Follow our news chanel

Diskusi, jembatan dunia akademik dengan realitas

Diskusi dapat melatih ketajaman berpikir kritis, analitis, dan logis, serta dapat mempraktikkan teori yang sudah diterima - Jubi/pixabay.com
Diskusi, jembatan dunia akademik dengan realitas 1 i Papua
Diskusi dapat melatih ketajaman berpikir kritis, analitis, dan logis, serta dapat mempraktikkan teori yang sudah diterima – Jubi/pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Miquiel Takimai

Tulisan ini hanya sekadar catatan untuk mahasiswa Papua. Sebuah telaah untuk belajar menghubungkan dunia akademik dan penerapannya melalui diskusi–wadah untuk membiasakan diri dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

Persoalan kita dewasa ini

Menurut kacamata saya, selama ini kita telah membuat jarak antara jalan pikir dunia akademik dengan realitas. Bahkan, pada akhirnya membuat apa yang telah dipelajari tidak ada gunanya sama sekali di masyarakat.

Setiap universitas mendidik kita untuk bisa menerapkan ilmu pengetahuannya, tetapi kenyataannya jauh dari harapan.

Banyak mahasiswa (sarjana) yang beralih ke pemerintahan (birokrat). Salah satu faktornya adalah tidak tahu menghubungkan ilmunya dengan realitas.

Loading...
;

Hal ini merupakan fenomena yang diamati penulis, sehingga pembahasannya lebih pada penerapan ilmu di masyarakat.

Ribuan mahasiswa diwisuda setiap tahun, bahkan dari berbagai kampus tiap semester ada yang diwisuda. Namun setelah itu “hilang entah kemana”. Dalam arti ada yang bekerja dan sebagiannya menganggur.

(Mereka) Yang mendapat pekerjaan pun, banyak yang salah tempat. Akibatnya, seakan-akan gelar dibuang begitu saja.

Persoalan ini sangat serius. Tidak heran jika kita sering dijuluki sebagai kabupaten, bahkan provinsi dengan pertumbuhan sumber daya manusia yang lemah.

Jika hal ini terus-menerus terjadi, maka kita sedang mengalami masalah serius berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu tugas kaum terpelajar adalah mengajarkan secara sederhana kepada sanak saudara (setidaknya) dan kerabatnya, sehingga dapat diterima dan dicerna dengan baik oleh masyarakat. Hal itu membuat mahasiswa tadi maju selangkah di masyarakat.

Pada umumnya, kebanyakan kita takluk dengan wacana dan ikut arus dalam pemahaman masyarakat yang “standar”. Oleh karena itu, saya merasa bahwa salah satu hal yang bisa menjadi jembatan untuk bisa menghubungkan hal ini adalah melalui diskusi.

Diskusi rutin di dalam paguyuban akan melatih kita, terutama dalam memberikan pendapat, merespons komentar (memberi tanggapan), dan memberi kritikan.

Sejalan dengan itu, secara langsung maupun tidak langsung, kita akan mampu melihat keterkaitan atar-ilmu pengetahuan, dan menambah perspektif dalam menghadapi persoalan, serta sebagai pertimbangan saat memutuskan suatu masalah.

Memahami cabang ilmu pengetahuan

Pada dasarnya, ada tiga cabang ilmu dalam dunia akademik. Di antaranya, ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora.

Pertama, ilmu pengetahuan alam mengajarkan kita memahami hukum-hukum alam yang dirumuskan.

Pada dasarnya ilmu ini, mengarah kita kepada terapan di dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Kemudian, klasifikasinya dirangkum sedemikian rupa ke dalam berbagai jurusan sesuai kebutuhan.

Misalnya biologi diterapkan di dunia kesehatan, baik kedokteran maupun ilmu gizi. Fisika berkaitan erat dengan jurusan teknik. Entah itu jurusan geologi, sipil, teknik mesin, dst.

Dalam hal ini, pola pikir kita dirancang dalam dunia terapan. Bahasa akademiknya adalah metode eksperimental;

Kedua, ilmu pengetahuan sosial sebenarnya mengikuti konsep ilmu pengetahuan alam, tetapi pada dasarnya adalah mengamati realitas. Maka ketika mengerjakan tugas akhir kita harus benar-benar turun lapangan (penelitian).

Jadi, maksudnya adalah konsep yang diajarkan itu mengamati masalah yang sedang terjadi, dan kita melihat persoalan menurut salah satu tokoh atau konsep dalam pengamatan.

