HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Empat kawasan di daerah ini rentan DBD

Ilustrasi, pixabay.com
Empat kawasan di daerah ini rentan DBD 1 i Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Penyebab kerentanan kawasan itu karena mobilitas masyarakat sangat tinggi dibanding dengan daerah lain.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Gunung Kidul, Jubi – Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebutkan bahwa ada empat kecamatan di wilayahnya yang rentan kasus demam berdarah dangue. Salah satu penyebab kerentanan kawasan itu karena mobilitas masyarakat sangat tinggi dibanding dengan daerah lain.

Empat kawasan di daerah ini rentan DBD 2 i Papua

“Mobilitas masyarakat sangat tinggi di daerah itu dibanding dengan daerah lain, sehingga potensi serangan DBD sangat tinggi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Gunung Kidul, Sumitro, Selasa, (18/2/2020).

Baca juga : Masyarakat Merauke diminta waspadai demam berdarah

Tiga kabupaten di NTT ini ditetapkan KLB demam berdarah

Demam berdarah di Maluku Utara meningkat drastis

Sedangkan empat kecamatan rentan kasus demam berdarah dangue, yakni Kecamatan Wonosari, Karangmojo, Ponjong dan Kecamatan Playen. Tercatat pada Januari 2020, ada 139 kasus DBD, satu di antaranya dicurigai meninggal.

Awal tahun ini, Gunung Kidul menempati urutan pertama kasus DBD di wilayah DIY, kemudian dibawahnya menyusul Kabupaten Bantul, Sleman, Kota dan dan Kabupaten Kulon Progo terendah. Meski demikian, tidak dikategorikan sebagai wabah.

“Ini masih endemis DBD. Disebut wabah jika dalam jangka waktu tertentu terjadi lonjakan kasus dan sebarannya luas,” kata Sumitro menmabahkan.

Berdasarkan hasil uji laboratorium di Loka Litbang P2B2 Banjarnegara, nyamuk pembawa penyakit mematikan itu kemampuan restitensinya paling kuat dibanding tiga kabupaten dan kota di Yogyakarta. Persoalannya, pembunuh nyamuk dengan menggunakan zat malapion sekarang sudah tidak mempan. Nyamuk menjadi resiten kalau pemakaian insektisida tidak terkendali atau tidak pas dosisnya.

“Dibanding tiga kabupaten dan kota di Yogyakarta, resistensi nyamuk pembawa DBD di Gunung Kidul paling kebal insektisida. Namun sekarang sudah ada iseksida generasi terbaru,” kata Sumitro menjelaskan.

Kepala Seksi (Kasi) Penyakit Menular Dinas Kesehatan Gunung Kidul, Diah Prasetyo Rini, mengatakan per 13 Februari 2020 tercatat ada 25 kasus DBD di Gunung Kidul. Ia mengatakan aktifitas nyamuk aedes aegypty juga ada jamnya yakni, pada pagi muncul antara 8.00-10 WIB. Sementara sore mulai 15.00 WIB hingga 16.00 WIB.

“Langkah Dinkes, yakni gencar melakukan pencegahan melalui sosialisasi juga penanganan langsung,” kata Diah yang menyarankan paling mudah pencegahan dengan mengoleskan loition anti nyamuk. (*)

Editor : Edi Faisol

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top