Follow our news chanel

Dampak penggunaan bahasa Bislama di sekolah-sekolah Vanuatu dipertanyakan

Siswa dan guru dari Sekolah Dasar di Ambae Barat. - DVU/Oceania Football Confederation (OFC)
Dampak penggunaan bahasa Bislama di sekolah-sekolah Vanuatu dipertanyakan 1 i Papua
Siswa dan guru dari Sekolah Dasar di Ambae Barat. – DVU/Oceania Football Confederation (OFC)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Howard Aru

Bahasa membentuk pikiran.

Bahasa Bislama telah diresmikan sebagai salah satu dari tiga bahasa resmi yang digunakan di Vanuatu, dan sebagai ‘bahasa nasional’ Republik ini. Kebijakan Policy Objective number IV dari Vanuatu National Language Policy (VNLP) yang disahkan pada 2012, menjunjung tinggi keharusan untuk mendukung penggunaan bahasa daerah setempat dan Bislama, bahasa nasional kita.

VNLP itu sarat dengan penggunaan ‘Bislama’ sebagai bahasa alternatif dari bahasa daerah kita. World Atlas menempatkan Vanuatu sebagai negara dengan keanekaragaman bahasa terbesar kedua di dunia. Apa yang digambarkan fakta itu tentang pendekatan kita terhadap bahasa lokal di sekolah-sekolah? Intinya adalah, kita harus menemukan bahasa yang memiliki kualitas yang dimiliki kita semua di Vanuatu.

Dan Bislama telah menawarkan solusi bahasa yang siap pakai. Sudah seharusnya para guru untuk menggunakan Bislama dalam proses belajar-mengajar dengan siswanya, daripada dalam bahasa tradisional. Dan ini tampaknya merupakan jalan yang ditempuh oleh sebagian besar sekolah kita.

Pada awal Juni 2017, Kepala Sekolah Central School (CS), Paul A. Hetyey, berkomentar tentang betapa pentingnya, dan mengapa, CS telah memulai ‘Hari Bahasa Daerah’ yang dirayakan setiap tahun. Dia mendesak sekolah-sekolah lainnya untuk mempromosikan bahasa-bahasa daerah, dan menekankan bahwa jika bahasa kita punah, budaya kita juga punah.

Loading...
;

Hal yang menonjol dalam pidato Kepala Sekolah itu adalah saat ia berkata bahwa ‘bahasa-bahasa lokal itu terancam oleh Bislama’, seperti dikutip dari artikel Daily Post pada tahun 2017, ‘Desakan agar sekolah-sekolah mempromosikan bahasa lokal’.

Kita bisa mengatakan bahwa tidak hanya bahasa daerah yang tergeser oleh Bislama, tetapi bahasa Inggris dan Prancis juga sama-sama terancam.

Satu sekolah swasta yang semakin populer di ibu kota saat ini, juga telah mengambil keputusan untuk tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai medium untuk mentransfer pengetahuan kepada para siswanya. Banyak individu berjabatan tinggi (bahkan dari sektor pendidikan), telah menempatkan anak-anak mereka di sekolah ini karena mereka tidak sepenuhnya setuju bahasa ‘hafkas’ ini – Bislama – digunakan sebagai bahasa yang digunakan dalam proses belajar-mengajar setiap hari.

Penggunaan Bislama sebagai bahasa sehari-hari di sekolah telah memicu berbagai perdebatan sengit di dalam sektor pendidikan, terutama sekarang ini, karena dampak dari kebijakan ini mulai terungkap, setelah ia diperkenalkan ke semua sekolah negeri sekitar 5 tahun yang lalu. Perdebatan masih sangat terbatas di pemerintahan. Pejabat-pejabat dalam Pemerintah (Kementerian Pendidikan atau MoE) terus mempertahankan dan membela keputusan itu.

Dan reaksi ini memang seperti yang diharapkan. Mereka harus melakukan hal ini sebagai bagian dari kesetiaan mereka kepada negara, dan mereka harus terlihat menjunjung tinggi ‘kebijakan pemerintah’. Namun apakah mereka, sebagai individu, sepenuhnya mendukung putusan itu, adalah pertanyaan yang lain.

Menyaksikan kecemasan yang terus berkembang, bukankah ini saatnya kita dengan serius meninjau keefektifan dan dampak dari kebijakan itu?

Kita telah sepakat untuk menerapkan kebijakan ini secara massal selama beberapa tahun, di seluruh pelosok negeri, tanpa terlebih dahulu melakukan uji coba di bawah kondisi yang sangat ketat, untuk menilai dampaknya bagi anak-anak yang nantinya perlu lulus ujian, masuk universitas, wisuda, dan, yang lebih penting, meyakinkan pemilik-pemilik usaha dan mencari pekerjaan di pasar kerja, di mana mereka harus membuktikan bahwa mereka memiliki kompetensi tingkat tinggi dalam membaca, menulis, berbicara, bekerja dengan seluruh dunia, dan terlibat dalam diskusi dan negosiasi dengan orang lain di luar perbatasan Vanuatu, dalam bahasa Inggris atau Prancis, bukan Bislama.

Kita mendengarkan dengan setia saran yang kita terima dari konsultan asing dan mereka yang disebut ‘pakar’, dan meluncurkan kebijakan itu secara nasional, tetapi gagal untuk mengkontekstualisasikan ide itu sepenuhnya dalam lingkungan Vanuatu yang unik.

Kita membiarkan penasihat asing, yang tidak pernah mengajar di ruang kelas Vanuatu, yang tidak mengerti apa yang sebenarnya salah dengan bahasa Bislama, dan dampaknya pada pemikiran anak-anak kita, untuk menginstruksikan apa yang harus kita lakukan. Sekarang kita yang mendengarkan berbagai keluhan dan tantangan. Sementara para konsultan itu sudah menerima bayaran mereka dan pergi.

Seorang staf pendidik lokal baru-baru ini berkata bahwa jika kita tidak berhati-hati, kita akan ‘membunuh satu generasi anak-anak kita’ yang telah menjadi korban kebijakan ini.

Keberhasilan dalam menggunakan bahasa daerah di negara lain tidak bisa menjadi tolok ukur, untuk membenarkan kebijakan yang sama persis untuk digunakan di sini, di Vanuatu. Kita semua telah belajar dari dampak buruk kebijakan yang serupa, di bidang lain, sebelumnya. Berkali-kali mereka gagal karena alasan yang beragam.

Konteks yang tidak sesuai adalah penyebab utama.

Bislama, dari semua bahasa di Republik ini, bukanlah bahasa ibu siapa pun di Vanuatu. Akar dari bahasa ini berasal dari pedagang asing, Tiongkok umumnya, yang mencoba berkomunikasi dengan masyarakat lokal saat berdagang beche-de-mer dan cendana, dalam sejarah masa lalu kita.

Ada kisah baru-baru ini, di mana seorang ibu meminta anaknya yang duduk di kelas 3 untuk mengeja satu kata tertentu dalam bahasa Inggris. Bocah malang itu tidak bisa melakukannya, namun ia bisa mengeja kata itu dengan benar dalam bahasa Bislama. Beberapa pihak mengamati bahwa pelafalan merupakan tantangan yang paling besar, terutama di sekolah negeri yang menggunakan Bislama sebagai bahasa pengajaran. Anak-anak sekolah tidak dapat melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan benar, karena mereka telah diajarkan untuk mengucapkan kata-kata itu dalam Bislama.

Pertanyaan kunci yang perlu diajukan saat ini adalah, apakah suatu studi untuk mengkaji dampak dari kebijakan ini telah dilakukan atau tidak? Satu survei yang dilakukan di Provinsi Shefa pada 2011 untuk menilai kemampuan literasi dan numerasi orang dewasa, Adult Language Literacy and Numeracy (LLN). Hasil survei itu menunjukkan bahwa ‘hanya 27,6%’ yang dapat diklasifikasikan sebagai melek aksara. Ini sangat mengkhawatirkan.

Bagaimana jika suatu studi yang tepat dilakukan, atas anak-anak sekolah, sejak diperkenalkannya bahasa Bislama? Kita tidak bisa menerima kebijakan begitu saja, terutama terkait pendidikan dan pekerjaan anak-anak Vanuatu ke depannya. Terlalu banyak yang dipertaruhkan. (Daily Post Vanuatu)

 


Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top