Ilmu-ilmu sosial melingkupi sosiologi, ekonomi, sejarah, dst. Kemudian penerapannya ke dalam berbagai jurusan, misalnya ekonomi politik, hubungan internasional, dst. Dalam hal ini, pola pikir yang mau ditekankan adalah observasi. Tentu saja, ini perumusan yang terlalu hitam-putih, tetapi saya rasa akan cukup memberikan kita pemahaman akan hal tersebut;

Ketiga, ilmu humaniora (kemanusiaan) yang membahas tentang kemanusiaan. Ilmu kemanusiaan melingkupi seni, sastra, jiwa (psikologi), agama, etika, dst.

Di sana kita dibekali untuk memahami manusia secara kejiwaan, tata cara bertindak atau aturan-aturan dan mengenai baik dan buruk, keindahan suara dan bunyi (sastra) kata.

Di dalam dunia akademik, tentu ketiga cabang ilmu ini berkaitan satu sama lain. Namun, sebaiknya saya menjelaskan buat mereka yang belum memahami. Hubungannya di mana? Salah satunya etika profesi, psikologi sosial, misalnya lebih spesifik lagi etika bisnis di dunia ekonomi.

Begitu pun dengan ilmu alam–memiliki etika dalam penerapannya. Salah satunya adalah etika lingkungan.

Pada saat ini klasifikasinya sudah semakin banyak, terutama yang dominan adalah ilmu pengetahuan sosial. Dengan demikian, jelas bahwa ketika diskusi bersama, diharapkan bisa saling bertukar pikiran antaramahasiswa dari cabang ilmu manapun, sehingga penerapannya nanti bisa berguna dan lebih tepat sasaran, terutama setelah studi.

Tentu saja, terlebih dengan mempunyai perspektif lain bisa saling memperkaya pengetahuan satu sama lain.

Selain itu, dengan melihat persoalan yang terjadi, terutama penempatan yang salah, hal ini akan sedikit mempermudah kita ketika ditugaskan di bagian yang berbeda. Tujuannya, bukan untuk mendukung penempatan yang salah, tetapi sebagai salah satu langkah “awal” untuk membasmi “kebobrokan”.

Diskusi sebagai jembatan

Tentu saja, setiap paguyuban mempunyai waktu diskusi. Namun, di sini saya ingin menawarkan metode yang lebih akademik dengan cara yang bisa lebih baru. Untuk itu, simaklah beberapa penjelasan berikut ini.

Kesulitan menghubungkan kedua titik ini adalah karena kita tidak pernah berlatih untuk merealisasikan konsep-konsep akademik.

Salah satu hal yang dapat melatih kita untuk menghubungkan konsep-konsep akademik dan realitas adalah diskusi. Lalu pertanyaannya diskusi seperti apa? Apakah berbasa-basi? Pastinya bukan berbasa-basi.

Sejauh ini konsep diskusi kita hanya sebatas menanggapi. Ada persoalan tertentu di Papua dan kita menanggapinya, dan berusaha mencari jalan keluar, walaupun itu tidak pernah dilakukan.

Anehnya lagi, hanya sedikit mahasiswa yang terlibat diskusi. Tetapi kalau sebatas kesenangan,  seperti saat ada olahraga, turnamen bersama, acara musik, dst beramai-ramai. Yah, inilah masalah kita. Apalagi dengan seminar yang butuh konsentrasi lebih untuk memahami pembahasan yang terlalu sulit.

Mengapa diskusi bisa menjadi jembatan? Melalui diskusi kita akan belajar melihat realitas dengan kacamata akademik. Banyak tokoh hingga konsep-konsep analisis yang bisa menjadi kacamata untuk melihat persoalan.

Selain itu, kita juga ditawari metode-metode analisis untuk melihat persoalan sebagai aplikasi dari pembelajaran di kampus. Tentu saja, penerapan pada setiap bidang ilmu berbeda, tetapi perlu untuk kita lakukan, terutama beberapa hal yang mampu dipraktikkan dengan dua metode yang akan ditawarkan berikut ini.

Komparasi beberapa teori atau masukan-masukan dari perspektif cabang ilmu lain akan memperkaya pemahaman kita untuk merealisasi konsep-konsep akademik tersebut. Untuk memahami ini, saya akan membahas lebih konkret lagi.

Contoh kasus dan penerapannya

Sebagai contoh, mahasiswa dari jurusan ekonomi ditugaskan untuk melihat keadaan ekonomi di salah satu kabupaten di Papua. Tugasnya adalah mencari data mengenai persoalan yang sedang terjadi, seperti pertumbuhan ekonomi di salah satu kabupaten.

Medianya bisa melalui pengamatan secara langsung atau pengumpulan data yang dilaporkan melalui media elektronik.

Kemudian dia melihat persoalan tersebut dari salah satu teori atau bisa juga menerapkan salah satu teori untuk menganalisis dan menawarkan kemungkinan penerapannya untuk mengatasi persoalan.

Boleh juga menggunakan beberapa pendekatan teori lain sebagai tawaran (solusi). Akan lebih baik pula, ketika membandingkan beberapa teori dengan mengungkapkan kelebihan dan kekurangan penerapannya.

