Follow our news chanel

Previous
Next

Dosen UMM bikin drone penyemprot pupuk dan pestisida

Foto ilustrasi. - pixabay.com
Dosen UMM bikin drone penyemprot pupuk dan pestisida 1 i Papua
Foto ilustrasi. – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Malang, Senin – Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Wahono menciptakan tiga jenis pesawat tanpa awak atau drone untuk aktivitas pertanian. Salah satu drone ciptaaan Wahono dapat dipakai untuk menyemprotkan pupuk dan pestisida.

Wahono menyatakan drone ciptaannya dapat mendukung dunia pertanian yang lebih modern di Indonesia. “Drone pertama bernama Motodoro MX, berjenis Flying Wing, sekali terbang bisa memetakan sekitar 700 hektare,” kata Wahono saat ditemui Kantor Berita Antara di Malang, Jawa Timur, Senin (13/1/2020).

Drone kedua, yang memiliki kemampuan terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400-500 hektare. Motodoro MX dan Farm Mapper mempunyai fungsi yang serupa, yaitu memetakan tanaman yang membutuhkan pupuk serta pestisida. Perbedaan keduanya terletak kepada perbedaan cara terbang landas dan mendarat.

Drone ketiga memiliki kemampuan yang berbeda. Drone yang punya kemampuan menyemprotkan pupuk dan pestisida itu dinamai Spraying Robot Indonesia (SRI).

Wahono menyatakan aplikasi penyemprotan pupuk dan pestisida oleh SRI itu cerdas, karena dalam satu jam dapat menjangkau lahan seluas 10 hektar. Dalam satu kali penerbangan, drone itu dapat mengangkut 23 liter cairan pupuk atau pestisida.

SRI juga memiliki alat untuk memindai tanaman, sehingga dapat membedakan antara tanaman yang sehat dan berpenyakit. Pemindai SRI disebut Wahono memiliki sensor yang presisi dan secara kuantitaif lebih akurat.

Loading...
;

Dengan ketiga “drone petani” itu, Wahono berharap Indonesia dapat mengembangkan model pertanian yang lebih pintar. “Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktivitas tanaman serta mengefisiensi biaya,” ucapnya.

Ketiga “drone petani” ciptaan Wahono itu diapresiasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof Muhadjir Effendi. Muhadjir menyatakan temuan Wahono sudah layak untuk didiseminasikan ke masyarakat dan harus segera dipatenkan.

“Saya sangat senang dengan penemuan itu. [Penemuan itu] bisa diadopsi oleh para petani, karena kecepatannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan tenaga manual,” kata Muhadjir.

Rektor UMM Dr Fauzan mengemukakanFarm Mapper dan Motodoro MX telah diproduksi massal sejak awal tahun 2017, dengan kapasitas produksi sebanyak 40 buah tiap tahunnya. Harga per unitnya mulai Rp62 juta hingga Rp250 juta.

Untuk drone SRI, menurut Fauzan masih dikembangkan agar dapat diproduksi massal. “Dengan adanya temuan seperti ini, tentu akan sangat penting bagi pertanian kita ke depan,” kata Fauzan.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top