Follow our news chanel

Diversifikasi tanaman akan untungkan petani tebu Fiji

Pekerja di perkebunan tebu, Fiji. - Devpolicy Blog/ Asian Development Bank
Diversifikasi tanaman akan untungkan petani tebu Fiji 1 i Papua
Pekerja di perkebunan tebu, Fiji. – Devpolicy Blog/ Asian Development Bank

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Amar Singh

Industri tebu Fiji telah menjadi andalan perekonomian sejak 1882, namun industri ini menghadapi banyak permasalahan.

Pada 1990-an, Fiji bisa menghasilkan lebih dari empat juta ton tebu. Saat ini, produksinya telah jatuh menjadi di bawah dua juta ton. Namun demikian, perkebunan tebu masih menjadi sumber penghidupan dari sekitar 15% dari populasi Fiji. Dengan berakhirnya pengaturan preferensi harga gula pada 2017, yang dilakukan melalui berbagai perjanjian dan subsidi sejak 1975, industri gula Fiji sudah tidak lagi bersaing. Apa yang harus dilakukan petani tebu?

Meninggalkan perkebunan tebu dalam jangka pendek mungkin bukan keputusan yang tepat. Petani-petani Fiji memiliki kontrak dengan Fiji Sugar Corporation (FSC) untuk memproduksi tebu dan telah banyak menanamkan sumber daya mereka dalam perkebunan ini. Mereka juga khawatir akan kehilangan lahan perkebunan mereka jika berhenti bertani. Tapi, daripada meninggalkan perkebunan tebu, petani bisa melakukan penganekaragaman tanaman atau diversifikasi dengan membudidayakan tanaman atau non-tanaman lain.

Saya melakukan survei dengan petani-petani tebu untuk menetapkan manfaat diversifikasi tanaman, dan membandingkan keuntungan petani tebu yang hanya berkebun tebu dan petani tebu yang telah melakukan diversifikasi. Penelitian ini saya lakukan di Sektor Lomawai, Fiji, sekitar 30 kilometer dari dua pusat kota (Sigatoka dan Nadi) dan 60 kilometer dari Pabrik Gula Lautoka.

Hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa sebagian besar petani sebenarnya sudah melakukan diversifikasi: hanya 28% saja yang hanya menanam tebu. Petani harus diversifikasi. Hanya 11% yang yakin mereka bisa bertahan hidup jika mereka menggunakan semua lahan mereka untuk tebu, dan banyak yang meninggalkan lahan mereka kosong, tidak ditanami apa-apa. Rata-rata, petani yang saya wawancarai, menggunakan 3,2 hektare untuk tebu, 0,45 untuk tanaman non-tebu, dan meninggalkan 1,8 hektare begitu saja.

Loading...
;

Ada tiga jenis diversifikasi non-tebu yang melakukan para petani: peternakan hewan, termasuk lebah, adalah yang paling populer (penjualan dari hasil usaha peternakan ini mencapai 51% dari penjualan hasil usaha perkebunan non-tebu), diikuti oleh umbi-umbian dan sayuran (40%), dan buah-buahan dan kacang-kacangan (8%).

Alasan utama untuk melakukan diversifikasi adalah akibat menurunnya pendapatan dari tebu. Analisis keberuntungan yang saya lakukan menunjukkan bahwa tanaman non-tebu jauh lebih menguntungkan daripada tebu, dengan margin laba masing-masing 67% dan 24%. Petani yang melakukan diversifikasi tanaman rata-rata menghasilkan laba sebesar FJ$ 3.529, sementara petani yang hanya menanam tebu mendapatkan laba rata-rata FJ$ 2.442 .

Jika diversifikasi tanaman adalah jawabannya, mengapa hal ini tidak dilakukan oleh lebih banyak petani? Mengapa kira-kira 30% lahan subur dibiarkan kosong di Sektor Lomawai? Hanya 41% petani yang berkata mereka telah meningkatkan diversifikasi tanaman, dibandingkan dengan 15-20 tahun sebelumnya. Pada dasarnya, mereka merasa tidak yakin: 81% berkata mereka akan lebih banyak melakukan diversifikasi jika mereka yakin bisa menemukan pasar yang aman.

Ada peluang bagi Kementerian Pertanian Fiji untuk mendorong petani agar memanfaatkan lahan yang diabaikan untuk penganekaragaman tanaman yang dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan signifikan.

Pertama, Kementerian Pertanian, melalui penelitian dan pengembangan untuk mengidentifikasikan tanaman tahan penyakit yang dapat dibudidayakan dalam skala besar untuk diekspor. Kementerian juga perlu menegosiasikan perjanjian, khususnya dengan negara tetangga Fiji, seperti Australia, Selandia Baru, dan negara-negara kepulauan Pasifik, dan memastikan ekspor Fiji memenuhi ketentuan fitosanitasi negara-negara itu.

Kedua, Kementerian juga perlu mengidentifikasikan jenis tanaman yang dapat ditanam dalam skala besar, dengan tujuan untuk mengurangi impor dari luar negeri. Mengurangi impor bisa dilakukan dengan memberikan insentif pajak kepada industri lokal, khususnya industri perhotelan, untuk melibatkan petani yang bersedia memproduksi dan memasok buah-buahan dan sayuran dengan konsisten untuk industri pariwisata.

Ketiga, para petani perlu menerima pelatihan tentang cara menghasilkan barang berkualitas tinggi yang memenuhi standar ekspor dan hotel. Memastikan pengadaan produk pertanian dengan kualitas ekspor dan hotel akan memerlukan audit yang rutin dari staf lapangan Kementerian Pertanian untuk memastikan agar permasalahan yang dihadapi petani bisa diselesaikan dengan tindakan yang tepat secepatnya. Selain itu, melalui penyelenggaraan lokakarya reguler, petani perlu diajarkan tentang mekanisme penetapan harga hasil usaha mereka, dan pentingnya untuk menggunakan konsep komersial dalam pertanian (misalnya, pentingnya menyimpan catatan yang tepat).

Singkatnya, apakah untuk mendukung pasar ekspor atau untuk menggantikan makanan impor, petani-petani Fiji perlu pelatihan, dan harus ada sistem untuk menghubungkan petani dengan pasar. Tebu adalah masa lalu pertanian di Fiji, penganekaragaman tanaman adalah masa depannya. (Development Policy Centre, Australian National University)

Amar Singh mengajar program MBA Universitas Fiji.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top