HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Eksploitasi hutan sagu yang telah dideforestasi di Papua

Hutan lahan sagu yang terbakar di Sentani beberapa waktu lalu- Jubi/Dok.
Eksploitasi hutan sagu yang telah dideforestasi di Papua 1 i Papua
Hutan lahan sagu yang terbakar di Sentani beberapa waktu lalu- Jubi/Dok.

Oleh: Efendi Minai

Eksploitasi hutan dalam sejarahnya sudah terjadi sejak masa kerajaan tradisional. Hutan sebagai paru-paru dunia menjadi salah satu unsur krusial demi kelangsungan hidup manusia di bumi.

Bayangkan apabila tidak ada hutan, bumi kita mungkin akan terasa panas, yang bisa membuat kita kekurangan oksigen untuk bernafas (Kumparan.com). Selain itu, manusia juga mungkin juga mengalami krisis ekonomi. Oleh sebab itu, hutan bukan untuk dieksploitasi tetapi dijaga sebagai tempat kelangsungan hidup.

Eksploitasi hutan sagu yang telah dideforestasi di Papua 2 i Papua

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, salah satunya kekayaan hutan. Hutan merupakan tempat menyimpan berbagai jenis ekosistem yang berkontribusi besar bagi makhluk hidup. Hutan yang dimaksud adalah hutan yang memiliki potensi yang dimiliki oleh orang Indonesia (negara Indonesia).

Selain itu, dalam hutan terdapat potensi yang dapat memenuhi kebutuhan pokok (pangan), salah satunya pohon sagu yang dikelola oleh masyarakat Indonesia timur (Maluku dan Papua).

Sayangnya, di negara berkembang dan kaya akan potensi hutan seperti Indonesia, hutan sagu dieksplitasi demi memajukan pembangunan, membuka perusahaan-perusahaan dan penebangan pohon untuk kepentingan berbasis ekonomi.

Oleh sebab itu, potensi hutan yang bernilai seperti sagu sangat dibutuhkan dalam situasi pandemi virus corona (covid-19) yang ramai dibicarakan di dunia dan Indonesia, khususnya Papua.

Loading...
;

Korban covid-19 kian hari kian meloncat mencapai kematian hingga ratusan, bahkan ribuan orang di dunia. Jika kita mau berasumsi bisa jadi akan terjadi krisis ekonomi.

Oleh karena itu, orang asli Papua (OAP) kembali melestarikan potensi hutan seperti pohon sagu. OAP mampu mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demikian juga mengolah pohon sagu untuk mendukung kekurangan gizi buruk bagi keluarganya sendiri.

Sagu merupakan makan pokok bagi masyarakat di Indonesia timur (Maluku dan Papua), terutama masyarakat di pesisir pantai. Pohon sagu bertumbuh pada daerah yang berlumpur, akar napas tidak terendam, kaya mineral, kaya organik, air tanah berwarna cokelat dan bereaksi agak masam.

Selain itu, pertumbuhan tanaman sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar terutama fosfat, kalium, dan magnesium.

Untuk itu, petani sagu berperan penting untuk merawat tanaman sagu sesuai dengan profesinya. Untuk menjaga dan melestarikan sagu adalah kebutuhan kita bersama, tidak hanya petani atau pemilik dusun sagu.

Eksploitasi hutan 

Data pemerintah RI menyebutkan, pada tahun 2005-2009 luas hutan Papua berkisar 42,22 juta hektare. Tapi tiga tahun kemudian (2011) mengalami degradasi hingga tersisa 30,07 juta hektare, dan rata-rata deforestasi di Papua bekisar 143.680 hektare per tahun. sedangkan laju deforestasi di Provinsi Papua Barat per tahun rata-rata 293 ribu hektare atau 25 persen (Sawit Watch, 3 Juli 2013).

Oleh sebab itu, pemerintah dan masyarakat Papua harus sama-sama berpikir untuk melihat hutan yang tereksploitasi secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, demi masyarakat Papua yang rata-rata hidupnya tergantung pada hasil hutan (pangan lokal dan berupa hewan liar seperti burung, rusa, babi hutan, kuskus).

