Follow our news chanel

Previous
Next

Dubes Kepulauan Marshall di Fiji jelaskan ancaman Mikronesia undur dari PIF

Lima negara Mikronesia, yaitu Federasi Mikronesia, Kiribati, Kepulauan Marshall, Nauru, dan Palau baru-baru ini ancam akan keluar dari Forum Kepulauan Pasifik (PIF) jika perwakilannya tidak ditunjuk sebagai Sekjen PIF yang baru. - PACNEWS

Papua No.1 News Portal | Jubi

Berbagai laporan di media baru-baru ini membahas pengangkatan Sekretaris Jenderal Forum Kepulauan Pasifik (PIF) yang baru, untuk menggantikan Dame Meg Taylor dari Papua Nugini setelah masa jabatannya selesai pada Januari tahun depan.

Perlombaan antara lima kandidat untuk jabatan puncak PIF itu telah menghasilkan penolakan keras dari negara-negara anggota PIF – lebih khusus lagi, untuk lima negara Mikronesia, Federasi Mikronesia, Kiribati, Kepulauan Marshall, Nauru dan Palau, yang bersatu dan bersikeras bahwa ini adalah giliran kelompok subwilayah mereka untuk mencalonkan Sekjen berikutnya.

Editor PACNEWS, Makereta Komai, bercakap-cakap dengan Duta Besar Republik Kepulauan Marshall di Fiji, Duta Besar Albon Ishoda, untuk membongkar dan menjelaskan konteks pendirian Mikronesia dalam mendukung kandidatnya, Duta Besar Gerald Zackios, sebagai Sekjen PIF yang berikutnya.

Makereta Komai (MK): Mari kita memulai percakapan ini dengan membahas keputusan pemimpin-pemimpin Mikronesia beberapa pekan lalu untuk meninjau kembali keanggotaan mereka di PIF jika calon yang mereka ajukan tidak mendapatkan jabatan tertinggi PIF. Apa artinya ini bagi regionalisme?

Duta Besar Albon Ishoda (AI): Saya akan mulai dengan menerangkan latar belakang sejarah dalam hal ini. Di Palau pada 2014, kami telah mengajukan seorang kandidat, almarhum Tony deBrum, namun kami lalu menarik pencalonannya demi memberi kesempatan pada solidaritas regional Pasifik. Pada saat yang bersamaan, kami juga menyadari bahwa pencalonan kami itu terlambat, jadi kami tidak ingin mengganggu integritas proses PIF. Tentu saja, Ketua PIF dapat memaksa agar calon kami disertakan, tetapi pada saat yang sama dalam semangat Pasifik, Pacific Way, kami mengakui dan menghormati keputusan untuk membolehkan satu kelompok subwilayah untuk memutuskan Sekjen berikutnya. Seperti yang kita ketahui sekarang, dua pemimpin dari Kepulauan Solomon dan Papua Nugini dari kelompok subwilayah Melanesia lalu memutuskan Sekjen berikutnya dan kami mendukung keputusan itu.

Bagi kami, penting sekali bagi seorang Sekjen untuk menerima dukungan penuh dari pemimpin-pemimpin kawasan ini dan semua anggota-anggota PIF – karena pada akhirnya Sekjen itu melaksanakan keputusan para pemimpin. Ia tidak akan mendukung dan mengedepankan masalah hanya satu negara dan mengabaikan negara lain, tetapi akan bertindak demi kepentingan semua anggotanya.

Loading...
;

MK: Masalah calon sekjen PIF subwilayah kembali menjadi agenda KTT Pemimpin Mikronesia di Palau minggu lalu?

AI: Ketika para pemimpin bertemu di Palau minggu lalu, seperti yang Anda pahami, tiga dari lima pemimpin dapat bertemu secara langsung dan dua lainnya bergabung dari jarak jauh. Agenda utama pertemuan itu, tentu saja, adalah Covid-19 dan kesempatan untuk menunjukkan apa yang dapat kami lakukan bersama dengan status bebas Covid-19. Bagaimana kami bisa menemukan peluang-peluang yang dapat digunakan untuk menciptakan koridor-koridor di antara kami, dan mungkin dengan negara-negara Pasifik lain yang juga bebas Covid-19, agar dapat meneruskan perdagangan dan layanan lainnya untuk satu sama lain, tidak hanya berhenti sampai vaksin ditemukan. Itu adalah topik yang mendominasi percakapan mereka, dan menunjukkan ke seluruh Pasifik dan dunia bahwa, meskipun semua orang membicarakan hal yang sama, kami ingin menunjukkan bahwa saat ini, kami bisa beradaptasi dan menemukan cara-cara yang masih aman untuk warga kami, tetapi pada saat yang sama memungkinkan kami untuk pelan-pelan pulih.

