Follow our news chanel

Data kasus positif korona harus diklasifikasi berdasar suku

Covid-19 Papua
Foto ilustrasi, pandemi Covid-19 di Tanah Papua - Jubi/ Leon
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi Papua diminta mengklasifikasikan data kasus positif korona berdasarkan suku dan daerah asal orang yang terinfeksi, demi memetakan sebaran virus korona di kalangan orang asli Papua. Pemetaan itu dinilai penting untuk meningkatkan kewaspadaan orang asli Papua terhadap bahaya penyakit Covid-19 yang disebabkan virus korona.

Desakan itu disampaikan warga Kota Jayapura, Laza Kurisi menanggapi 11 rekomendasi Majelis Rakyat Papua atau MRP terkait penanganan pandemi Covid-19. Butir ke-8 rekomendasi itu menyatakan “Dalam rangka pengawasan dan perlindungan orang asli Papua maka, Pemerintah Provinsi Papua setiap kali menyampaikan update Covid-19 Provinsi Papua harus mencantumkan klasifikasi orang asli Papua dan non Papua.”

Kurisi menilai rekomendasi untuk mengklasifikasi data kasus positif korona berdasarkan suku dan daerah asal orang yang terinfeksi itu penting untuk membangun kewaspadaan komunitas masyarakat adat di Papua. Data itu juga penting untuk menepis persepsi bahwa ada komunitas tertentu yang dianggap kebal virus korona.

“Covid-19 tidak memandang orang Papua atau non Papua. Kalau memang ada orang asli Papua yang meninggal karena Covid-19, harus disampaikan. [Begitu pula jika ada] orang non Papua [meninggal karena Covid-19], juga harus disampaikan, biar kita semua tahu,” kata Kurisi di Kota Jayapura, Jumat (5/6/2020).

Baca juga: MRP keluarkan 11 rekomendasi penanganan Covid-19 di Papua

Kurisi menyatakan pihaknya memahami Kode Etik Kedokteran yang mewajibkan dokter merahasiakan identitas pasien. Akan tetapi, Kurisi berpendapat klasifikasi data kasus positif Papua berdasarkan suku dan asal daerah tetap dapat dilakukan tanpa perlu menyebut nama pasien.

Kurisi menyatakan tanpa informasi berapa jumlah orang asli Papua yang telah terinfeksi virus korona, kewaspadaan masyarakat adat di Papua akan rendah, karena tidak tahu jejak dan persebaran virus itu ada di mana. Menurutnya kewaspadaan masyarakat adat baru akan terbangun jika mereka mengetahui informasi jumlah orang asli Papua yang terinfeksi virus korona.

Loading...
;

“Covid-19 ini bikin sibuk kita sekarang, tapi orang bisa pertanyakan kenapa data [orang asli Papua] yang meninggal akibat korona dirahasiakan, sementara [orang meninggal karena penyakit] yang bisa diinformasikankan lewat radio, televisi, dan koran,” ungkapnya.

Ketua MRP, Timotius Murib telah menyerahkan 11 butir rekomendasi MRP terkait penanganan pandemi Covid-19 dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Papua di Kota Jayapura pada Rabu (3/6/2020). “Dalam rangka pengawasan dan perlindungan Orang Asli Papua maka, Pemerintah Provinsi Papua setiap kali menyampaikan up-date Covid-19 Provinsi Papua harus mencantumkan klasifikasi Orang Asli Papua dan non Papua,” kata Murib membacakan butir ke-8 rekomendasi itu.

Ketua tim Covid-19 MRP, Yoel Luiz Mulait menambahkan permintaan untuk mengklasifikasi kasus positif korona berdasarkan suku itu tidak akan membuka jati diri dan identitas lain pasien. Permintaan klasifikasi itu lebih didasarkan kebutuhan MRP untuk menjalankan tugas dan wewenangnya memproteksi orang asli Papua. “Kejelasan data itu penting, supaya MRP juga memiliki data dalam [menjalankan tugas dan wewenangnya] melindunggi orang asli Papua,” kata Mulait kepada Jubi.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top