Dengan demikian, dia terlatih untuk menganalisis persoalan dengan menerapkan teori-teori yang telah dipelajari sambil membandingan persoalan yang ada dengan mengkomparasikan teori-teori yang ada.

Contoh lain yang lebih konkret, seorang mahasiswa jurusan teknik mesin diminta untuk membawa materi mengenai “Kerusakan Gerigi Akibat Jalan Bertanjakan Tanjakan Tinggi” atau “Borosnya Bensin Akibat Jalan Bertanjakan Tinggi”.

Sebagai tawaran atas pembahasan yang dilakukan, sebagai pembanding bisa memberikan solusi akan gerigi yang tepat untuk digunakan pada tempat yang pada umumnya bertanjakan tinggi.

Tentu ini akan menjadi perhatian menarik bagi mahasiswa jurusan ekonomi untuk melihat pemasaran di daerah sekitar atau menganalisis permintaan di daerah tersebut. Sehingga, ketika diskusi bersama bisa saling mengaitkan satu sama lain dan akan lebih menarik ketika pada setiap paguyuban mempunyai buletin, atau majalah akan bermanfaat untuk menuliskan diskusi tersebut.

Tentu saja, dengan mengaitkan masukan, perspektif, bahkan keuntungan bagi mahasiswa dari jurusan tertentu bisa menjadi tawaran bagi masyarakat dan pengalaman bagi mahasiswa tersebut setelahnya.

Konsep diskusi yang saya bahas di sini adalah diskusi terbuka dengan catatan pembahasannya tetap pada konteks materi yang dibawakan. Misalnya, jika pemberi materinya dari jurusan ekonomi, maka jurusan lain juga terbuka untuk menambah perspektif, memikirkan hubungan dengan jurusan yang sedang ditempuh dan menawarkan solusi dari perspektifnya. Sehingga, mahasiswa yang terlibat bisa terlibat aktif. Tentu membutuhkan waktu lebih banyak berdiskusi.

Pada akhirnya, tentu perlu dibuat tulisan sehingga pemikirannya dapat menjadi tawaran buat masyarakat luas atau diri sendiri.

Tahapan diskusi

Jika saya merumuskannya, seperti ini tahapan diskusi. Metode deduktif, yakni: 1) melihat fenomena tertentu di dalam masyarakat, menetapkan topik pembahasan; 2) mencari dasar teorinya; 3) menemukan kelemahan dan kelebihannya; 4) penerapannya dalam masyarakat; 4) membuat makalah; 5) mempresentasikan di hadapan publik (mahasiswa yang ada); 6) memberikan komentar: tanggapan, masukan, kritikan, pernyataan; 7) membuat kesimpulan atas pembahasannya; 8) mempublikasikan melalui buletin, majalah, atau media digital.

Cara kedua, adalah metode induktif. Pada dasarnya, tahapannya saja, hanya ada perubahan beberapa.

Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut; 1) mencari teori tertentu yang sudah dipelajari; 2) menetapkan topik pembahasan; 3) menemukan kelemahan dan kelebihannya; 4) menemukan lokasi penerapannya yang tepat dalam masyarakat; 5) membuat makalah; 5) mempresentasikannya di hadapan publik atau mahasiswa yang ada; 6) memberikan komentar: tanggapan, masukan, kritikan, pernyataan; 7) membuat kesimpulan; 8) dan akhirnya dapat mempublikasi tulisan melalui buletin, majalah, atau media digital.

Rasanya, banyak dampak positif yang kita dapatkan, dan ini merupakan satu langkah maju untuk meningkatkan kualitas sebagai akademisi. Tentu saja melalui proses ini, selain menambah wawasan, kita belajar mengemukakan pendapat (gagasan).

Selain itu kita lebih kritis terhadap persoalan. Terlebih khusus lagi kita bisa benar-benar mengetabui dan menerapkan kelayakan, kecocokan (ketepatan) teori dan hal-hal praktis.

Melalui proses ini, kita akan dibekali dengan sendirinya mengenai perspektif untuk lebih dekat menerapkan apa yang telah dipelajari di dunia akademik, sehingga bisa semakin realistis.

Ingat, bahwa beberapa contoh di atas, hanya untuk memberikan pemahaman dan gambaran mengenai tahapannya. Di luar dari kedua contoh di atas banyak yang lebih menarik, lebih real, bahkan bisa lebih dekat dari masyarakat yang bisa didiskusikan. Semoga, tawaran ini menambah wawasan, memperluas pandangan, dan yang paling penting bahwa setiap paguyuban termotivasi untuk menerapkannya. (*)

Penulis adalah alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jurusan Teknik Elektro

Editor: Timo Marthen

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top