Follow our news chanel

Previous
Next

Eks Tapol antirasisme: Hukum Indonesia juga rasis

Papua
Kegiatan doa dan syukuran atas pembebasan para Tapol dengan acara bakar Batu dan pesta rakyat - Jubi/Piter Lokon.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Para Tahanan Politik antirasisme yang baru saja bebas dari penjara  Balikpapan, Kalimantan Timur dan tiba di Papua, Sabtu (22/08/2020) membeberkan apa yang dialami saat menjalani hukuman di Indonesia.

Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Agus Kossay mengatakan, selama menjalani hukuman, mengalami ketidakadilan dan mereka juga menilai adanya perilaku rasis terhadap mereka selama menjalani hukuman.

“Jadi perlakuan rasisme itu bukan hanya ujaran terhadap manusia Papua. Jadi, perlakuan rasisme itu juga berlaku dalam proses hukumnya Indonesia. Hukumnya juga berlaku rasis. Jadi saya kira, kami rakyat Papua puluhan tahun menjadi bagian dari negara Indonesia, kami tidak punya masa depan bersama Indonesia!” tegas Kossay.

Dengan adanya momentum pesta rakyat, atas pembebasan para Tapol itu, menjadi pengingat untuk sesuatu hal yang lebih besar kedepannya.

“Kita harus bersatu, rasisme itu tak memandang ko milisi merah putih kah, ko pejabat negara kah, ko siapa kah, dia tidak pernah memandang itu. Dia bicara monyet berarti ko Pejabat kah, Gubernur kah, Ko Bupati kah, DPR kah, Walikota kah dia (Oknum Ormas Indonesia) dia bilang kita monyet! Kalau begitu berarti kita monyet hari ini sadar dan melawan hari ini!” tegas Ketua KNPB Eks Tapol antirasisme yang baru saja bebas.

Kossay mengatakan, rakyat Papua harus keluar dari penindasan dan sadar untuk melawan. Selama masih ada dalam negara ini (Indonesia), rakyat Papua tidak akan mendapat keadilan.

“Perlakuan hukum juga selalu rasis terhadap kami. Jadi pandangan negara ini, kami sama dengan binatang. Selama kami bersama Indonesia tidak ada nilainya, maka itu saya kira, kita harus menentukan nasib sendiri dari cara-cara tidak terhormat ini. Kami ciptaan Tuhan yang sama dimata nasional hingga internasional di dunia ini,” kata Agus Kossay Ketua KNPB Pusat.

Loading...
;

Kossay menegaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah meratifikasi hak asasi manusia (ham) internasional dan didalamnya terdapar larangan diskriminasi rasial.

“Seharusnya Indonesia mengimplementasikan HAM dan menghapus diskriminasi rasial terhadap rakyat Papua. Maka saya pikir perlakuan ini tidak akan habis kalau selama bersama Indonesia,” katanya.

Kossay juga mengatakan, mereka adalah tahanan “rasisme” tetapi dalam proses hukumnya digiring ke “Makar”, yang sebenarnya tak masuk akal atau di luar logika.

“Karena, kami lakukan protes di sini (Papua) karena berawal dari ujaran nada rasisme di Surabaya. Saya bersama 7 teman dan seluruh tahanan rasisme, kami dituduhkan Makar. Sementara pelaku ujaran rasis dia pakai pasal UU ITE. Disinilah kami menganggap benar-benar diskriminasi hukum juga berlaku dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia dalam konteks hukum kolonial Indonesia,” kesal Kossay.

Sementara itu, dari United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) Markus Haluk mengatakan Rasiame di tanah Papua ada sejak lama yaitu 57 tahun.

“Aktor rasisme adalah Negara melalui TNI dan Polri, Jaksa dan Hakim, Investor perusahan multi nasional. Lalu kelompok sipil yang dipersenjatai yaitu Milisi. Ormas-ormas yang berupaya menghabiskan etnis melanesia. Namun niat itu telah berlawanan dengan konvenan internasional dan hukum Indonesia,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top