HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura ingin pastikan sekolah bebas dari rasisme

Para siswa SMP dan SMA Santo Thomas Antonius Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, berunjukrasa pada Senin (9/3/2020). - Jubi/Yance Wenda
Para siswa SMP dan SMA Santo Thomas Antonius Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, berunjukrasa pada Senin (9/3/2020). – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Ted Yones Mokay akan menemui para kepala sekolah di Kabupaten Jayapura untuk memastikan tindakan rasisme tidak terjadi di lingkungan sekolah. Hal itu dinyatakan Mokay di Sentani, Selasa (10/3/2020).

Mokay menyatakan kasus di SMP dan SMA Santo Antonius Padua Sentani tidak boleh terjadi di lingkungan sekolah manapun. “Dalam pertemuan dengan setiap kepala sekolah, saya akan sampaikan agar kasus di SMP dan SMA Santo Antonius Padua Sentani tidak terulang,” kata Mokay kepada Jubi.

Mokay menyatakan guru adalah seorang pengajar dan pendidik. Mokay menekankan guru harus mampu menjaga sikap, termasuk dalam mengucapkan kata-kata.

“Guru juga tidak boleh sembarang mengucapkan kata-kata seperti yang sudah terjadi. Hal itu akan saya sampaikan kepada [semua] kepala sekolah,” kata Mokay.

Mokay menyatakan kasus serupa pernah terjadi di sekolah yang lain, namun dapat diselesaikan setelah para pihak yang terlibat saling memaafkan. Ia berharap proses belajar mengajar di SMP dan SMA Santo Antonius Padua Sentani dapat berjalan kembali.

“Dengan kejadian ini, walau dalan tekanan, mereka [para guru] harus melaksanakan tugas mereka. Dan anak-anak [siswa] itu harus mendapat hak mereka dalam pendidikan. Apalagi [para siswa] kelas IX  dan kelas XII yang akan menghadapi ujian. Proses belajar mengajar harus tetap berjalan,” ucap Mokay.

Loading...
;

Kepala SMP Santo Antonius Padua Sentani, Fransina Hikinda mengatakan pihaknya pihaknya memiliki pekerjaan rumah pasca keputusan penonaktifan guru MGU yang diduga melontarkan ujaran rasis kepada siswanya. “Yang menjadi PR besar, kami akan kekurangan guru,” kata Hikinda.

Hikinda mengharapkan kasus tersebut tidak akan terulang lagi di sekolahnya, dan berharap persoalan tidak berkepanjangan. “Intinya kami pihak sekolah [yayasan] sudah memenuhi tuntutan dengan memecat guru tersebut,” kata Hikinda.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa