Follow our news chanel

Previous
Next

Dialog Jakarta-Papua: Sudah dikuburkan Indonesia, tapi perlu dicari dan dihidupkan lagi

Wakil Ketua Setara Insitute Bonar Tigor Naispospos (kanan) bersama Pater Dr. Neles Tebai saat memberi pendapat terkait masalah Papua - Jubi/tabloid-wani.com/Dedy Istanto
Dialog Jakarta-Papua: Sudah dikuburkan Indonesia, tapi perlu dicari dan dihidupkan lagi 1 i Papua
Wakil Ketua Setara Insitute Bonar Tigor Naispospos (kanan) bersama Pater Dr. Neles Tebai (alm.), 13 Oktober 2016, saat memberi pendapat terkait masalah Papua – Jubi/tabloid-wani.com/Dedy Istanto

Oleh: Demianus Nawipa

Pada kesempatan ini saya ingin menulis lagi sebuah jalan mencari perdamaian Papua melalui dialog, sebagai sebuah jalan panjang masa depan Papua di negara Indonesia yang selalu berkonflik.

Konflik-konflik negara Indonesia itu diawali setelah presiden pertama RI Soekarno berpidato dalam isi Trikora, di Yogyakarta, 19 Desember 1961 dan sampai sekarang terus terjadi bahkan sampai nanti. Bila tidak dicari solusi yang damai demi orang asli Papua (OAP) kedepan, tentu OAP akan punah di Indonesia.

Membaca buku dialog perspektif Papua

Walaupun saya tidak pernah berdiskusi atau tatap muka dengan Ketua Jaringan Damai Papua (JDP) mendiang Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai dengan konsepnya dalam buku “Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua”, saya sudah membaca bukunya berkali-kali bersama buku-buku sejarah Papua.

Saya membaca buku itu sejak tahun 2011. Saya juga dua kali mengikuti seminar tentang dialog yang dilaksanakan Universitas Papua (Unipa) Manokwari sejak tahun 2010 dan tiga kali mengikuti seminar dialog yang dilaksanakan oleh Interfidei dan perwakilan JDP di kota Yogyakarta sejak tahun 2015 dan 2017.

Saya juga sudah membaca buku itu dua kali pada Rabu, 6 Mei 2020, selama tiga jam. Setelah itu, muncul sebuah pemikiran untuk membaca buku itu dan menulis lagi. Oleh karena saya mengikuti selama dua bulan (April dan Mei 2020) ini, ada sebagian orang dari Indonesia dan Papua yang sudah dan sedang membicarakan dialog lalu dipublikasikan melalui berbagai media di Indonesia.

Loading...
;

Mereka yang berbicara tentang dialog itu adalah pihak yang pro dan kontra dengan pemikiran dan tawaran yang ditinggalkan doktor putra Papua lulusan Universitas Kepausan Roma, Italia itu.

Namun, apakah mereka semua sudah membaca buku konsep dialog itu dan buku sejarah Papua serta sejarah Indonesia? Soalnya saya memahami betul setelah saya membaca buku itu dengan baik.

Saya juga meragukan bahwa orang yang tanpa membaca dan memahami isi buku sederhana itu, lalu memiliki pandangan kontra tentang dialognya, bahkan tentu mereka akan keliru, apalagi tidak memahami sejarah dan akar masalah Papua, serta proses yang terjadi sampai saat ini di Papua dan ke depan secara benar dan teliti.

Itu tentu tidak akan paham benar, semacam orang berjalan ke dalam kegelapan tanpa lampu atau pelita.

Oleh sebab itu, saya menulis artikel ini agar konsepnya sama dengan Pastor Kebadabi Tebai atau kemampuannya melewati beliau, sebab setahu saya, setelah membaca bukunya lalu saya menganalisisnya, bahwa seorang “Kebadabi” telah menjadi PBB-nya orang asli Papua dan Indonesia serta beliau menawarkan sebuah tawaran perjanjian baru dari OAP sendiri kepada Indonesia dari 11 kali perjanjian yang pernah ada yang dibuat oleh bangsa lain tanpa melibatkan OAP dalam sejarah politik West Papua, seperti perjanjian antar bangsa Amerika, PBB, Belanda, Indonesia dan Australia (Canberra Agreement)”.

Jadi, saya memahami bahwa sebelum kita mengetahui dan memahami lebih jauh tentang Papua, kita harus saling mengetahui, saling percaya, bersatu dan saling mendukung, serta saling mengkader dalam berbagai kepentingan masa depan antarorang asli Papua, melalui jalan percaya diri dan jalan pendidikan yang bagus, bahkan beraksi atas pengetahuan yang matang, serta berdiplomasi yang melandaskan persatuan. Tentu tujuan perdamaian West Papua melalui jalan pembebasan itu akan kita wujudkan dan peroleh.

Pengkaderan mencari perdamaian Papua

Pengkaderan mencari perdamaian adalah sebuah jalan memberi motivasi dan semangat juang dalam berbagai kepentingan yang mempunyai suatu tujuan dan hasil yang pasti menemukan perdamaian abadi.

Namun, untuk mewujudkan tujuan tersebut harus disertakan dengan percaya diri, bersatu, konsisten dalam proses perjuangan yang panjang.

Proses yang saya maksud itu adalah proses perjuangan pembebasan dalam berbagai bidang, salah satunya pendidikan tanpa melupakan budaya dan sebuah ideologi sebagai warisan yang dipundakkan oleh generasi sebelumnya, demi mempertahankan dan mewujudkan impian tersebut.