Topik terpenting kedua dalam agenda adalah jabatan sekjen PIF, karena mereka tidak pernah mengalami tekanan sebanyak ini dalam proses seperti itu. Kami paham apa yang terjadi di Palau, dimana pada akhirnya satu subwilayah yang mengambil keputusan. Tahun lalu jika Anda ingat, pemimpin-pemimpin Mikronesia juga mengajukan kandidat mereka. Ini adalah indikasi kesiapan dan komitmen mereka – mereka memahami bahwa saat itu adalah giliran subwilayah mereka. Tanpa menanti percakapan itu di KTT Pemimpin PIF, para pemimpin Mikronesia ingin memastikan bahwa mereka sepakat untuk mencalonkan satu kandidat.

Mereka bertemu di Palau dan memutuskan untuk mencalonkan Duta Besar Zackios dan, jika Anda ingat ada, ada tiga Presiden baru di Mikronesia. Mereka lalu bertemu di New York, dimana presiden Nauru dan Federasi Mikronesia yang baru juga sepakat untuk mendukung kandidat tersebut. Kemudian ada lagi presiden yang baru di Kepulauan Marshall, dan Presiden Taneti Mamaau terpilih kembali dari Kiribati – keduanya juga menegaskan kembali dukungan mereka untuk Duta Besar Zackios sebagai calon Sekjen dari Mikronesia.

Di semua kesempatan, para pemimpin Mikronesia telah menunjukkan solidaritas mereka dalam mendukung calonnya – dengan pemahaman dan ekspektasi akan prinsip regionalisme yang memungkinkan partisipasi inklusif dalam proses didalam keluarga PIF. Perlu diingat bahwa , orang-orang sering salah paham, Sekjen PIF itu memutuskan siapa yang berinteraksi dengan kawasan kita. Ini tidak benar. Agenda politik kawasan ini ditentukan oleh pemimpin-pemimpin negara, Sekjen PIF melapor kepada para pemimpin dan negara-negara anggotanya. Pada akhirnya, siapa pun Sekjen itu, ia mewujudkan, dan mengambil tindak, berdasarkan keputusan para pemimpin.

MK: Ada persetujuan tidak mengikat (gentlemen’s agreement) yang disinggung – ini telah ditolak oleh banyak negara anggota.

AI: Bagi kami ini adalah sebuah simbol, jika salah satu dari kami bisa sampai di sana untuk mengambil peran bergengsi dalam memimpin kawasan ini. Itu mengingatkan kepada kami bahwa kami adalah bagian dari anggota keluarga Pasifik yang luas.

Ini sangat penting, karena kita tidak bisa hanya berkeras sebagai bagian dari keluarga ini jika kita tidak berpartisipasi secara aktif. Saya telah menerima beberapa pertanyaan mengenai apa yang akan terjadi jika Mikronesia tidak mendapatkan posisi Sekjen. Para pimpinan (Mikronesia) telah menegaskan bahwa jika itu terjadi, mereka harus meninjau kembali partisipasi mereka, apakah PIF itu masih relevan kepada mereka dan relevan untuk daerah mereka, karena mereka harus menjelaskan kepada masyarakatnya mengapa perwakilan mereka tidak pantas menduduki jabatan ini, dan warganya akan menuntut penjelasan.

Ada banyak percakapan dan omong kosong tentang Utara vs Selatan, Timur vs Barat, Amerika Serikat vs Tiongkok, atau Persemakmuran. Menurut saya itu tidak ada sangkut pautnya.

