HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Dampak perubahan iklim di Samoa

Desa-desa di Samoa saat banjir pada awal 2018. - Samoa Observer/Misiona Simo
Dampak perubahan iklim di Samoa 1 i Papua
Desa-desa di Samoa saat banjir pada awal 2018. – Samoa Observer/Misiona Simo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Mata’afa Keni Lesa

Realitas di sekitar kita saat ini cukup mengerikan. Terjadinya fenomena air pasang king tides, banjir bandang, gempa bumi, hujan lebat, naiknya permukaan laut, dan ancaman terbentuknya badai siklon, saat ini bukanlah waktu yang paling baik untuk hidup di belahan dunia ini.

Dampak perubahan iklim di Samoa 2 i Papua

Namun jika kalian sedang mengunjungi pantai kita, dan kita tahu ada beberapa dari kalian yang berada di Samoa pekan ini untuk pertemuan terkait Uni Eropa (UE), African, Caribbean and Pacific Group of States (ACP), dan PBB, selamat datang di kenyataan hidup kami.

Jika kalian pernah meragukan bencana yang disebabkan oleh iklim dan pola cuaca ekstrem yang kita alami di belahan dunia ini, setelah ini kalian tidak akan pernah ragu lagi. Beberapa hari terakhir ini di Samoa, sudah cukup untuk memberi kalian kesempatan untuk reality check tentang kehidupan di sini, dan mungkin menyediakan bukti yang diperlukan saat mempertimbangkan jeritan yang terus-menerus disuarakan oleh pemimpin-pemimpin kita.

Tidak selamanya kita menjadi pulau surgawi dengan pohon kelapa yang bergoyang ditiup angin, minuman koktail eksotis, dan bentangan pantai yang indah.

Pada saat tulisan ini disusun, Senin malam (25/2/2019), suatu sistem depresi tropis dengan membentuk dan terus membesar, kemungkinan akan berubah menjadi badai siklon. Ini bukan ancaman pertama yang kita alami sejak Natal.

Loading...
;

Senin lalu, seluruh Samoa berubah menjadi bangsa yang hidup dalam ketakutan, dan untuk alasan yang sangat masuk akal. Kita sudah berkali-kali diterjang oleh bencana alam sehingga orang-orang sudah tidak tahan lagi. Banyak nyawa yang telah hilang, harta benda kepemilikan yang dihancurkan, dan seluruh komunitas dipindahkan, telah memakan biaya hingga jutaan tala yang seharusnya dapat digunakan untuk mengembangkan kehidupan dan meningkatkan peluang mereka.

Di belahan dunia ini, bukan hanya musim hujan dan siklon yang membawa keresahan dan keragu-raguan yang nyata. Perubahan iklim, meskipun terdengar klise, ini sangat nyata bagi kita.

Walaupun sebagian besar perhatian mengenai isu ini diarahkan kepada Kiribati, Tuvalu dan negara-negara kepulauan kecil lainnya yang sedang tenggelam ditelan laut, naiknya permukaan laut dan erosi daerah pinggiran pantai juga cukup mengkhawatirkan. Yang perlu kalian lakukan untuk mengamatinya hanya berkendara di pinggir pantai saat air pasang.

Beberapa insiden selama dua minggu terakhir yang telah dilaporkan oleh koran Samoa Observer menunjukkan bukti nyata. Minggu lalu, penduduk Desa Afega dan Lotoso Saleimoa menceritakan kekhawatiran mereka tentang betapa cepat naiknya permukaan laut, yang memicu rasa panik.

“Hal yang baru bagi kita melihat air laut naik setinggi itu,” kata Gauifaleai Patu dari Desa Lotoso Saleimoa. “ini adalah pertama kalinya saya melihat air pasang setinggi ini, dan kita bahkan bisa mendayung sampan, sampai di area di mana ada rerumputan. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan saat Siklon Evan (pada 2012), permukaan air laut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kita alami awal minggu ini.”

Ketika surat kabar itu mengunjungi keluarga ini, genangan air laut dapat dilihat di depan rumahnya.

“Ini tidak seperti apa yang pernah saya lihat di daerah kita, sejak saya tinggal di sini,” kata Peo Sione Faalelea. “seperti yang dapat kalian lihat dari puing-puing yang dibawa oleh terjangan air laut, air pasang itu melewati rumah kami, sampai ke pintu depan, sampai ke seberang jalan,” tambahnya sembari menunjuk ke arah jalan yang berjarak sekitar 8 meter, dari ambang pintu rumahnya.

“Kalau kalian lihat dapur kami di belakang, semua sudah dipenuhi air sampai batu-batu di belakang rumah. Apa yang terjadi pada Rabu dan pagi ini, sulit dipercaya. Lebih sulit lagi untuk dijelaskan, kecuali kalau kalian melihatnya langsung.”

“Saya takut nasib anak-anak. Saya takut kalau tidak di rumah bersama mereka, kemudian bencana datang dan kita tidak sampai di rumah tepat waktu, untuk menyelamatkan mereka.”

Minggu ini, satu kisah lain muncul di halaman depan Samoa Observer berjudul “Penduduk desa hidup dalam ketakutan”. Artikel itu menyoroti situasi memprihatinkan warga yang tinggal di sepanjang Desa Solosolo.

Di antara penduduk desa, ada Faumuina Sisilia Talamaivao (74) dan suaminya, To’omata Leota Talamaivao (80), keduanya telah hidup cukup lama untuk menyaksikan naiknya permukaan laut.

“Tembok laut atau Seawall ini dibangun pada 2008, sekitar 10 tahun yang lalu dan itu perlu diperbaiki. Itu mulai tenggelam karena semua batu sudah tersapu,” kata Faumuina. “yang membuat situasinya lebih buruk adalah karena di sini ada laut dan ada sungai juga di bawah sana. Jadi ketika hujan turun maka air sungai dan air laut meluap pada saat yang bersamaan, dan itu memperburuk situasi, seperti yang kalian lihat sekarang.”

“Kami khawatir karena situasi ini mengancam nyawa manusia, dan dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun hal ini bisa saja terjadi.”

“Tembok laut ini sudah mulai rusak karena persoalan yang sama. Tembok ini sudah bertahan selama beberapa tahun, tetapi ia tidak akan bertahan selamanya, bukan? Ia perlu perawatan dan itulah yang dibutuhkan saat ini, bahkan hanya beberapa batu saja bisa membuatnya lebih aman.”

Dalam jangka panjang, kita percaya warga Desa Solosolo ini akan memerlukan lebih dari sekadar beberapa batu untuk tembok lautnya. Mereka mungkin harus pindah ke daerah yang lebih tinggi. Tidak ada jumlah batu yang cukup untuk melindungi rumah-rumah ini. Hal terbaik yang dapat mereka lakukan sekarang – dengan bantuan pemerintah, tentu saja – adalah mempersiapkan diri untuk pindah.

Meskipun ini adalah ide yang menakutkan, tetapi ini adalah kenyataan hidup kita sekarang. (Samoa Observer)

 

Editor : Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa