Follow our news chanel

Previous
Next

DAP tegaskan tidak bertanggungjawab atas isu demo besar-besaran di Wamena

DAP tegaskan tidak bertanggungjawab atas  isu demo besar-besaran di  Wamena 1 i Papua
Tatap muka Forkopimda dengan komponen masyarakat di Jayawijaya menyikapi isu yang beredar di Wamena belakangan ini-Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Wamena, Jubi – Ketua Dewan Adat Papua atau DAP versi Kongres Luar Biasa, Dominikus Sorabut menegaskan, munculnya isu yang berkembang di Wamena saat ini, yang menyebutkan bahwa a akan ada aksi demo besar-besaran, bukan menjadi tanggungjawab pihaknya.

Sorabut menyebut, tujuh wilayah adat Papua sudah menyatakan pada 26 Agustus 2019 dalam aksi di kantor bupati Jayawijaya saat itu, untuk tetap meminta memulangkan mahasiswa Papua yang merasa terancam.

“Sebelum kita kerja dan mendapat hasil, kita tidak akan berbuat apa-apa karena fokus kita kerja untuk pulangkan mereka,” katanya kepada wartawan di Wamena, Senin (2/9/2019).

Isu yang sengaja dikembangkan, kata dia, tidak betul dan kemungkinan dibuat supaya Wamena ini tidak boleh aman dan tenang. Dia menyebut isu itu dibuat dan dikelola orang-orang tidak bertanggungjawab.

Bahkan ketika ia ikut dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh agama, tokoh gereja, tokoh masyarakat dan paguyuban, Senin sore ( 2/9/2019) di Sasana Wio kantor bupati Jayawijaya, dia menyebutkan jika demo berikut akan hasilkan kriminalitas. Akan muncul kebencian dan akan ada kelompok yang memanfaatkan situasi tersebut.

“Oleh sebab itu demo sudah cukup, ke depan karena aktor-aktor di Jakarta banyak, di Papua juga banyak sehingga isu rasisme ini diterima semua pihak, dan semua pihak mendorong dengan target politik masing-masing dan pada akhirnya terjadi konflik,” kata Sorabut.

Sebab itu ia berharap semua pemimpin di Papua mulai dari Gubernur, DPR Papua, MRP, bupati/wali kota, tokoh gereja duduk bersama kira-kira menyikapi persoalan Jakarta seperti apa, situasi fluktuasi konflik kriminal di Papua seperti apa.

Loading...
;

“Apakah kita lakukan rekonsiliasi atau seperti apa, karena demo ke depan itu orang sudah terkontaminasi oleh rasa ketakutan apalagi kebencian semakin besar dan ini peluang besar bagi orang lain,” katanya.

Ia juga mengaku isu yang beredar di Wamena sampai sekarang dewan adat merasa bingung siapa yang ciptakan, padahal aksi 26 Agustus waktu itu merupakan akhir dari segala aspirasi yang disampaikan dan tinggal menunggu tindaklanjutnya.

“Sekarang bagaimana ciptakan rasa aman, lalu bagaimana anak-anak yang ditahan dan ditangkap itu di Jayapura, Jakarta kemudian kena pasal makar karena situasi spontanitas yang terjadi, oleh sebab itu Jakarta juga harus sampaikan aktornya siapa di balik semua ini yang memainkan peran ini, hal ini yang harus dibongkar. Apalagi isunya sampai 5 September nanti akan ada aksi, itu tidak benar, apalagi ada yang bilang gubernur akan bicara di PBB, itu tidak benar,” tegasnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jayawijaya, Pendeta Esmon Walilo menyampaikan dia ia pun tidak mengetahui siapa yang melontarkan isu, sehingga menambah rasa trauma masyarakat yang ada di daerah itu.

“Semua orang curiga (pada) Dewan Adat, tetapi DAP juga sudah sampaikan jika memang mereka tidak bertanggungjawab dan tidak ada pikirkan seperti itu, sekarang yang perlu kita cari tahu ini pihak ketiga ini siapa,” ujar pendeta Walilo.

Ia melihat persoalan saat ini bukan masalah rasisme tetapi telah beralih ke isu Papua merdeka. Padahal, ini dua persoalan berbeda yang harus dibedah sehingga bisa menangkap pesan yang sebenarnya.

Apalagi kata dia, isu-isu yang berkembang di masyarakat di kampung-kampung jika 9 September nanti ada pembukaan sidang PBB. Sehingga, ada pihak mencoba bagaimana menggalang bagaimana membuat kekacauan situasi internal di Papua, sehingga kasus ini diangkat di PBB dan ini pikiran yang sedang berkembang di luar, namun siapa yang bicara ini, menurutnya tidak jelas.

Sementara itu, Ketua Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya, Pendeta Yoram Yogobi mengatakan peran gereja dan juga pemerintah dibutuhkan, untuk menenangkan masyarakat tentang situasi isu yang sudah berkembang ini.

“Setelah koordinasi dengan gereja di Jayawijaya, situasi di Jayawijaya aman. Tidak tahu juga siapa yang keluarkan isu demo ini, karena saya juga koordinasi dengan teman-teman DAP mereka sampaikan bukan datang dari kami, bahkan mereka juga menolak. Untuk itu, demo sudah disampaikan dan aspirasi sudah diterima, sekarang ini apa lagi yang mau di demokan, apalagi yang mau disampaikan, kita mau hanya daerah ini aman dan kondusif,” kata pendeta Yogobi. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top