Di Distrik Mbua Kekosongan Tenaga Medis

Tim biddokkes Polda Papua bersama tim kesehatan di Distrik Mbua, ketika melakukan pengambilan sampel darah terhadap anak-anak di Mbua -Jubi/Islami
Tim biddokkes Polda Papua bersama tim kesehatan di Distrik Mbua, ketika melakukan pengambilan sampel darah terhadap anak-anak di Mbua -Jubi/Islami

Jayapura, Jubi – Sejak Satgas Kaki Telanjang meninggalkan Kabupaten Nduga bulan Desember lalu, tak ada pelayanan kesehatan lagi di Distrik Mbua, hal itu disampaikan tokoh intelektual Kabupaten Nduga, Arius Tabuni.
Dia mengatakan, daerah Nduga itu dingin sehingga  tim Kaki Telanjang tidak betah bertahan di sana.

“Petugas kesehatan yang sudah lama di Kabupaten Nduga sudah semestinya tinggal di sana,” katanya kepada Jubi, Selasa (2/8/2016).

Satgas Kaki Telanjang harus dikirim kembali ke Distrik Mbua, Nduga.

“Kami khawatir akan ada musibah lanjutan karena tidak ada pelayanan kesehatan yang baik,” katanya.

Dia berharap, pemerintah provinsi, dalam hal ini dinas kesehatan, dapat mengirimkan tenaga medis ke Distrik tersebut untuk mencegah lagi Kejadian Luar Biasa.

Kasus Mbua merupakan pelanggarah HAM dan kelalaian pemerintah, ujarnya. Ini juga dampak dari ketidakseriusan pemerintah dalam bidang kesehatan di Papua.

“Kami  akan menempuh langakah-langkah lain, meminta mantri dan suster, bersama para aktivis HAM serta gereja, mendesak pemerintah seriusi masalah kesehatan di Provinsi Papua, khususnya di Distrik Mbua,” tegasnya.

Loading...
;

Penyakit itu bisa kita cegah, katanya, “Ketika di Pulau Jawa kasus-kasus demikian terjadi, respon pemerintah cepat sekali, tetapi kalau di Papua lama. Ini sebenarnya  ada apa,” katanya dengan nada kesal.

Ditempat terpisah, Ketua Forum Independem Mahasiswa (FIM), Teko Kogoya, mengatakan kondisi kesehatan  dan tenaga pelayanan kesehatan di Papua masih minim.

“Mbua itu cermin terburuk pelayanan kesehatan di tanah Papua, sehingga pemerintah mesti cari alternatif lain agar pelayanan kesehatan dirasakan masyarakat Papua,” ujarnya.

November tahun lalu, sekitar 41 orang anak yang usia tujuh tahun ke bawah meninggal dunia, di Distrik Mbua. Wabah peyakit tersebut dianggap misterius, namun penanganannya terhambat oleh minimnya layanan dan fasilitas kesehatan di wilayah itu. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top