Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Diperkirakan lebih dari 338 warga tidak bisa pulang ke Merauke

Papua
Ilustrasi pesawat saat mendarat di bandara - dok. Jubi

Papua No.1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Penghentian jasa layanan penerbangan maupun pelayaran penumpang membuat banyak warga tidak bisa kembali lagi ke Merauke. Mereka tertahan di sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta, Makassar, dan Surabaya karena tidak ada moda transportasi udara maupun laut menuju Merauke.

“Terdata sebanyak 338 warga mendaftar untuk bisa pulang ke Merauke. Jumlahnya (warga yang tidak bisa pulang) bisa lebih dari itu,” kata Ketua Tim Pemulangan Warga Merauke Aloysius Dumatubun, Senin (8/6/2020).

Diperkirakan lebih dari 338 warga tidak bisa pulang ke Merauke 1 i Papua
Tim pemulangan membuka posko di sejumlah kota di Indonesia untuk memfasilitasi kepulangan warga ke Merauke, Papua. Mereka berinisiatif seperti itu lantaran tidak ada satu pun pihak yang dianggap peduli dengan permasalahan tersebut.

“Sejak Maret banyak saudara kita (warga) terjebak di luar daerah karena tidak bisa pulang. Namun, tidak seorang pun, termasuk DPRD dan Pemerintah Kabupaten Merauke memedulikan mereka,” ungkap Dumatubun.

Dia mengatakan tim mereka bekerja sama dengan pihak TNI Angkatan Udara dalam memfasilitasi pemulangan warga Merauke. Salah satu syarat yang diberlakukan ialah calon penumpang harus dipastikan dalam kondisi sehat saat berangkat.

“Itu harus dibuktikan dengan surat (keterangan) kesehatan. Setiba di Merauke, mereka juga harus menjalani 14 hari masa karantina,” jelasnya.

Persyaratan lainnya ialah calon penumpang atau warga yang hendak dipulangkan merupakan penduduk Merauke. Pembuktian itu harus disertai pelampiran salinan kartu tanda penduduk.

Loading...
;

Dumatubun memastikan mereka telah menyiapkan Hotel Swisbell, Hotel Corein, dan Hotel Akat sebagai lokasi karantina. Begitu pula dengan kesiapan pesawat pengangkut, dia mengklaim sudah ada jaminan dari Mabes TNI Angkatan Udara.

“Pesawatnya sudah siap, tetapi harus bekerja sama (berkoordinasi) dengan Pemerintah Kabupaten Merauke. Saya sudah hubungi Wakil Bupati Merauke, Komandan Lanud, Kepala Polres dan Komandan Kodim Merauke. Pada prinsipnya, (rencana pemulangan warga) direspon baik meskipun belum ada pertemuan langsung (dengan para pihak tersebut),” katanya.

Dumatubun belum bisa memastikan jenis pesawat yang akan digunakan. Menurutnya, itu menjadi kewenangan pemerintah setempat. Namun, dia mengatakan mereka hanya memfasilitasi pemulangan warga umum. “Pelajar dan mahasiswa yang berkuliah di Jawa maupun daerah lain tidak dipulangkan (dilayani pemulangannya).

Dia menambahkan setiap penumpang akan dikenai biaya selama menjalani 14 hari masa karantina. Untuk di Hotel Swissbell, setiap orang dikenai sebesar Rp550 ribu semalam. Tarif itu termasuk penyediaan sarapan pagi.

“Untuk dua hotel lain, tarifnya Rp300 ribu semalam. Mereka hanya disiapkan fasilitas tempat tidur, sedangkan alat mandi disediakan sendiri (oleh peserta karantina),” jelas Dumatubun.

Warga yang tidak bisa kembali ke Merauke akibat penghentian layanan penerbangan dan pelayaran penumpang selama pandemi covid-19, salah satunya ialah Istya. Perempuan berusia 40 tahun tersebut telah tertahan selama lebih dari dua bulan di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Merauke memulangkan kami. Saya sudah jenuh berada di daerah orang,” katanya Istya. (*)

 

Editor: Aries Munandar

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top