Follow our news chanel

Previous
Next

Darah juga rezeki, harus dibagi

Ilustrasi kampanye donor darah – Jubi/pmi.or.id
Darah juga rezeki, harus dibagi 1 i Papua
Ilustrasi kampanye donor darah – Jubi/pmi.or.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

NAVIRIKA berupaya secepat mungkin tiba di Kota Nabire. Kehadirannya sangat dinanti. Seorang pasien mengharapkan transfusi dari darahnya.

Navirika harus menembus kegelapan malam dalam perjalanan sekitar dua jam dari luar kota. Dia menjadi harapan satu-satunya untuk menyelamatkan kondisi pasien.

“Kejadiannya beberapa tahun lalu. Saya menempuh perjalanan hingga dua jam untuk berdonor,” kata pemilik golongan darah B tersebut kepada Jubi, Jumat (3/5/2019).

Rasa kemanusiaan mendorong Navirika untuk berdonor walaupun dia sebelumnya tidak pernah mengenal calon resipien atau penerima donor darahnya. Rasa kemanusiaan pula yang mendorong Lenny Rumbrawer untuk berbuat serupa.

Rumbrawer pertama kali berdonor di Jayapura pada 1996. Seorang pasien di ruang perawatan intensif (ICU) membutuhkan transfusi darah. Dia mengenal pasien itu dari teman kuliahnya dan memohon Rumbrawer bersedia berdonor darah.

“Teman saya memohon karena sudah cari (pendonor) ke mana-mana, tetapi tidak dapat. Teman saya itu padahal juga bukan keluarganya,” kata perempuan berusia 40 tahun tersebut.

Loading...
;

Navirika dan Rumbrawer rutin berdonor setiap tiga bulan sekali atau pada saat ada pasien yang membutuhkan transfusi darah. Navirika sering kali dihubungi pada saat tengah malam oleh relawan atau keluarga pasien. Begitu pula Rumbrawer, dia kerap bergegas ke Unit Transfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Umum Daerah Nabire saat tengah malam.

“Saya sering berdonor untuk ibu yang mengalami kekurangan darah pascamelahirkan. Kadang tengah malam ditelpon teman atau keluarganya sehingga saya datang UTD,” kata Rumbrawer.

Krisis darah

Rumbrawer sering kali ditawari amplop berisikan uang, seusai berdonor. Pemberian dari keluarga resepien tersebut tentu saja ditolaknya dengan halus.

“Mereka lalu memberi susu dan kacang hijau. Saya jadi malu hati menerimanya,” kenang pemilik darah golongan A, tersebut.

Warga seperti Navirika dan Rumbrawer menjadi semacam dewa penyelamat bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah. Orang seperti mereka ada beberapa, tetapi terhitung langka di Nabire.

Fakta itu bisa dibuktikan dengan ketersediaan darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire. Resipien kerap kesulitan mencari darah buat transfusi.

RSUD Nabire rata-rata membutuhkan sebanyak 200-300 kantong darah untuk transfusi dalam sebulan.  Kebutuhan tersebut sering kali sulit dipenuhi karena minimnya pendonor.

“Sekali permintaan (kebutuhan) bisa capai 3-4 tabu (kantong) setiap orang. Jenis darah yang paling susah didapat ialah golongan AB,” kata Dokter Patologi Klinik di Laboratorium RSUD Nabire, Lanti Setiawati, beberapa waktu lalu.

Lanti mengatakan kesadaran masyarakat di Nabire untuk berdonor masih sangat rendah, padahal kebutuhan darah terus meningkat. RSUD Nabire bahkan sering membantu memenuhi kebutuhan darah di sejumlah klinik.

Jaga kebugaran

Pendonor darah harus berkesehatan prima saat hendak berdonor. Walaupun tidak memiliki kiat dan persiapan khusus, Rumbrawer selalu berupaya menjaga kesehatannya agar bisa terus berdonor darah.

“Istirahat yang cukup, menjaga pola makan, dan olah raga rutin. Terpenting, pikiran selalu happy,” kata Rumbrawer.

Pola makan juga selalu diperhatikan Navirika. Dia memperbanyak sayuran dan mengurangi konsumsi makanan berminyak serta daging merah. Selain itu, Navirika rutin berolah raga kardio untuk meningkatkan detak jantung. Minimal 30 menit setiap hari.

“Saya lakukan itu untuk menjaga kesehatan. Biar kondisi tubuh selalu fit dan memenuhi syarat untuk berdonor darah,” ujarnya.

Berdonor darah sejatinya juga menjaga kebugaran jasmaniah. Kurios B Duwiri merasakan sendiri manfaat tersebut.

“Saya sering mendonorkan darah. Setelah berdonor, badan menjadi enak sekali (terasa bugar),” ujar Duwiri.

Pernyataan Duwiri diamini Wahyu Diantoro, yang juga Koordinator Donor Darah Sukarela (DDS) Nabire.

“Berdonor darah tidak menyebabkan gemuk. Penyebab berat badan naik itu karena pola makan tidak teratur.”

Hal yang tidak kalah penting, donor darah juga dapat meningkatkan solidaritas dan kepekaan terhadap nilai-nilai sosial serta kemanusiaan. Mereka rela membantu bahkan memberi salah satu bagian paling berharga dalam kehidupan manusia.

“Darah dalam tubuh itu juga rezeki. Alangkah bagusnya jika dibagi,” ujar Rumbrawer. (*)

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top