Follow our news chanel

DAS Sentani bahas kepemilikan tanah 33,3 hektare

Ketua DAS Sentani, Demas Tokoro, saat menyerahkan dokumen kepemilkan hak ulayat kepada Marthina Wally - Jubi/Engel Wally
DAS Sentani bahas kepemilikan tanah 33,3 hektare 1 i Papua
Ketua DAS Sentani, Demas Tokoro, saat menyerahkan dokumen kepemilkan hak ulayat kepada Marthina Wally – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Dewan Adat Suku (DAS) Sentani membahas kepemilikan tanah seluas 33,3 hektare yang berlokasi di Jalan Raya Kemiri-Sentani, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Pembahasan ini penting untuk mengetahui pemilik ulayat, sebab tujuh hektare tanah itu dibeli Pemerintah Kabupaten Jayapura, untuk membangun perumahan bagi warga Kemiri terdampak banjir bandang 16 Maret 2019.

Ketua DAS Sentani, Demas Tokoro, mengatakan sidang digelar di Helebhey Obhe (pendopo Theys Eluay) Sentani, Rabu (24/7/2019), dan dihadiri sejumlah pihak yang tanahnya berbatasan dengan tanah yang disidangkan.

“Tanah adat ini bernama ponggeyum narombe, karena di seluruh Sentani tidak ada tanah yang tidak memiliki nama. Dan tanah ini sejak awal dimiliki oleh suku Rukhu Wabouw, dalam hal ini ibu Marthina Wally, yang mendapat kuasa dari kedua putra saudara kandungnya, yakni alm. Matheys Wally dan alm. Frits Wally,” katanya.

Dari kronologis kepemilikan hak ulayat ini, katanya, alm. Markus Ngundu Wally sebagai Kepala Suku Rukhu Wabouw (orang tua kandung dari alm. Matheys Wally, Alm. Frits Wally, dan Marthina Wally). Setelah meninggal dunia, pengelola hak ulayat dan jabatan sementara diberikan kepada Abraham Kallem/Felle, karena anak-anak kepala suku belum dewasa.

Setelah dewasa dan dinilai cakap secara adat, dilakukan prosesi penyerahan hak ulayat pada 14 November 1985, dari Matheys Wally sebagai Kepala Suku Rukhu Wabouw menggantikan mendiang ayahnya. Prosesi itu ditandatangani  alm. Oktovianus Pangkali (Ondofolo Rembu), alm. Yahya Felle (Ondofolo Niho), alm. Decky Felle (Ondofolo Relau), dan alm. Paulus Felle (Koselo Yahim), serta diketahui Decky Felle sebagai lurah Dobonsolo.

Loading...
;

Tanah yang menjadi persoalan saat ini oleh pihak lain, misalnya Ramses Felle, tidak sesuai dengan nama tanah adat dan kepemilikan berdasarkan suku.

“Jadi, tanah ponggeyum narombe berada di bagian bawah dan dekat dengan jalan raya, sementara yang diributkan masih berada di bagian atas dekat dengan kaki gunung. Oleh sebab itu, sangat jelas bahwa tanah ini adalah milik ibu Marthina Wally. Sebagai pemimpin adat saya sangat berharap agar setiap kepala suku, ondofolo atau ondoafi memiliki tanggung jawab dan dapat berperan secara jujur, adil, dan benar terhadap kepemilikan tanah di Sentani,” ujarnya.

Marthina Wally sebagai pemilik hak ulayat mengatakan tanah tersebut memang sudah menjadi milik suku Rukhu Wabouw sejak dulu. Kepemilikan hak ulayat ini diberikan kepada orang tuanya secara turun-temurun kepada empat bersaudara (dua perempuan dan dua laki-laki).

Tiga saudara kandung Marthina Wally meninggal dunia, sehingga tersisa dirinya bersama cucu yang mempertahankan hak ulayat.

Dalam dokumen kepemilikan hak ulayat (sertifikat tanah), ditulis, bagian barat berbatasan dengan tanah milik Decky Delle, timur dengan Oktovianus Pangkali, utara dengan Penehas Felle dan sebelah selatan berbatasan dengan jalan raya.

“Semua pihak ini telah menandatangani sertifikat tanah kami,” kata Wally. (*)

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top