MK: Mantan PM Kepulauan Cook, Henry Puna, juga seorang merupakan kandidat sekjen, sekarang berkata bahwa kesepakatan ini sekarang harus diabaikan dan keputusan harus berdasarkan pada calon yang pantas. Jelaskan kepada saya tentang kesepakatan ini, bagaimana ini bisa diambil – bahwa jabatan Sekjen harus bergantian berdasarkan subwilayah?

AI: Di masa sebelumnya, menurut pemahaman saya, perjanjian ini sangat sesuai dengan cara kami memandang regionalisme secara keseluruhan – setiap subwilayah berhak mendapat kesempatan untuk memimpin PIF, dan hal yang paling tidak diinginkan adalah memiliki seorang sekjen yang tidak menerima dukungan penuh dari semua anggota PIF. Ini bukanlah awal yang baik untuk seorang sekjen. Sebagai orang-orang Pasifik, salah satu hal yang membedakan kita dari bagian dunia lain adalah kemampuan kita untuk saling mendengarkan dan mencoba memahami satu sama lain. Kesepakatan ini mungkin tidak penting bagi orang lain, tapi itu sangat penting bagi kita.

Jika Mikronesia memutuskan untuk undur – siapa yang diuntungkan dari Pasifik yang terpecah-pecah, terutama di saat-saat yang genting seperti ini, dimana kita menyaksikan pengaruh perpecahan yang signifikan pada keamanan geopolitik dan diskusi perubahan iklim. Beberapa pihak bertanya-tanya kepada kami – apa kontribusi Mikronesia dalam hal ini? Saya dapat menegaskan bahwa dalam isu perubahan iklim, Mikronesia sudah lama dikenal sebagai pemimpin dalam percakapan mengenai perubahan iklim di tingkat global.

MK: Apa yang akan terjadi sekarang? Kelihatannya ada persatuan dan solidaritas yang kuat di antara lima pemimpin Mikronesia dan mereka tidak akan bergeming dari pendirian mereka.

AI: Saya kira pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada saudara-saudari kita di kawasan Pasifik – anggota-anggota PIF – seberapa besar penghargaan mereka terhadap solidaritas di kawasan ini. Seberapa besar nilai yang akan mereka berikan pada prinsip-prinsip regionalisme, berapa nilai yang akan mereka berikan terhadap inklusivitas?

Bagi kami, kami sedang menjelaskan pendirian kami kepada orang-orang di Pasifik. Kami ingin mengingatkan negara-negara anggota (PIF) bahwa jika kami memulai preseden dalam isu ini, apa yang akan terjadi berikutnya? Kami akan mengikut arahan Ketua PIF dalam proses ini. Kami akan memberikan tanggapan dan kontribusi kami selama proses ini, tetapi kami juga akan terus mendorong pesan utama kami bahwa ini adalah salah satu hal yang harus diputuskan sekarang – bagaimana kami bergerak maju sebagai suatu wilayah. Saat ini, ada perasaan bahwa hak pilih kami telah dicabut, tapi yang pasti akan terjadi adalah perpecahan. Itu skenario terburuk bagi kami.

MK: Percakapan ini perlu dilakukan sekarang, saat para pemimpin PIF mulai membahas Strategi 2050 kawasan ini.

AI: Menurut saya, satu-satunya wadah dimana mereka dapat mengambil keputusan untuk berubah adalah melalui dialog pemimpin mereka sendiri. Jika mereka sepakat dan berkata, mari kita ungkapkan saja dan kita akan melakukan rotasi kepemimpinan subwilayah – itu terserah mereka. Yang bisa kami lakukan hanyalah memberikan saran, tetapi pada akhirnya, itu terserah kepada pemimpin-pemimpin kami yang akan memutuskan bagaimana mereka maju dari sini.

Dan kemudian ketika kita mempelajari proses regional lainnya – The University of the South Pacific atau USP contohnya. Ini sangat meresahkan karena USP, sebagai universitas regional, adalah salah satu wujud regionalisme dan telah menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat di seluruh Pasifik. Kita bangga dengan universitas regional kita. Kami tidak pernah menganggap USP itu milik Fiji hanya karena kampusnya berbasis di sana, itu adalah universitas regional milik kita. Pertanyaan yang harus dijawab oleh para pemimpin sekarang adalah apakah lebih menguntungkan jika wilayah ini bersatu atau wilayah ini terpisah-pisah. (PACNEWS)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top