HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Covid-19 membuat manusia memulai gaya hidup baru

Papua
Ilustrasi perkembangan penyebaran virus korona - Pixabay.com
Covid-19 membuat manusia memulai gaya hidup baru 1 i Papua
Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com

Oleh: Inosius Kalakmabin

Yang tertinggal akan semakin tertinggal dan yang maju akan semakin maju.

Dalam perkembangan kehidupan, perubahan itu dinamis. Perubahan dalam bentuk apapun sifatnya bisa terjadi kapan saja, dimana saja dapat mengetahui kehidupan sosial manusia, termasuk perubahan sosial sesuai situasi perkembangan relasi sosial antarmanusia.

Covid-19 membuat manusia memulai gaya hidup baru 2 i Papua

Kini terjadi suatu perubahan dengan adanya pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) yang bermula di kota Wuhan, China, Desember 2019 telah menerobos keamanan kesehatan dunia dan menyebar ke seluruh pelosok kehidupan termasuk negara kita dan Papua.

Virus ini dikenal sangat mematikan dan memakan ratusan ribuan korban jiwa seperti yang kita ketahui bahkan ikuti bersama di negara-negara maju melalui media local, nasional dan internasional.

Oleh karena itu, beberapa upaya untuk menghindari dan mempersingkat penyebaran covid-19 mayoritas warga di seluruh Indonesia termasuk karyawan, pelajar, mahasiswa,  guru, dosen, bahkan pemerintah, pelayan-pelayanan sosial dan beragam instansi pun telah dirumahkan beberapa pekan yang lalu.

Maksudnya, bagi karyawan yang situasinya mendukung dapat bekerja dari rumah dan mereka yang situasinya tidak mendukung diberikan bantuan kebutuhan hidup selama di rumah,

Masyarakat mendapat bantuan dari pemerintah daerah masing-masing, para pelajar dan mahasiswa belajar online maupun offline, para guru dan dosen serta yang lainnya pun bekerja/beraktivitas di rumah, para pelayan Tuhan melayani jemaatnya dari rumah maupun lewat live streaming atau radio kalau di tempat yang tidak terjangkau oleh jaringan internet, bahkan pemerintah pun beraktivitas dari rumah.

Kurang lebih dua bulan hal itu berlangsung dan kita semua sama-sama merasakan bagaimana rasanya tinggal (beraktivitas, belajar, bekerja) di rumah.

Beberapa gambaran di atas menunjukan bahwa manusia sebagai makhluk sosial, makhluk pekerja, makhluk ekonomi dan makhluk religius sedang menuju habitus baru atau sebut saja tatanan hidup normal yang baru.

Awalnya semua jenis cara kerja lama yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya berubah total tanpa dibendung oleh kekuatan manapun termasuk kuasa pemerintah dan gereja.

Dalam menghadapi situasi hidup demikian, Apakah kita pernah berpikir dan menyadari bahwa kita sedang menuju suatu hidup baru ini? Akankah hidup baru ini berakhir usai covid-19 berhasil ditemukan vaksin? Ataukah dunia sedang mendorong pergerakan manusia masuk dalam zaman perkembangan teknologi?

Pengalaman baru ini bisa saja kita sebut seperti judul di atas bahwa covid-19 memulai gaya hidup normal yang baru. Salah satu contoh nyata adalah mengikuti misa atau ibadah hari Minggu dari rumah lewat live streaming yang sifatnya berupa media massa.

Saya adalah salah satu jemaat yang mengikuti misa live streaming dari rumah sampai saat ini.

Dari minggu pertama sampai Minggu Paskah III, saya telah mengikuti misa dan hal itu berjalan dengan suasana dan perasaan antara mengingatkan saya pada misa-misa di gereja seperti biasanya sebelum covid-19 atau perasaan dari situasi ini membuat saya merasa biasa walaupun ada perasaan, bahwa gaya hidup baru ini seringkali membuat saya tidak mengikuti misa dengan baik.

Tetapi pada Minggu kali ini (Minggu Paskah IV) di dalam jalannya misa tidak ada perasaan apa-apa yang muncul seperti biasanya karena berjalan biasa saja dan saya mengikuti misa dari awal sampai akhir dengan baik tanpa disertai perasaan lain. Saat itu menyadarkan saya bahwa Anda sudah memasuki kebiasaan atau gaya hidup yang baru. Hidup lama akan menjadi kenangan dan memasuki hidup baru dengan waktu yang cukup lama.

Mungkin pengalaman seperti ini sudah dan sedang dirasakan oleh semua orang, termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini, bahkan di seluruh tanah air.

Pengalaman hidup baru ini juga sedang menuntun siapa saja termasuk mereka yang berkecimpung dalam bidang pendidikan.

Kita baru saja mendengarkan hasil kelulusan SMA pada 4 Mei 2020, bahkan proses belajar mengajar dari SD sampai perguruan tinggi, yang terjadi adalah pembelajaran berlangsung secara online di rumah bagi daerah yang jaringan internetnya tersedia (terjangkau).

Sedangkan mereka yang belajar offline di rumah bagi daerah yang jaringan internetnya kurang bagus bahkan lebih khusus di daerah-daerah pedalaman seperti sekolah-sekolah di pedalaman Papua sudah diliburkan.

Bayangkan jika situasi seperti ini berlangsung hingga tahun 2021 bahkan lebih. Hal itu pasti akan terjadi perubahan yang signifikan drastis sebelum vaksinnya ditemukan.

