jalar) atau singkong yang sudah dipanen di dalam tanah agar dapat bertahan lebih lama, dan mengajari generasi muda cara menganyam keranjang dan perangkap ikan.

Anak remaja perempuan belajar menjahit kemeja perempuan, kata Mulas, dan anak laki-laki muda yang sebelumnya puas dengan membeli ikan kaleng sekarang harus pergi ke laut untuk menangkap ikan mereka sendiri.

PNG, negara paling padat penduduk di Melanesia, saat ini berada di ambang gelombang Covid-19 yang berpotensi mematikan. Sementara menutup zona perbatasan dan serta perjalanan dalam negeri telah menekan angka infeksi hingga relatif rendah menurut standar global – hanya 401 kasus dan empat kematian hingga Senin 24/08/2020 – ada kekhawatiran bahwa sistem pelayanan kesehatan yang rapuh di negara itu tidak akan sanggup mengatasi sebuah wabah yang tidak dapat dikendalikan.

Ada juga kekhawatiran, bahwa cakupan penyebaran Covid di PNG sebenarnya jauh lebih besar daripada data resmi. Sejak dimulainya pandemi, baru 14.000 tes yang telah dilakukan secara nasional.

Selain itu, ada juga stigma berat yang melekat pada mereka yang telah tertular virus Corona. Ini menimbulkan keprihatinan bahwa orang-orang yang terinfeksi akan lebih enggan mengikuti pemeriksaan dan tetap tinggal di rumah, menyebarkannya ke orang lain.

Terlepas dari tingginya kasus positif Covid-19 baru-baru ini – hanya ada kurang dari 10 kasus positif satu bulan lalu – pemerintah pusat juga ditekan untuk melonggarkan pembatasan dan segera mencari solusi atas tantangan ekonomi akut negara itu. Pemerintah pusat telah memilih untuk tidak memperpanjang karantina wilayah 14-hari baru-baru ini, alih-alih memilih untuk beralih ke ‘niupela pasin’ atau new normal – dengan mengutamakan tindakan pencegahan seperti mewajibkan penggunaan masker, menjaga jarak sosial, dan cuci tangan dengan teratur, sambil pelan-pelan mengurangi pembatasan untuk usaha-usaha, sekolah, dan perjalanan.

Tetapi dengan dibukanya kembali perjalanan domestik keluar dari Port Moresby telah meningkatkan kemungkinan penyebaran virus ke daerah-daerah regional dan terpencil, meningkatkan rasa ketakpastian.

Mereka yang memiliki tanah yang lapang telah memperluas kebun di pekarangan mereka, dan kebun dadakan lebih sering terlihat, bahkan di ibu kota yang padat.

Herman dan Christine Valvalu dari Gelagele di East New Britain mengelola sebuah jaringan pertanian terintegrasi yang menyumbangkan lebih dari dua ton hasil bumi ke enam distrik yang dikarantina.

Tanah di provinsi mereka, kata Herman, tidak mengandung emas, tidak ada migas, tetapi banyak tanah yang subur. Mereka ingin agar pemerintah provinsi menyediakan peralatan berkebun, bibit tanaman, dan pelatihan untuk mendorong swasembada.

“Alam menyuruh kita untuk kembali ke akar kita, jadi jika ada bencana lain kita tidak perlu bergantung pada toko-toko atau khawatir jika toko tutup,” tegasnya. “Generasi-generasi kedepan bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang; jadi jika kita mengajari mereka untuk berkebun sekarang, mereka akan mampu mendukung kehidupan mereka dan hidup dengan berkecukupan.” (the Guardian)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top