Follow our news chanel

Previous
Next

Cegah virus Corona, Kepulauan Marshall boikot pengunjung dari Tiongkok

Atol Jaluit, salah satu atol terpencil di Kepulauan Marshall. - RNZI/ Giff Johnson
Cegah virus Corona, Kepulauan Marshall boikot pengunjung dari Tiongkok 1 i Papua
Atol Jaluit, salah satu atol terpencil di Kepulauan Marshall. – RNZI/ Giff Johnson

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Majuro, Jubi – Di tengah-tengah meningkatnya kekhawatiran tentang virus Corona, yang menurut pejabat pemerintah di Tiongkok telah menyebabkan kematian 15 orang, Kepulauan Marshall mengeluarkan larangan kunjungan, Jumat malam (24/1/2020), memboikot pengunjung yang datang langsung dari Republik Rakyat Tiongkok, negara dari mana virus itu dimulai.

“Setiap pengunjung yang datang dari atau transit melalui Tiongkok harus menghabiskan setidaknya 14 hari di negara yang tidak terpengaruh oleh 2019-nCoV (sebutan virus Corona terbaru oleh Organisasi Kesehatan Dunia),” menurut larangan perjalanan yang diterbitkan Jumat lalu oleh Sekretaris Kementerian Kesehatan Kepulauan Marshall, Jack Niedenthal.

“Ketika seorang pengunjung tiba di Kepulauan Marshall dalam periode 14 hari, ia akan ditolak” tegasnya.

Orang-orang yang terkena infeksi virus yang berasal dari Wuhan di Tiongkok itu, telah dikonfirmasikan di Taiwan, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Lebih dari 1.200 orang dipastikan telah tertular virus ini di Tiongkok dengan jumlah kematian sudah lebih dari 40 orang secara global.

Ratusan orang telah dirawat di rumah sakit dan pemerintah Tiongkok telah mengambil tindak tegas yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu melarang perjalanan dari Wuhan ke kota-kota lain, dalam upayanya untuk menghentikan penyebaran virus itu.

Loading...
;

Masalah kesehatan ini mulai semakin ramai pada saat Tiongkok memulai perayaan Tahun Baru Imlek, salah satu waktu tersibuk untuk berlibur di negara itu.

“Kami menyarankan agar semua orang yang ingin melakukan perjalanan ke Tiongkok atau negara-negara lain yang terkena dampak virus Corona menunda rencana perjalanan mereka,” menurut edaran baru yang dikeluarkan oleh Kepulauan Marshall.

“Ini adalah situasi yang berubah pesat, ada perkembangan baru setiap hari,” kata Niedenthal. Meskipun AS dan negara-negara lain telah memulai pemeriksaan kesehatan di bandara, “tidak ada cara untuk benar-benar memeriksa virus Corona,” katanya.

Niedenthal menjelaskan di samping konsultasi meluas dengan staf medis di Kementerian Kesehatan dan dengan pejabat tingkat tinggi dari berbagai kementerian pemerintah, ia dan pejabat kementerian kesehatan lainnya juga berkonsultasi dengan pejabat WHO sebelum mengeluarkan pembatasan tersebut. “Kita dibantu oleh pengacara WHO,” tuturnya.

Kepulauan Marshall sudah dinyatakan dalam keadaan darurat kesehatan masyarakat sejak Agustus lalu akibat wabah DBD yang telah mencapai lebih dari 2.100 kasus pada awal pekan ini. Kepulauan Marshall juga mengalami wabah influenza pada November dan Desember, yang menyebabkan ratusan orang dirawat di rumah sakit. Pada November, Kementerian Kesehatan juga telah meningkatkan jangkauan imunisasi campak sebagai respons terhadap wabah campak di Samoa dan di beberapa negara Pasifik lainnya.

“Kepulauan Marshall tidak mampu menghadapi empat wabah sekaligus,” tegas Niedenthal.

Sementara itu Post-Courier melaporkan karena tingginya jumlah pengunjung Tiongkok ke PNG, Pemerintah PNG sudah memulai persiapan kesiagaan darurat virus Corona pada hari Senin pekan ini. Pemerintah Samoa pun sudah mulai memperketat pemeriksaan di bandara utamanya. (RNZI)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top