Saya tidak berdoa ataupun mengharapkan hal seperti itu terjadi karena saya juga bosan di rumah terus, tapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa bagaimana dengan pemerataan pendidikan di tanah air kalau situasi ini terus berkembang?

Sebagian daerah yang jaringannya terjangkau sedang belajar lewat online, sedang di pedalaman diliburkan.

Artinya yang tertinggal akan semakin tertinggal dan yang maju akan semakin maju sehingga impian pemerataan pendidikan di tanah air pun akan semakin sulit terjangkau.

Memang situasi ini tidak bisa kita abaikan begitu saja, tapi dalam situasi seperti ini pula kita wajib memikirkan juga tentang apa yang akan terjadi di balik covid-19 ini, dan bagaimana pengaruhnya bagi tanah air kita ke depannya.

Di sinilah akan muncul perbudakan gaya baru dengan bentuk pemerintahan baru muncul yang dipimpin oleh satu kekuasaan. Anda boleh berpikir bahwa tanah, kayu, emas, ikan, air sungai, lautan dan alam kekayaan yang ada di daerahmu adalah milikmu,

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik orang Indonesia dari Sabang-Merauke. Di sini saya mengingatkan kepada kita bahwa hidup dan mati bangsa Indonesia di tangan Bank Dunia dengan volume hutang negara yang terlilit kebebasan,

Hidup dan matinya bangsa Papua juga ada di tangan Indonesia yang terlilit dugaan pelanggaran HAM dan seterusnya tiada terputus.

Jika kita memandang keluar (secara internasional) tentu saja situasi seperti ini bisa dibilang, bahwa kehidupan sedang mempersingkat dan menghantarkan manusia di dunia menuju Revolusi Industri 4.0 yang tentunya akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku, serta hubungan antarmanusia yang berbeda dari latar belakang budaya, bahasa, agama, daerah dan negara seperti halnya saat ini.

Kalau dipikir-pikir hal ini memang tidak termasuk dalam penulisan ini, tapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa setiap ada hujan deras pasti ada banjir dan longsor (ada pelangi sehabis hujan). Karena cita-cita bangsa kita sudah menuju ke sana (Industri 4.0) untuk beberapa tahun mendatang.

Oleh karena itu, mau dan tidak kita sudah pasti masuk dalam orang-orang yang akan berpengaruh bagi tanah air kita pada masa yang akan datang.

Itu artinya dalam situasi apa pun kita harus tetap konsisten pada tugas dan kewajiban kita masing-masing sambil mengikuti perkembangan situasi yang sedang kita lewati ini.

Situasi seperti ini juga cocok untuk menggambarkan apa yang akan terjadi di kemudian hari setelah memasuki masa atau peradaban industri 4.0.

Pasti di daerah yang tertinggal dalam bidang apa saja akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan, dan itu akan menciptakan peluang bagi bangsa lain yang sudah siap untuk menguasai daerah tertinggal dengan strategi yang tidak kita ketahui.

Dalam pendidikan seperti sekarang covid-19 membuat sebagian besar daerah yang jaringannya terjangkau, anak-anak, pelajar sampai mahasiswa belajar online di rumah, sedangkan di daerah-daerah yang jaringan internetnya tidak terjangkau seperti Papua hanya beberapa tempat saja yang bisa ikut belajar online, dan pedalaman Papua pasti sudah diliburkan.

Bayangkan betapa tertinggalnya dalam dunia pendidikan seperti di pedalaman Papua maupun seluruh Papua semakin lama semakin jauh.

Dengan demikian, secara sumber daya manusia kita tidak dapat menghadapi zaman industri 4.0 yang sedang mengiringnya.

Singkat kata bahwa dengan adanya wabah covid-19 sedang membawa kita kepada gaya hidup normal yang baru, yang tak pernah terbayang dan itulah kedinamisan hidup sosial.

Perubahan berskala kecil maupun perubahan berskala besar akan terus terjadi kapan saja selagi langit dan bumi masih ada, yang pasti kita harus tetap waspada dengan membangun kesadaran dengan serius menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi dengan akal budi yang waras.

Karena setiap perubahan pasti ada dampaknya baik dampak positif maupun dampak negatif. Apa yang sedang kita alami baik suka maupun duka kita harus terima kenyataan yang ada dan mencari solusi bersama.

Kita semua berharap pandemi ini bisa ditangani secepat mungkin dengan apapun caranya. Karena itu tetaplah waspada tentang wabah covid-19 dan dampak yang akan terjadi di balik covid-19, baik dari aspek pemerintahan, agama, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lainya.

Dengan demikian, zaman berubah dan kita pun berubah karenanya. Entah siapa pun, dimana pun, kapan pun tuntutan zaman sudah di depan mata. Tiada kata yang benar, tiada perubahan yang benar, tiada orang benar yang mampu membendung perkembangan zaman.

Hanyalah pendidikanlah yang mampu membuka mata, hanya pendidikanlah yang membuka wawasan dan menjadikan kita manusia.

Tanpanya kita hanyalah robot yang dipermainkan, kita termakan informasi hoaks dengan iman akan Tuhan dipertanyakan. Maka membangun kesadaran dan kembali ke alam, mengolahnya, menerapkan pendidikan budaya, bahasa, dan tradisi, menjadi utama sambil mengikuti perkembangan luar adalah tugas kita saat ini.

Jika tidak maka sikap ketergantungan kepada penguasa akan membawa malapetaka pada hidup manusia dan alam semesta. (*)

Penulis adalah mahasiswa Atma Jaya Yogyakarta asal Distrik Okaom, Pegunungan Bintang, Papua

 

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.