Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Daya beli di Jayawijaya menurun pascainsiden Wamena

Pedagang mama-mama Papua yang berjualan di Pasar Potikelek - Jubi/Islami
Daya beli di Jayawijaya menurun pascainsiden Wamena 1 i Papua
Pedagang mama-mama Papua yang berjualan di Pasar Potikelek – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Meski sudah tiga pekan kerusuhan di Wamena, 23 September 2019 berlalu, namun dampaknya terhadap aktivitas ekonomi di Jayawijaya belum kunjung pulih.

Sejak hari keempat setelah kejadian memang telah ada instruksi dari pemerintah daerah dan aparat keamanan di Jayawijaya agar masyarakat dapat membuka kembali tempat usaha mereka.

Daya beli di Jayawijaya menurun pascainsiden Wamena 2 i Papua

Merespons imbauan tersebut, para pelaku usaha pelan-pelan dan satu-persatu mulai beraktivitas, baik di dalam kota maupun di luar kota.

Dua pekan berjalan, dari pantauan Jubi, usaha kios, toko, dan bengkel di seputaran jalan Hom-Hom telah buka, meski memang masih bisa dihitung dengan jari.

Tetapi hingga pekan ketiga setelah kejadian, banyak pedagang yang mengeluh masih sepinya pembeli, baik di pertokoan hingga ke pasar tradisional.

Sedikitnya pembeli karena banyaknya orang yang memilih mengungsi dari Wamena, baik pedagang non-Papua maupun warga asli Papua.

Loading...
;

Data terakhir ada sekitar 17 ribuan orang memilih keluar dari Wamena, meski ada pula yang kembali sebanyak 336 orang.

Onal, pedagang Jalan Irian, Wamena yang ditemui Jubi, Sabtu, 12 Oktober 2019, mengatakan masih melihat situasi karena pembeli masih kurang.

Menurunya daya beli masyarakat juga diakui Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Jayawijaya, Semuel Munua.

Tiga hari setelah amuk massa, ia memantau sejumlah aviasi penerbangan dan mendapatkan informasi bahwa pedagang masih ragu mengirimkan barang ke Wamena dari Jayapura karena masih merasa khawatir.

“Sekarang pedagang sedikit kesulitan, mereka mau naikan barang tetapi pembeli kurang sehingga distribusi barang kurang berjalan, daya beli masyarakat berkurang akibat banyak masyarakat yang mengungsi,” kata Munua, akhir pekan lalu.

Untuk stok kebutuhan pokok, kata Munua, sebenarnya masih ada di Sentani.

“Hanya memang ada beberapa toko yang sedikit kesulitan mendapat angkutan,” ujarnya.

Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Jayawijaya, katanya, terus berkoordinasi dengan aviasi agar bisa menaikan barang untuk mengantisipasi Desember 2019 yang biasanya permintaan kebutuhan pokok akan meningkat.

Apalagi jika masyarakat kembali lagi dari kampung ke kota maka kebutuhan akan meningkat.

“Saya dari hari ketiga sudah berkoordinasi dengan aviasi supaya penerbangan tetap jalan, kalau tidak jalan satu dua hari saja sudah kelihatan kesulitan barangnya, namun saya lihat sementara ini tidak ada masalah, harga juga masih stabil,” katanya.

Semuel Munua juga memastikan jika sejumlah pasar tradisional di Wamena telah berjalan, seperti Pasar Potikelek yang pada hari ketiga pasca kejadian pedagang telah berjualan. Begitu juga Pasar Jibama, diakui Munua telah buka kembali meski belum normal seperti biasa.

Namun yang menjadi masalah di Pasar Sinakma, karena Pasar Wouma belum buka sama sekali.

“Karena dari informasi yang kami ketahui, pemilik ulayat yang juga pemilik pertokoan di dekat Pasar Wouma, Mapile Huby tidak menginginkan jika pasar dibuka kembali, karena menurut dia harus berurusan terlebih dahulu dengan pelaku pembakaran, baru pasar bisa dibuka kembali,” katanya.

Karena itu  mama-mama yang biasa berjualan di Pasar Wouma bergabung di Pasar Potikelek dan Sinakma.

“Di Sinakma sekarang sudah berjualan, Jalan Bhayangkara dan Kimbim terisi semua,” katanya.

Seorang perempuan yang berjualan sayuran di Pasar Potikelek, Lince, mengaku telah kembali berjualan sejak hari ketiga setelah amuk massa.

Ia mengaku tidak takut dengan situasi yang masih belum normal seperti biasa, karena menurutnya telah ada jaminan keamanan khususnya di pasar tersebut.

“Cuma sekarang ini masih ada mama-mama yang masih berjualan di pinggir jalan Irian, kami hanya minta semua bisa masuk kembali ke pasar Potikelek ini biar pasar ini ramai lagi,” katanya.

Menjawab hal itu, Kepala Disnakerindag tetap mengimbau agar mama-mama tersebut kembali ke dalam pasar, meski masih ada yang enggan kembali untuk sementara waktu.

“Ada satu-dua yang masih belum mau kembali, mungkin karena merasa masih sepi pembeli, tetapi kami sudah maksimal untuk mengimbau mama-mama ini kembali ke pasar potikelek,” kata Semuel Munua.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan Jayawijaya, Arisman Chaniago, menambahkan pihaknya telah meminta kepada tim pemecehan masalah angkutan bahan pokok Provinsi Papua untuk memprioritaskan atau memerintahkan kepada aviasi penerbangan kargo ke Wamena agar memprioritaskan angkutan bahan pokok kebutuhan masyarakat.

“Kita akui dampak dari kerusuhan ini para pedagang pemasok ini ragu-ragu mendatangkan barang dalam jumlah banyak, karena daya beli masyarakat menurun, jadi mereka merasa takut mengalami kerugian yang cukup besar,” ujarnya.

Namun, tambahnya, untuk menjaga kebutuhan pokok masyarakat distribusi barang setiap hari harus lancar, sebab pemasok tidak berani melakukan stok barang dalam jumlah banyak. (*)

Editor: Syofiardi

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top