Untuk itu, terkait dengan jalan mencari perdamaian bagi OAP di Papua, perlu memahami dengan baik sejarah Papua, sejarah politik Papua (proses aneksasi Papua ke Indonesia), segala kekerasan negara Indonesia yang selalu dilakukan oleh militer sejak 1962 sampai saat ini, bahkan perusahaan-perusahaan ilegal yang lagi beroperasi di Papua itu demi kepentingan negara. Bahkan, proses dan implementasi otsus yang tidak jelas dan tidak berhasil bagi OAP.

Otsus memang telah menghancurkan berbagai sendi hidup OAP, bahkan menjadi tidak berdaya di atas tanah warisannya sendiri.

Saya kira, kita sebagai generasi muda bangsa West Papua harus memahami lalu bersatu dan saling mendukung semua proses ini.

Kita jangan selalu mengharapkan orang asing datang membebaskan dan mendamaikan negeri kita. Oleh sebab itu, semua konsep yang OAP sudah benar-benar paham ini, harus tahu membedakan mana lawan dan mana teman kita.

Pengkaderan dalam bidang pendidikan sangat penting, khususnya bagi mereka yang pintar membaca, menulis, tahu berbahasa Inggris, dan mereka yang telah mengikuti proses pendidikan formal.

Itu semua menginvestasi masa depan untuk membangun perjuangan bangsa sesuai pemikiran dan harapannya demi mencoba dan mewujudkan impian bangsa Papua secara universal.

Dalam pengkaderan tersebut JDP harus punya berbagai program pengkaderan dalam mengedukasi tentang jalan mencari perdamaian Papua. Semacam program menyiapkan metode Kampung Inggris, dengan menyediakan salah satu kampung di Papua bagi generasi muda Papua, yang nanti dipandu oleh orang yang sudah tahu bahasa Inggris untuk mereka, dengan aturan sepanjang hari menggunakan bahasa Inggris.

Dalam tawaran itu, salah satu contohnya, para pemimpin JDP bekerja sama dengan beberapa bupati di wilayah adat Meepago, Lapago, Saireri, atau Domberai untuk mengimplementasikan itu.

Sebenarnya masukan ini, tidak layak saya cantumkan dalam tulisan ini, tetapi perlu ditulis lagi, karena saya pernah mendengar cerita Pastor Neles K.Tebai; “jikalau anak-anak generasi muda Papua sudah belajar bahasa Inggris dan tahu tentu semua persoalan terjadi ini bisa diketahui oleh bangsa lain menjadi sebuah pandangan edukasi bagi mereka.”

Kebadabi: Dialog sebuah perspektif Papua

Setelah saya membaca buku Pastor Kebadabi dari judul hingga harapan beliau bahkan ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris.

Saya kira OAP dan orang Indonesia yang punya buku itu sudah membacanya, tetapi juga perlu membaca buku sejarah dan memahami betul multi konflik di tanah West Papua.

Namun, dalam tulisan itu, pater menggunakan bahasa Indonesia lalu dibaca dan tidak dipahami itu memang keterlaluan, atau kalau sudah membaca dan memahaminya tetapi tidak menemukan tawaran baru di luar tawaran konsep dialog itu memang keterlaluan.

Lebih berbahaya lagi jika tidak membaca buku tersebut dan tidak pernah membaca buku sejarah West Papua, bahkan tidak mengikuti baik proses yang terjadi lalu mengkritisi yang tidak masuk akal, itu juga sangat memalukan dan bisa ditertawai oleh orang-orang yang sudah memahami konsepnya.

Memang benar bahwa mendiang Pater Neles sudah menyampaikannya dalam buku itu bahwasannya semua orang harus memahami tahapan dialog, yang dimulai dari dialog internal OAP, dialog warga Papua, dialog wakil-wakil orang Papua di dalam dan luar Papua, dialog wakil-wakil pemerintah Indonesia dan orang Papua yang difasilitasi pihak yang netral (organisasi internasional di tempat netral).

Namun, menurut saya dialog orang Papua, wakil-wakil Papua dalam dan luar negeri serta berdialog dengan negara Indonesia di dalam negara Indonesia sudah dikuburkan oleh Indonesia sendiri.

Oleh sebab itu, dialog antara negara Indonesia dengan OAP yaitu ULMWP-OPM-TPNPB perlu dan harus dilakukan sebagai dua pihak yang telah menjadi anggota di organisasi negara-negara Melanesia (MSG).

Jadi, saya berpikir bahwa dialog Jakarta-Papua sebuah perspektif Papua sudah harus dibangkitkan, dan terus ditingkatkan proses perjuangannya dengan diberi judul “dialogue Jakarta-Papua go to international” melalui MSG sampai ke Pacific Island Forum (PIF) kemudian ke PBB.

Dialog Jakarta-Papua perspektif Papua boleh dipertahankan di dalam negeri Papua dan di daerah-daerah lain di Indonesia. Tetapi bukan bertujuan untuk berdialog dengan Indonesia demi kepentingan pembangunan dan ekonomi, yang pasti akan memunculkan konflik baru lagi dari yang multi konflik yang ada sebelumnya.

Dialog Jakarta dan Papua sudah dikuburkan oleh Jakarta, maka tidak boleh berdialog dengan negara Indonesia tanpa melibatkan ULMWP dan Indonesia oleh pihak yang netral. (*)

Penulis adalah mahasiswa magister di salah satu universitas di Yogyakarta

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top