HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Demonstran di Senegal ricuh saat memprotes jam malam selama pandemi

Ilustrasi, pixabay.com

Aksi massa di ibu kota Senegal itu diikuti demonstrasi di kota suci Touba satu malam sebelumnya (2/6). Massa membakar sebuah mobil ambulans, melempar batu, dan menjarah perkantoran.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Touba, Senegal, JubiDemonstran di ibu kota Senegal, Dakar, membakar ban dan melempar batu ke petugas keamanan, Rabu malam (3/6/2020), saat berunjuk rasa menolak aturan jam malam yang telah diberlakukan sepanjang hari selama tiga bulan selama pandemi Covid-19.

Demonstran di Senegal ricuh saat memprotes jam malam selama pandemi 1 i Papua

Aksi massa di ibu kota Senegal itu diikuti demonstrasi di kota suci Touba satu malam sebelumnya (2/6). Massa membakar sebuah mobil ambulans, melempar batu, dan menjarah perkantoran.

“Anak muda menduduki jalanan setelah jam malam dan bentrok dengan polisi, (mereka) melempar batu dan membakar ban,” kata seorang warga di Dakar, yang meminta tidak disebut namanya karena alasan keamanan.

Baca juga : Demonstran dan polisi tewas dalam kerusuhan di Irak

Khamenei dukung garda usai kerusuhan jatuhnya pesawat

Loading...
;

Iran peringatkan negara-negara regional terkait kerusuhan

Beberapa unjuk rasa juga berlangsung di Kaolack, daerah yang berada di wilayah selatan Senegal, kata seorang pejabat setempat.

Kebijakan Pemerintah Senegal yang ditujukan menanggulangi pandemi tidak banyak dikritik warga, tetapi perekonomian negara itu terdampak cukup parah akibat adanya aturan jam malam dan larangan perjalanan antardaerah.

Otoritas setempat mencatat hampir 4.000 orang telah tertular Covid-19 dan 45 di antaranya meninggal dunia. Dakar dan Touba, pusat perdagangan dan tujuan ziarah utama di Senegal, jadi dua kota yang terdampak parah.

Aksi massa di Dakar dan Touba mengangkat persoalan yang dihadapi banyak negara di wilayah Sub-Sahara Afrika. Pasalnya, banyak kebijakan yang ditetapkan berdampak pada penghidupan jutaan warga yang bekerja di sektor informal sehingga akhirnya memicu ketegangan di masyarakat.

Seorang pengemudi taksi, Same Diop, memilih untuk mengemis di sepanjang jalan bersama supir taksi lainnya untuk menghidupi keluarga. Para supir taksi mengemis karena tidak dapat mengangkut penumpang dari Touba ke Dakar.

Sementara itu, jalanan utama di Touba pada Rabu dipenuhi dengan ban gosong dan ranting pohon akibat dari aksi massa, Selasa malam. Touba merupakan rumah bagi markas salah satu kelompok Muslim Sufi yang terkenal di Senegal. Salah satu pendiri kelompok itu dimakamkan di kota tersebut.

“Ini membuat kami takut,” kata pimpinan wilayah, Mansour Diallo saat ditemui tengah berdiri di samping kendaraan yang terbakar. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top