Follow our news chanel

Corona mengajak orang Papua berkebun

covid-19
Ilustrasi - Jubi/Pixabay.com
covid-19
Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com

Oleh: Benny Mawel

World Health Organzation (WHO), para kepala negara, termasuk Indonesia hingga anak sekolahan, ibu rumah tangga, berbicara sosial distancing, physical distancing dengan kerja, belajar dan berdoa di rumah demi menjaga jarak untuk mengatasi penyebaran dan kematian orang akibat Covid-19.

Sebagian orang sudah mulai taat pada anjuran jaga jarak, tetapi ada yang “mati tempel sampe” tiap hari. Kita yang tidak taat dan masa bodoh masih terus berkelujuran, berkumpul, baku peluk dan bersalaman, yang menjadi satu kekhawatiran (bahwa) virus akan merajalela; kematian akan terus bertambah.

Sudah terbukti, setiap hari, kasus baru terus bertambah di dunia dan di Indonesia. Jumlah orang terinfeksi di Indonesia 514 orang, sembuh 29 dan meninggal 48 orang. Jumlah yang meninggal bergerak cepat daripada jumlah yang sembuh. Jumlah yang terinfeksi pun terus bertambah; mendongkrak angka kematian.

Karena itu, soal saya di sini, bukan mereka yang mulai taat dan bekeluyuran, jumlah yang terpapar dan mati, tetapi bagaimana dengan rakyat Papua yang mayoritas hidup dari bertani dan berternak.

Apakah dana otonomi khusus (otsus), dan dana pembangunan kampung yang menyambung kehidupan, ketika berpaling dari berkebun beberapa waktu lalu akan memenuhi kebutuhan orang asli Papua (OAP) saat krisis ini?

Orang asli Papua perlu bergumul khusus dan serius dengan ancaman itu. Ancaman ini bukan hanya kematian yang akan (dan sudah) terpapar dengan virus, melainkan juga mereka yang tidak terinfeksi. Orang yang tidak terinfeksi butuh makan saat ini dan ketika virus ini berlalu.

Loading...
;

Ancaman ini juga bukan hanya soal depopulasi, melainkan juga tentang eksistensi orag asli Papua usai virus ini berlalu. Orang asli Papua harus berpikir, melindungi diri hari ini, mempertahankan eksistensi Melanesia di West Papua di masa depan.

Karena itu, kita tidak bisa menanti dana otonomi khusus akan mengalir. Kita tidak bisa menanti dana pembangunan kampung. Kita menanti pun menjadi satu penantian atau harapan yang sia-sia. Kita bisa sakit dan mati dalam harapan kosong.

Lantas apa? Sistem kerjanya. Kerja dulu baru ada laporan. Laporan kerja menjadi pijakan pencairan dana. Syukur kalau kita sudah bekerja dan laporan kita sudah masuk dan sudah dalam proses pencairan dana saat krisis ini.

Anggaran yang cair pun, kita ingat, anggaran cair melalui jalan mana anggaran itu akan tiba di tangan kita. Karena, larangannya, pegawai harus kerja dan berdoa di rumah. Kontak fisik dengan sesama dan benda-benda mati yang berpotensi virus hidup dibatasi dalam beberapa jam.

Dengan demikian, kita semua harus mengisolasi diri, tidak boleh ada kontak fisik orang dengan orang. Kontak fisik harus kita hindari selama batas waktu virus ini menjadi ancaman. Karena menjaga jarak, mengisolasi diri adalah kunci memutus mata rantai perkembangan virus ini.

Kita juga tidak bisa berharap pada anggaran penangulangan wabah ini. Karena anggaran itu dimungkinkan lebih pada penanganan pasien. Pemerintah mengalokasikan (anggaran) untuk kebutuhan rakyat yang diisolasi pun tidak mungkin menjangkau 200 juta lebih penduduk di Indonesia.

Anggaran itu kemungkinan diperuntukan bagi rakyat yang kasusnya lebih parah dan sampai kepada mereka yang punya akses saja. Daerah sekitar ibu kota negara dan dekat dengan jangkauan pemerintah pusat akan lebih mudah (mendapatkan anggaran).

Kita di Papua, (meski) dengan berbagai upaya (oleh) pemerintah daerah, kita mungkin dapat. Kita dapat pun kemungkinan tidak bisa membeli dengan dua faktor.

Pertama, ancaman krisis ekonomi, dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika; Kedua, pasokan makanan selama lockdown atau social distancing berlangsung dimungkinkan berkurang. Atau persediaan ada tetapi pergi belanja bagi yang punya uang menjadi ancaman bagi orang serumah. Hanya harapan, yang pergi tidak membawa virus.

Lalu bagaimana jalan terbaiknya? Orang Papua mesti menempuh jalan balik. Orang Papua berbalik dari kantor pemerintah provinsi, kota/kabupaten, distrik dan kantor kampung (untuk) mengejar, menunggu anggaran bantuan atau belas kasihan, karena orang sudah tidak kerja di kantor lagi tetapi di rumah.

Kita tidak bisa ke rumah. Kita dilarang ke rumah, karena kunjungan kita menjadi ancaman bagi keluarga yang kita kunjunggi atau sebaliknya kita menerima virus; kita membawanya ke rumah kita.

Karena itu, kita harus memilih kembali ke rumah kita sendiri. Berdiam diri di rumah. Dari rumah, kita harus mulai arahkan kiblat ke lahan rumput yang luas, ke hutan sagu dan ke laut. Kita membangun jalan mandiri di kebun.

Kita mulai dengan duduk bersama dalam satu kamar dan satu rumah, merencanakan kemandirian kesejahteraan kita, bukan mencari dan mengundang tetangga untuk mendukung rencana keluarga. Kita mandiri untuk membangun rencana.

Satu rencana yang kita bagun itu. Rencana jalan ke dan dari kebun mandiri keluarga. Setiap orang, setiap keluarga dan serumah, bukan dengan tetangga, membangun jalan mandiri ke kebun. Jalan mandiri hanya milik seseorang, keluarga, dan serumah itu untuk pergi ke kebun dan pulang rumah.

Kalau sudah ada jalan, kita mesti mulai membangun pagar kebun, membersihkan lokasi kebun dari rumput dan pohon. Kita harus mengerakkan otot dengan mencangkul dan menanam nota, hom, pain, sayuran dan pangkur sagu serta tangkap ikan.

Kita mulai beternak, memberi makan ternak kita. Kita mulai memenuhi kebutuhan kita dari kebun sendiri. Untuk itu, kita mesti membangun komitmen ini dan taat melakukannya. Saya yakin dan percaya, kita tidak bisa mengatakan hidup dari sawah saja tetapi dari kebun keladi dan hutan sagu.

“Kita minum air dari sumur kita sendiri,” kata Gembala Socratez Sofyan Yoman.

Sudah jelas to? Kita berhenti ke kota, karena bertamu dan berkeluyuran, karena itu tidak membawa kehidupan tetapi membawa ancaman kematian bagi orang serumah.

Kita ke kebun di hutan yang luas, tidak akan membawa ancaman tetapi akan membawa berkat berlimpah bagi kehidupan diri sendiri, keluarga dan orang serumah.

Singkatnya dengan ke kebun, kita memberi harapan bagi eksistensi Melanesia, dan dengan ke kota dan keluyuran, kita turut mendukung kematian; habisnya etnis Melanesia di Papua. (*)

Penulis adalah jurnalis Jubi.co.id

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top