Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Editor The Jakarta Post: Jangan melihat Papua dari perspektif Jakarta

Ilustrasi anak-anak pengungsi Nduga di Kabupaten Jayawijaya beberapa waktu lalu - Jubi. Dok

Papua No.1 News Portal

Makassar, Jubi – Editor The Jakarta Post, Evi Mariani menyatakan dalam pemberitaan tentang Papua, media mesti meletakkannya pada perspektif Papua. Bukan pada perspektif Jawa atau Jakarta.

Pernyataan itu dikatakan Evi Marani dalam diskusi online “Isu Papua dari Perspektif Jurnalis,” yang diselenggarakan Jubi pada Rabu (17/6/2020).

Ia mengakui sebagai media yang berbasis di ibu kota negara, The Jakarta Post juga terkadang kesulitan mengakses berbagai informasi terkait isu di Papua. Akan tetapi, redaksi The Jakarta Post dalam pemberitaannya berupaya meletakkan perspektif Papua sebagaimana mestinya.

“Perspektif sangat penting, mesti kita ke lapangan. Tapi kalau perspektifnya tetap bias Jawa, tetap bias Jakarta menurut saya, tetap problematik. meski pun ada wawancara langsung [dengan narasumber dari Papua],” kata Evi Marani.

Menurutnya, akan tidak cukup komprehensif, jika dalam memberitakan Papua, media hanya mengangkat isu kebudayaan, investasi, keindahan alam Papua.

Media perlu mengangkat cerita orang Papua dari kacamata kemanusiaan dan perspektif keadilan.

Menurutnya, melihat Papua tidak bisa mengabaikan perspektif HAM dan keadilan. Karena ada sejarah panjang yang [berkaitan dengan HAM dan keadilan] terjadi di Papua.

Loading...
;

“Sekarang ini kita tiba-tiba sudah sampai pada titik [diskriminasi]. Misalnya, ketika ketemu orang Papua langsung dituduh separatisme. Sudah sampai pada titik itu. Sampai ke titik itu kan sejarahnya panjang. Kenapa sampai begitu. Ada apa sampai seperti itu?” ujarnya.

Evi Marani menyimpulkan, solusi [untuk media melihat atau memberitakan Papua mesti] menempatkan wartawan benar-benar memiliki perspektif memadai terhadap Papua. Yang bisa menyuarakan kepentingan publik.

“Ketika Jubi mulai ada dan saya mulai baca Jubi, saya menganggap itulah perspektif yang benar untuk Papua. Memberi perspektif kepada media -media di Jakarta, karena wartawannya menganggap Papua itu rumah. Pemberitan [Jubi] menurut saya berbeda dengan apa yang diproduksi oleh teman-teman yang ngaku, gak ngaku punya bias Jawa atau bias Jakarta,” ucapnya.

Dalam diskusi yang sama, Josie Soesilo dari Kompas mengatakan, isu Papua sama pentingnya dengan isu lain di wilayah Indonesia. Bagi Kompas, Papua menjadi salah satu isu penting dalam pemberitaan. Tidak hanya karena memiliki nilai berita.

Menurut Josie yang pernah bertugas ditugaskan oleh redaksinya di Papua selama beberapa tahun sejak 2009, saat menulis berita terkiat Papua ia selalu memberikan ruang kepada semua pihak menyampaikan perspektifnya.

“Setiap kali pemberitaan [Papua, Kompas] berupaya mendudukkan masalah pada posisi semestinya dan misalnya berbicara dari sisi perspektif korban,” kata Josie.

Akan tetapi ia tidak memungkiri dalam beberapa pemberitaan Kompas [terkait Papua] terkesan Jakarta sentris, yang menyebabkan munculnya berbagai prasangka di publik.

Kata Josie, yang penting dalam memberitakan Papua, wartawan mesti membangun akses kepercayaan hinga ke lapisan masyarakat Papua untuk mendapat berbagai informasi di akar rumput.

Diskusi daring selama hampir dua setengah jam itu, dipandu oleh Victor Mambor, jurnalis senior Papua dan pemimpin umum Jubi. Narasumbernya antara lain, Emi Chairulah, wartawan Media Indonesia, Lucky Ireew, Pemimpin redaksi Cenderawasih Pos, dan Arnold Belau, Pemimpin Redaksi Suara Papua (*)

Editor: Syam Terrajana

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top