Dituduh mengebom pada 1987, Jaksa Agung Fiji diselidiki

Jaksa Agung Fiji, Aiyaz Sayed-Khaiyum, sedang diselidiki atas tuduhan keterlibatan dalam serangan bom fatal pada 1987. - The Guardian/ Guillaume Horcajuelo/EPA

Papua No.1 News Portal | Jubi

Suva, Jubi – Pada Selasa (24/11/2020) lalu, salah satu orang paling berkuasa di Fiji, Jaksa Agung Aiyaz Sayed-Khaiyum, menerima penghargaan sipil tertinggi negara itu, Companion of the Order of Fiji, dalam sebuah upacara resmi. Sehari sebelumnya, dia harus datang ke kantor polisi Suva untuk diwawancarai setelah dituduh terlibat dalam serangan bom fatal terhadap lawan politiknya lebih dari 30 tahun yang lalu.

Kasus Aiyaz Sayed-Khaiyum yang luar biasa ini – dikenal sebagai “A to Z” di lingkaran politik Fiji – adalah berita besar di Fiji, dan telah semakin memperdalam perpecahan politik yang ada, serta ketegangan antaretnis antara penduduk pribumi iTaukei dan Indo-Fiji, konflik yang mendasari sejarah politik Fiji.

Sayed-Khaiyum adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di jajaran pemerintahan Fiji, sebagai Sekretaris Jenderal Parpol FijiFirst yang berkuasa, ia dianggap sebagai kekuatan di balik Perdana Menteri Frank Bainimarama. Selain sebagai jaksa agung, dia juga merupakan menteri kehakiman, penerbangan, komunikasi, perubahan iklim, ekonomi, layanan publik, dan antikorupsi, hingga otoritas yang sangat besar atas kebijakan pemerintah.

Hanya sedikit orang Fiji yang tidak memiliki opini tentang Sayed-Khaiyum, atau kasusnya. Pembelanya membantah tuduhan itu bermotif rasial dan politik. Di daring, mereka yang percaya ia bersalah telah mengubah gambar profil Facebook dengan kaos kuning untuk menuntut keadilan dan agar dia mundur.

Sayed-Khaiyum diduga terlibat dalam dua serangan pengeboman terhadap lawan politiknya di Suva setelah kudeta militer 1987. Ia belum angkat suara atas tuduhan tersebut, dan telah menolak untuk undur sebagai jaksa agung semetara dia sedang diselidiki.

Pada Juli tahun ini, sebuah pengaduan resmi diajukan ke polisi Fiji oleh Veronica Malani, 47, ayahnya, mantan anggota parlemen Ratu Filimone Ralogaivau yang berusia 86 tahun, dan saudara laki-laki Ratu Benedito Ralogaivau, 46, seorang warga Australia yang bekerja sebagai polisi disana. Dalam pengaduannya, mereka menuduh Sayed-Khaiyum memasang bom yang menewaskan satu orang dan menyebabkan “luka-luka parah” pada Malani dan ibunya.

Loading...
;

Dalam pernyataan polisi yang diperoleh the Guardian, mereka menuduh Sayed-Khaiyum, yang saat itu berusia 22 tahun, merupakan bagian dari kelompok pro-demokrasi Indo-Fiji yang dikenal sebagai Fiji Freedom Fighters. Kelompok itu bertanggung jawab meledakkan bahan peledak di dua lokasi terpisah pada 17 dan 18 Oktober 1987.

Malani menuduh keluarganya menjadi sasaran “serangan teroris” Sayed-Khaiyum karena ayahnya, seorang MP pada saat itu, telah “beralih” dari kubunya dan bergabung dengan pemerintahan militer sementara Rabuka setelah Rabuka memimpin kudeta yang menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis.

Ratu Benedito, saat itu berusia sembilan tahun, mengklaim bahwa pada 17 Oktober, dia bersama ibunya di kota Suva ketika mereka diserang saat menunggu bus.

“Saya melihat seorang pria muda berusia awal 20-an mendekati kami… ia meletakkan sebuah kotak di atas lantai dekat ibu saya… lalu pergi,” katanya.

Ratu Benedito mengklaim seorang pria terluka parah akibat ledakan itu, begitu juga dengan ibunya. “Ia mengalami luka bakar parah, darah mengalir keluar dari lukanya,” tuturnya.

Sehari kemudian, pada 18 Oktober, ibu Ratu Benedito kembali diserang, kali ini di rumahnya, ditemani putrinya yang berusia 10 tahun, Veronica Malani.

Malani mengaku menyaksikan ”siapa yang melempar paket itu”.

Malani dan Ratu Benedito kemudian berkata bahwa seminggu setelah penyerangan itu, mereka dibawa ke kantor polisi Totogo karena dua tersangka telah ditetapkan.

Mereka menuduh orang yang mereka identifikasikan saat itu adalah Sayed-Khaiyum. “Saya percaya tujuan Sayed-Kahiyum adalah untuk membunuh saya dan ibu saya,” tegas Malani.

Setelah penyelidikan polisi tahun ini, sejumlah bukti dikirim ke direktur kantor penuntut umum (DPP) untuk memutuskan apakah Jaksa Agung akan didakwa. Namun DPP, Christopher Pryde, telah mengirimkan kembali berkas tersebut dalam waktu seminggu, memerintahkan polisi untuk melakukan “penyelidikan lebih lanjut”.

Seorang juru bicara polisi membenarkan penyelidikan tersebut, tetapi menambahkan bahwa pihak kepolisian tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut dan sedang menyelidiki permasalahan-permasalahan yang dijabarkan oleh DPP.

Tuduhan terhadap Sayed-Khaiyum masih dalam penyelidikan. Tidak ada dakwaan yang diajukan.

The Guardian belum menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan ke Sayed-Khaiyum terkait tuduhan yang dilayangkan terhadapnya, atau penolakannya untuk mundur dari jabatan di pemerintahan selama dia dalam penyelidikan.

The Guardian juga telah menyurati pertanyaan PM Bainimarama, mantan perdana menteri Sitiveni Rabuka, dan Plt. Komisaris Polisi Fiji Rusiate Tudravu tentang pemboman dan penyelidikannya ini. Belum ada tanggapan yang diterima. (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top