Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Dua terdakwa kasus rusuh Wamena ajukan banding dan kasasi

papua, kerusuhan wamena
Ilustrasi vonis hukum dalam persidangan pixabay.com

 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Dua terdakwa kasus kerusuhan Wamena yaitu Teresta Tega Iyaba dan Narius Wenda, mengajukan banding hingga kasasi, setelah hakim Pengadilan Negeri Wamena mengayunkan palu vonis hukuman bagi keduanya.

Untuk Teresta, hakim memutus hukuman empat tahun penjara pada 30 Maret 2020, hal ini setelah jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa dengan enam tahun penjara.

Namun terdakwa melalui kuasa hukumnya melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Jayapura atas putusan empat tahun tersebut, dan pada 30 April 2020 pengadilan memutuskan menambah hukuman terdakwa menjadi enam tahun penjara.

Tim kuasa hukum terdakwa, Mercy Waromi, SH saat dihubungi, Senin (1/6/2020) menyebut, pihaknya tidak sepakat dengan putusan PN Wamena. Mengingat terdakwa dalam persidangan dinilai melakukan pasal 187, namun kuasa hukum melihat ia lebih kepada penghasutan dan tidak melakukan pembakaran salah satu kampus di Wamena.

“Kami lakukan upaya banding dan 30 April 2020 keluar putusan banding dari pengadilan tinggi Jayapura, menjadi enam tahun sesuai tuntutan JPU, karena jaksa pun banding atas putusan PN Wamena selama empat tahun itu dan upayakan kasasi terhitung 14 Mei 2020 sudah dilakukan, sekarang tinggal tunggu keputusan dari Mahkamah Agung,” kata Waromi.

Sedangkan bagi terdakwa Narius Wenda yang merupakan pelaku penikaman seorang warga di seputaran Wouma pada 12 Oktober 2020 (pasca kerusuhan) divonis kurungan penjara selama 10 tahun, lebih rendah dari tuntutan jaksa 12 tahun.

Loading...
;

Kata Mercy Waromi, untuk terdakwa Narius Wenda, kuasa hukum melakukan banding dan masih menunggu putusan dari pengadilan tinggi Jayapura.

“Penikaman itu memang terjadi, tetapi bukan atas kehendak dia tetapi terdakwa ada semacam penyakit turunan yang kambuh lalu melakukan penikaman, namun pengadilan dan jaksa membuktikan bahwa pelaku karena persoalan balas dendam karena ada keluarganya yang meninggal saat kerusuhan, cuma memang kami tidak dapat membuktikan bagian medisnya, karena kami sudah berupaya menghadirkan ahli dari dokter tetapi kemudian dengan situasi covid-19 sehingga kesulitan,” urainya.

Bagi tujuh terdakwa lainya yang disidang di Pengadilan Negeri Wamena, kata Waromi, rata-rata jaksa menuntut satu tahun dua bulan dan divonis 9 bulan.

“Mereka harusnya vonis bebas murni Mei 2020, tetapi karena sudah menjalani setengah masa tahanan jadi mereka kena asimilasi sehingga tujuh orang sudah bebas,” ujarnya.

Sedangkan bagi terdakwa yang disidang di luar Wamena, ada lima perkara yang masih dalam persidangan di Pengadilan Negeri Biak, disaat pandemic Covid-19 saat ini sidang dilakukan dengan cara virtual atau jarak jauh menggunakan telekonferensi .

“Saat ini proses sidang ada yang tahap pembuktian, lalu Selasa ini sudah ada yang masuk dalam tahap tuntutan JPU,” katanya.

Sementara itu kepala seksi pidana umum Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Ricarda Aresnius, SH mengatakan banding terdakwa yang dilakukan JPU, otomatis membuat jaksa juga harus banding, sesuai SOP.

“Hal itu untuk antisipasi, supaya kita bisa lakukan upaya hukum kasasi lagi, kalau putusan banding merugikan kita bisa lakukan kasasi, katanya. (*)

Baca reportase mendalam mengenai kerusuhan Wamena di sini

Editor: Syam Terrajana

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top