Follow our news chanel

Dekati sampah dari panggilan hati

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PULUHAN seng berkarat mengitari sebuah lahan yang luasnya seukuran lapangan futsal. Di dalamnya, terdapat gudang berpapan kayu yang tak berpintu. Di gudang itu berkarung-karung sampah plastik dan kardus menggunung.

Gudang penampungan tersebut dinamai Bank Sampah Kenambai Umbai. Terletak di tepi jalan Kampung Jawa, sebutan masyarakat sekitar untuk Kampung Komba, karena dihuni oleh transmigran dari Pulau Jawa yang berdatangan medio 1980-an.

Di gudang, empat perempuan dan satu pria bergiat dengan karung-karung plastik, sementara tiga pria lainnya sibuk menyusun lipatan kardus. Hampir semuanya berparas ‘timur’. Mereka memilah sampah demi sampah dengan cergas.

Tak ingin mengusik kesibukan mereka, saya beranjak menuju rumah di depan gudang, hendak menemui pengelola Bank Sampah Kenambai Umbai, untuk beroleh informasi. Pengelolanya Farah Febriyanti (35) yang akrab disapa Mbak Wawa dan suaminya, Saiful (40).

“Ini panggilan hati. Saya dan suami mulai mendirikan bank sampah pada akhir 2011. Awalnya dinamai Bank Sampah Sejahtera Bersama," kisah Mbak Wawa, Selasa 22 Januari 2019, yang ketika saya temui sedang hamil tua, untuk calon anak ketiganya.

Pertama kali dibuka, mereka memiliki satu mesin pencacah untuk mengurai plastik dan satu motor pengangkut sampah. Belum ada pekerja yang membantu. Sepenuhnya hanya dikelola berdua, dari mulai mencari pemasok dan penjual plastik bekas kiloan.

Loading...
;

Enam tahun berjalan, pada 2017 mereka mendapat ide untuk mengajak kerja sama pemerintah setempat. Ada angin segar menyapa Mbak Wawa dan Saiful, saat pertemuan dengan pemerintah di Distrik Sentani.

"Akhirnya dari kerja sama itu, pada September 2017, Pemerintah Distrik Sentani membantu meluncurkan Bank Sampah Kenambai Umbai. Itu pengganti nama Bank Sampah Sejahtera Bersama," kata Mbak Wawa.

Berbagai sosialisasi dari pintu ke pintu, pendampingan penanganan sampah di setiap sekolah atau di kampung-kampung, kerap kali mereka lakukan. Hasilnya, beberapa guru sekolah atau pemerintah kampung, bahkan berinisiatif mengundang mereka.

Diakui Mbak Wawa, penuh tantangan untuk membangun kesadaran orang-orang yang terbiasa membuang sampah di sembarang tempat, setelah mereka menikmati minuman atau makanan dari kemasan plastik. Atau berbagai produk berkemasan plastik lainnya seperti oli, jeriken dan galon bekas.

"Ada sebagian masyarakat yang akhirnya paham bagaimana mengelola sampah, khususnya berbahan plastik, lalu mereka datang ke sini. Namun banyak pula yang belum sadar."

Saiful menambahkan, sekarang pekerjaan mereka menumpuk karena banyaknya sampah yang terkumpul. Hasil olahan plastik yang dipilah dan dicacah mencapai lima ratus kilogram setiap hari. Sementara yang berbahan kertas dan kardus sampai satu ton.

“Sepanjang 2018 saja, keseluruhan sampah ada 154 ton. Bayangkan sampah di luar sana yang tidak tertangani," katanya.

Sampah yang mereka beli dari pemasok untuk jenis kardus dihargai 900 rupiah per kilogram, lalu yang berbahan plastik 2.000 rupiah per kilogram. Selain itu ada masyarakat yang menabung sampah, menggunakan buku tabungan yang mereka terbitkan, dan uangnya bisa diambil kapan saja.

Hasil olahan per dua kontainer dikirim ke luar Papua. Untung yang diperoleh sekitar Rp 20 juta. Uang tersebut ditambahkan untuk menggaji 20 pekerja, yang per orangnya Rp 1,5 juta setiap bulan. Hitungan itu belum termasuk membayar listrik untuk operasional, dan tabungan sampah dari masyarakat.

“Walaupun sering tombok tapi tidak pernah terlintas di pikiran kami, untuk berhenti mengelola bank sampah ini. Kami punya usaha sampingan untuk menangani persoalan keuangan,” kata Saiful.

Saya kemudian menemui dua pekerja, Atha (29) dan Kristina (32), di gudang penampungan setelah mereka berehat. Keduanya berasal dari Flores dan telah berkeluarga. Tapi Atha mengaku belum memiliki momongan, sementara Kristina mempunyai anak berusia setahun. Mereka baru enam bulan bekerja. Sebelumnya mereka bekerja di sebuah warung makan di Kota Sentani.

"Pekerjaan di sini tidak terlalu berat dibandingkan di rumah makan," kata Atha.

Mula-mula mereka sempat pening karena dikelilingi sampah, meski tak serupa tumpukan sampah pada umumnya, karena kebanyakan hanya botol plastik dan kardus. Tapi seiring waktu mereka mulai terbiasa.

“Plastik dan kardusnya juga tidak begitu kotor. Kami hanya menyortir mana yang layak diolah," Kristina menimpali. Setiap hari, mereka bertekun sejak pukul 8 pagi, kemudian istirahat sejam pada tengah hari, berlanjut sampai pukul 4 sore.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Jayapura, Kris Kores Tokoro, mendukung penuh para pengelola Bank Sampah Kenambai Umbai. Apalagi Kabupaten Jayapura sebentar lagi akan melaksanakan ajang bergengsi Pekan Olahraga Nasional 2020.

“Ditambah Go Adipura juga," katanya, di Kota Sentani, di hari yang sama.

Terkait masalah sampah, Pemerintah Kabupaten Jayapura belum lama ini mencanangkan gerakan kebersihan massal. Kegiatan ini tak hanya berlangsung sehari, tapi terus dilakukan untuk kebersihan Kabupaten Jayapura, khususnya Kota Sentani demi meraih Adipura.

"Andil Bank Sampah Kenambai Umbai yang turut mendukung pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah, sangat kami harapkan," katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top