Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dampak pembatalan FBLB kepada hotel di Wamena 

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) tahun lalu – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pembatalan FBLB 2020 berdampak pada sektor perhotelan dan travel

Pengelola hotel dan agen travel mengeluh karena sudah ada wisatawan asing yang memesan hotel hingga penuh untuk menyaksikan Festival Budaya Lembah Baliem ke-31 pada Agustus 2020.

Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua, pada Rabu, 11 Maret 2020 mengumumkan secara resmi pembatalan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2020 yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Agustus 2020.

Banua mengatakan bahwa pembatalan dilakukan akibat dampak dari penyebaran Covid-19 (virus corona).

Keputusan pembatalan, kata bupati, diputuskan melalui berbagai rapat koordinasi dengan tim yang telah dibentuk untuk menangani covid-19 dan forum komunikasi pimpinan daerah.

“Karena setiap pelaksanaan FBLB banyak melibatkan wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Loading...
;

Akibat semakin menyebarnya virus corona, baik di sejumlah negara maupun di Indonesia, membuat pemerintah daerah khawatir akan menular kepada masyarakat di Jayawijaya.

“Setiap tahun FBLB banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama dari Tiongkok (Cina), maka dikhawatirkan hal itu akan berdampak kepada kami, lebih baik korbankan suatu even besar daripada banyak masyarakat Jayawijaya yang jadi korban,” kata Banua saat mengumumkan pembatalan FBLB di ruang kerjanya.

Pemkab Jayawijaya tidak hanya membatalkan FBLB yang tahun ini mestinya pelaksanaan ke-31 tahun, tapi juga mengeluarkan instruksi bupati untuk sementara Jayawijaya tidak dapat dimasuki wisatawan mancanegara.

Pembatalan tersebut mendapat tanggapan beragam dari pelaku wisata yang selama ini melayani wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) tahun lalu – Jubi/Islami

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Jayawijaya, Adi Chandra,  mengatakan dampak dari pembatalan FBLB tahun ini sangat besar bagi perhotelan di Jayawijaya dan juga pariwisata.

“Selama ini kami hidup dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Wamena, jika pemda membatalkan FBLB ini sangat berat bagi kami, namun karena ini menyangkut jiwa, kami berharap ada solusi lain, artinya mungkin ada peralatan pendeteksi virus corona untuk para tamu yang datang ke Wamena,” katanya di Wamena, Kamis, 12 Maret 2020.

Adi Chandra yang juga pemilik Baliem Pilamo Hotel menyebutkan semua kamar hotelnya telah di-booking menjelang FBLB.

“Artinya sudah 100 persen okupansi untuk Agustus nanti, untuk itu selaku ketua PHRI Jayawijaya saya berharap ada solusi dari pemerintah daerah Jayawijaya terkait hal ini,” ujarnya.

Artinya, tambahnya, jangan langsung dibatalkan sehingga perlu dilihat lagi beberapa bulan ke depan sambil melihat kondisi terakhir perkembangan virus corona, sehingga rencana FBLB dapat berjalan kembali meski dengan keterbatasan.

“PHRI mendukung apa yang dilakukan pemerintah daerah, hanya sekiranya perlu ada solusi bagi para pengusaha perhotelan karena khusus bagi kami di Baliem Pilamo Hotel sangat merasakannya,” katanya.

Eksekutif Asisten Manager Grand Baliem Hotel Wamena, Agustina Ika Safitri Dewi, mengatakan sejauh ini sekitar 50 persen kamar di hotel tersebut telah dipesan wisatawan yang hendak menyaksikan FBLB. Sebagian besar adalah wisatawan dari Eropa.

“Meski di satu sisi kebijakan Pemda Jayawijaya untuk tidak menggelar FBLB tahun ini dianggap merugikan hotel dan penginapan di Wamena, di sisi lain kebijakan tersebut ada baiknya untuk melindungi masyarakat Jayawijaya dari Covid-19,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Fred Huby, pengelola Hotel Green Wesaput. Menurutnya pembatalan FBLB 2020 bila perlu ditinjau kembali, karena FBLB merupakan even internasional tahunan sehingga tidak bisa begitu saja dibatalkan.

“Ini memang wabah penyakit, tetapi kalau bisa dalam event nanti hanya menerima tamu lokal, tidak menerima wisatawan mancanegara, namun event-nya tetap dilaksanakan karena kalau dibatalkan selaku salah satu pengelola hotel di Jayawijaya ini saya merasa rugi,” katanya.

Apalagi, katanya, pada Agustus banyak tamu yang berkunjung ke Wamena, karena itu ia meminta pembatalan ditinjau.

Demianus Wasage, pengelola agen travel Track Papua Tours and Travel, berpendapat kebijakan Pemkab Jayawijaya adalah langkah yang tidak tepat dan terkesan sangat berlebihan dalam menyikapi virus Corona.

“Hingga saat ini sudah ada sekitar 20 wisatawan mancanegara yang telah menghubungi untuk menyaksikan perhelatan FBLB tahun ini, kalau ini dibatalkan apa yang akan dijelaskan ke mereka,” katanya.

Menurutnya siapa pun wisatawan yang akan datang pasti telah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan mereka, mulai dari bandara awal di negara masing-masing hingga sampai di Sentani sebelum masuk ke Wamena.

“Kalau memang mereka terindikasi corona pasti akan ditahan pihak imigrasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat, makanya pembatalan FBLB sangat merugikan kami,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya, Alpius Wetipo, mengatakan setelah resmi dibatalkan maka surat bupati nantinya akan disampaikan ke Dinas Pariwisata Provinsi Papua dan kementerian.

“Mengenai koordinasi dengan biro perjalanan maupun perhotelan apakah sudah ada yang mem-booking untuk FBLB atau tidak akan dilihat lagi, karena penyebaran virus corona ini cepat sekali sehingga pemda pun harus bergerak cepat mengantisipasinya,” kata Wetipo.

Ia menambahkan dana yang telah diplot untuk FBLB 2020 sebesar Rp7 miliar, baik untuk promosi, kegiatan utama, maupun karnaval.

“Apakah akan dialihkan atau seperti apa, tergantung bupati, yang pasti di APBD Perubahan nanti akan dibahas lagi, karena dari anggaran yang tersedia kemungkinan hanya bisa digunakan untuk karnaval saja,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top