Dengan kehadiran proyek terjadi deforestasi hingga memblok-blok (fragmentasi) hutan Papua. Maka dari itu, kelangsungan orang Papua yang hidupnya tergantung hasil hutan disayangkan.

Keberadaan hutan tropis di Papua terus menyusut seIring proses degradasi dan laju kerusakan hutan (deforestasi) yang terjadi waktu ke waktu.

Alih fungsi hutan sagu

Hutan sagu dimanfaatkan dengan budaya adat setempat agar budaya proses pembuatan sagu tidak ditinggalkan. Budaya ini bisa diwarisi atau diregenerasi, karena itulah pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat adat Papua.

Selain itu, masyarakat Papua, terutama masyarakat pesisir memaknai pohon sagu sebagai “sumber hidup” yang menguatkan tubuh dan memberikan kontribusi nutrisi dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, pohon sagu dimanfaatkan sebagai bahan pangan (makanan) yang diolah menjadi tepung atau papeda.

Realita kehidupan masyarakat Papua menyebabkan pohon sagu tidak dianggap bernilai, sehingga hutan sagu dialihfungsikan sebagai tanaman kelapa sawit hingga membuka lahan kelapa sawit ratusan hektar. Sebetulnya hutan sagu tidak bisa diganti dengan sawit karena kehadiran kelapa sawit banyak menghabisi hutan-hutan sagu Papua (Suara Papua, 10 Oktober 2018).

Pohon sagu dihargai sebagai “mama” yang memberikan orang Papua gizi yang baik untuk mempertahankan nafas hidupnya.

Degradasi dan deforestasi hutan sagu di Papua

Hutan sagu di Papua kini diblok-blokkan seperti yang terjadi di Jayapura (Sentani), luas sagu di Distrik Sentani tercatat 1.964 hektar, Sentani Timur seluas 473 hektare, Waibu sekitar 138 hektar, dan Sentani Barat sekitar 277 hektar. Sebagian besar lahan sagu tersebut merupakan hutan produksi sehingga rawan beralih fungsi menjadi lahan peruntukan lain (Jubi.co.id).

Karena potensi hutan sagu merupakan sumber hidup untuk memenuhi kebutuhan makanan dalam keluarga, pemerintah dan masyarakat berkomitmen sesuai Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Sagu di Kota Jayapura, agar saling berkontribusi untuk merawat, menjaga dan melestarikannya.

Selain Kota Jayapura, hutan sagu telah terdegradasi (kerusakan) oleh adanya kehadiran perusahaan-perusahaan seperti di Sorong Selatan, Papua Barat, masyarakat kamoro di Timika, dan Asmat yang memiliki hutan sagu ratusan hektare.

Namun, ratusan hutan sagu itu telah eksploitasi dengan adanya penebangan pohon dan pembukaan lahan pertanian yang meluas. Hutan sagu juga dijadikan hutan sawit dan permukiman.

Akhir-akhir ini, krisis ekonomi, terutama selama wabah virus corona rama dibicarakan. Direktur Utama Bulog  Budi Waseso mengatakan sudah memerintahkan jajarannya membeli sagu sebagai bahan pangan cadangan untuk mengantisipasi kehabisan beras habis (Jubi.co,id).

Pertanyannya, apakah hutan sagu masih tersedia? Hutan sagu kini sudah rusak. Kalaupun ada, itu tinggal “sejengkal” karena sudah dieksploitasi.

Hutan adalah tempat menyimpan segala sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Seperti sagu, buah merah, ubi-ubian, pisang, kelapa hutan, dan hewan atau binatang-binatang kecil, sehingga manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki akal budi harus menyadari dan melestarikan potensi hutan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Karena situasi krisis seperti saat pandemi covid 19,  manusia bisa hidup dengan bergantung pada hasil hutan, dan OAP menghargai hutan sebagai tempat sumber pangan, sandang, dan papan. Stop eksploitasi hutan. Mari melestarikan sagu! (*)

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Biologi Uncen, Jayapura, Papua

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa