Follow our news chanel

Previous
Next

Dualisme konstruksi nasionalisme, akar konflik Papua yang terus diabaikan

Foto ilustrasi - pixabay.com
Dualisme konstruksi nasionalisme, akar konflik Papua yang terus diabaikan 1 i Papua
Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cendrawasih Jayapura, Bernarda Meteray mengatakan pandangan pemangku kepentingan politik di Jakarta dan Papua tak pernah sama, karena masing-masing memiliki konstruksi nasionalisme yang berbeda. Perbedaan cara pandang itulah yang membuat pilihan solusi salah satu pihak sulit diterima pihak yang lain, sehingga konflik Papua tak kunjung terselesaikan.

Hal itu disampaikan Bernarda Meteray dalam diskusi bedah buku “Cita-cita Koreri, Gerakan Politik Orang Papua” yang di tulis oleh Margaretha Hanita yang berlangsung di Jayapura, Papua, pada Rabu (20/11/2019). Buku karya Margaretha Hanita itu diluncurkan di aula Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih.

Materay mengatakan konflik di Papua bukan semata-mata karena faktor ekonomi, faktor yang paling sering disebut para pemangku kepentingan politik di Jakarta maupun Papua. “Padahal Muridan S Widjojo [sudah menyatakan] salah satu sumber konflik di Papua adalah perbedaan tajam konstruksi nasionalisme Indonesia dan nasionalisme Papua. Di satu pihak, nasionalis Indonesia beranggapan Papua adalah bagian dari masyarakat Indonesia, terlepas perbedaan ras atau kebudayaan,” katanya.

Di pihak lain, lanjut Materay, nasionalisme Papua berpandangan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara orang Papua yang memiliki ras Melanesia dan mayoritas orang Indonesia memiliki ras Melayu. Konstruksi nasionalisme seperti itulah yang mendasari pendapat bahwa Papua tidak seharusnya menjadi bagian dari Indonesia.

“Perbedaan pandangan nasionalis di Papua dan Indonesia seperti itulah yang diungkapkan [Muridan S] Widjojo. [Sayangnya] pemahaman tentang adanya dua nasionalisme [berkontestasi] di Papua sangat rendah. Konstruksi nasionalisme Papua bahkan kerap diabaikan [oleh pemangku kepentingan politik di Jakarta],” katanya.

Materay menyatakan kajian Muridan S Widjojo Bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mendorong sejumlah pihak, termasuk dirinya, membuat penelitian lanjutan. Penelitian Materay pada 2012 menyimpulkan kesadaran ke-Papua-an orang asli Papua semakin menguat, seiring dengan semakin pudarnya kesadaran ke-Indonesia-an orang asli Papua.

Loading...
;

“Kajian ini menemukan kesadaran ke-Papua-an di Papua lebih kuat daripada kesadaran ke-Indonesia-an. [Penelitian itu]  juga membuktikan lemahnya kesadaran ke-Indonesia-an di Papua sangat dipengaruhi oleh lemahnya proses penyemaian dan penumbuhan [kesadaran dan rasa] ke-Indonesia-an,” katanya.

Kontestasi nasionalisme Indonesia dan nasionalisme Papua di antara orang Papua masih menjadi polemik yang tidak kunjung selesai. Atas polemik itu, LIPI memperbarui penelitian mereka, dan menyusun buku “Updating Papua Road Map”.

“[Buku LIPI] intinya mengingatkan pemerintah, bahwa internasionalisasi [masalah] Papua tidak dapat diselesaikan [Indonesia] dengan [membuat] propaganda internasional dan [menjalankan] diplomasi ofensif saja. [Internasionalisasi masalah Papua tidak dapat diselesaikan] tanpa [upaya Indonesia] menyelesaikan akar persoalannya,” katanya.

Materay mengingatkan selama Indonesia terus mengabaikan masa lalu orang Papua maka berbagai kebijakan Indonesia justru akan menimbulkan masalah baru. Bila ketidakpercayaan antara Jakarta dan Papua semakin menguat,  berbagai kebijakan Jakarta di Papua akan menimbulkan banyak polemik lanjutan.

Pembedah buku lainnya, Petrus Irianto mengatakan gerakan politik orang Papua berbasis kepada gerakan komunitas.”Gerakan komunitas adalah perbuatan orang dalam satu kelompok yang menginginkan perubahan, dengan proses menentukan orientasi pada indoktrinasi prioritas program dan praktek,” katanya.

Petrus mengatakan, koreri sebagai gerakan orang Papua yang berhubungan dengan kegelisahan luar biasa. Gerakan koreri tumbuh dalam masyarakat Biak, dan gerakan itu tidak berisikan ajaran kekerasan. “Akan tetapi, muatan politiknya besar dan menantang penguasa penguasaan yang ada,” kata Petrus Irianto.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top