Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

DKP: Basis produksi harus digeser ke luar Jawa, potensi perluasan lahan masih luas

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jakarta, Jubi – Basis produksi pangan utama perlu dialihkan dari Pulau Jawa secara berkala, dikarenakan banyaknya alih fungsi lahan pertanian yang terjadi.

 

DKP: Basis produksi harus digeser ke luar Jawa, potensi perluasan lahan masih luas 1 i Papua

Dalam diskusi Peta Jalan Menuju Kemandirian Pangan, di Jakarta, Khudori, anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Khudori mengatakan bahwa Pulau Jawa masih mendominasi sebagai produsen pangan utama untuk Indonesia.

Untuk itu pemerintah perlu mengalihkan basis produksi, supaya menjamin keberlanjutan produksi pangan utama.

"Agar produksi berkelanjutan, alih fungsi lahan harus dicegah dan secara berkala memperkuat pondasi pangan di luar Pulau Jawa," kata Khudori, Senin.

Berdasarkan data 2015 yang dipaparkan oleh Khudori, produksi padi mencapai 38,97 juta ton atau mencapai 51,7 persen dari total produksi. Sementara produksi jagung sebanyak 10,6 juta ton atau 54,1 persen, kedelai 599 ribu ton atau 62,3 persen dan gula 1,53 juta ton atau 61,5 persen dari total produksi.

Loading...
;

"Jawa masih menjadi pusat aktivitas ekonomi yang semuanya membutuhkan tapak lahan. Lahan pertanian selalu terancam," kata Khudori.

Menurut Khudori, luas lahan pertanian dan kehutanan di Indonesia tercatat sebesar 30,67 juta hektar. Untuk di Pulau Jawa hanya sebesar 213.890 hektar, sementara Sumatera tercatat sebesar 5,5 juta hektar.

Luas lahan pertanian dan kehutanan di Pulau Kalimantan mencapai 12,3 juta hektar dan di Maluku serta Papua sebesar 10,67 juta hektar.

"Basis produksi harus digeser ke luar Jawa, potensi perluasan lahan masih luas," kata Khudori.

Selain masalah konsentrasi lahan produksi pangan di Pulau Jawa, tenaga kerja sektor pertanian tercatat hanya berpendidikan maksimal sekolah dasar, atau bahkan tidak lulus. Sebagian besar usia petani juga berada pada kisaran 45-54 tahun.

"Bahkan sebanyak 32,6 persen para petani berusia 54 tahun. Ini menunjukkan bahwa petani utama berada di ujung usia produktif," kata Khudori.

Selain itu, lanjunya, sektor pertanian juga tidak lagi menarik bagi generasi muda. Berdasarkan Sensus Pertanian 2013, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir jumlah usaha rumah tangga usaha pertanian menurun dari 31,23 RTUP menjadi 26,14 juta RTUP.

Penurunan terjadi pada seluruh subsektor pertanian dari 35,2 juta petani menjadi 32 juta petani atau turun 3,2 juta.(*)

 

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top