Follow our news chanel

Festival “Helay Mbay Hote Mbay” siap digelar di Abar

Masyarakat saat menikmati papeda pada Festival Makan Papeda di Kampung Abar pada 30 September 2018 - Jubi/DokF
Festival "Helay Mbay Hote Mbay" siap digelar di Abar 1 i Papua
Masyarakat saat menikmati papeda pada Festival Makan Papeda di Kampung Abar pada 30 September 2018 – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Warga Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura siap menggelar festival makan papeda di gerabah atau sempe selama tiga hari, akhir September 2019.

Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar, Naftali Felle, adalah pencetus pesta makan papeda hingga menjadi festival makan papeda dalam sempe.

Felle mengatakan tahun 2017 hanya dihelat makan papeda di sempe atau gerabah berupa pesta.

Lalu tahun kedua, 2018, pesta makan papeda dalam sempe itu kemudian mengangkat tema “Helay Mbay Hote Mbay”, dan tahun ini tema itu diabadikan menjadi nama festival.

“Dua kali pesta dan yang ketiga berubah menjadi festival. Jadi tiga hari (28-30 September 2019),” kata Felle kepada Jubi di Jayapura, Kamis, 26 September 2019.

Menurut dia, festival tersebut akan dibuka oleh ondofolo, dan dihadiri bupati bersama pejabat-pejabat daerah Kabupaten Jayapura.

Loading...
;

Tanggal 28 September 2019 ada pameran jual jualan perajinan ibu-ibu dan dilanjutkan dengan demo pangkur sagu, ramas sagu, sampai menjadi papeda di sempe pada 29 September 2019.

Helay merupakan bahasa Sentani dari sempe atau gerabah, dan mbay artinya satu, sedangkan hote artinya piring ikan. Jadi, helay mbay hote mbay artinya makan papeda di dalam satu gerabah dan satu piring ikan.

“Kita makan di satu sempe, ambil ikan dari satu piring ikan,” katanya.

Dia menjelaskan makan papeda dalam satu sempe memiliki filosofi dan nilai historis bagi masyarakat Sentani, terutama Kampung Abar.

Pada masa lalu, kalau makan papeda, satu keluarga dan kampung duduk bersama dan membentuk lingkaran. Mereka mengambil papeda dari sempe dan colo di satu piring ikan lalu makan bersama. Di sana hubungan kekeluargaan dan kekerabatan terjalin.

“Saat makan itu orang-orang tua memberikan amar nasihat,” kata Kepala Suku Felle Kampung Abar yang menjadi Kepala Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) Kabupaten Jayapura ini.

Dia berpesan agar anak-anak Papua melestarikan dusun-dusun sagu, sebab sagu adalah makanan pokok orang Papua, terutama orang Sentani. Sagu, katanya, ibarat ibu dari makanan-makanan lokal Papua.

Dalam data Badan Pusat Statistik kampung Abar ditulis Atabar. Kampung Atabar merupakan satu dari lima kampung di Distrik Ebungfau. Penduduk di Atabar berdasarkan data Potensi Desa (Podes) 2017, hanya dihuni 59 kepala keluarga atau 8 persen dari 807 kepala keluarga di distrik Ebungfau.

Namun, Abar merupakan satu-satunya kampung dari 139 kampung dan lima kelurahan di Kabupaten Jayapura, yang masih melestarikan dan penyedia bahan baku tanah liat menjadi gerabah atau sempe.

Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar adalah sanggar binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jayapura, yang melakukan aktivitas membuat gerabah dalam berbagai bentuk, seperti pot bunga, belanga, dan tungku.

Kampung Abar dapat dicapai sekitar 20 menit dari Bandara Sentani, yaitu 10 menit perjalanan darat ke Dermaga Yahim, dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan perahu ke Kampung Abar. Pengunjung dari luar Jayapura juga bisa menyewa mobil dari Bandara Sentani ke Dermaga Yahim sekitar Rp50 ribu, dan ongkos naik perahu sekitar Rp10 ribu.

Peneliti di Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan kelebihan festival ini adalah penyelenggaranya betul-betul inisiatif dari masyarakat Kampung Abar. Pertama kali diselenggarakan benar-benar karena swadaya masyarakat. Walaupun tidak ada bantuan dari pemerintah, masyarakat Abar selalu siap menyelenggarakan festival tersebut.

“Tinggal gotong royong menokok sagu di hutan sagu dan menangkap ikan di danau sebagai lauknya. Semua material festival dapat dengan mudah didapatkan, mulai dari atap daun sagu, para-para dari pelepah sagu, serta gerabah yang dibuat oleh mama-mama Kampung Abar,” kata Hari Suroto.

Menurut Hari, festival ini sangat digemari oleh bule-bule yang tinggal di Sentani, sebab papeda adalah makanan lokal yang sehat dan organik. []

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top