Follow our news chanel

Previous
Next

Frans Rumbino, Musisi sisir dari Pulau Wundi Biak

Papua
CD rekaman Frans Sisir -Jubi/bukalapak.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – “It’s the first time we’ve seen anything like that. Frans Sisir from Indonesia surprises everyone with his very unique talent”.

Begitulah lontaran komentar pembawa acara Asia got talent 2019 lalu dalam laman resmi www.axn.asia.com/AGTVote 2019 lalu di Singapura.

Dia memiliki keunikan dalam melakukan pertunjukan, yaitu menggunakan sisir dan plastik sebagai alat musik yang suaranya menyerupai tenor saksofon.

Permainan musik sisir gaya Frans Rumbino ini membuatnya semakin terkenal terutama setelah masuk final ketiga Asia’s Gota Talent 2019. Dia hanya kalah dari seniman Jepang karena voting sehingga akhirnya tereleminasi di babak ketiga semifinal.

Namun, itu bukanlah hambatan yang membuat bakatnya kandas. Frans Rumbino ‘sisir’ terus memacu bakatnya hingga tampil pada beberapa TV swasta nasional di Indonesia. Salah satu tampil dalam acara di dalam Net TV dan mendapat hadiah jutaan rupiah.

Bakat musiknya memang turun dari salah satu pamannya Guru Yance Rumbino pengarang dan penulis lagu Tanah Papua. Sama-sama berasal dari Pulau Wundi, Kepulauan Padaido Kabupaten Biak Numfor, Papua, tantenya mendiang Corry Rumbino dan Beatrixs Rumbino juga terkenal sebagai penyanyi di Papua.

Lelaki kelahiran Pulau Wundi Biak 11 Februari 1972 itu mampu menirukan alunan suara music saksofon meniru suara music Kenny G.

Loading...
;

Mesakh Frans Rumbino  pertama kali menemukan ide alat musik sisir tatkala menyaksikan pertandingan PSBS Biak di Stadion Mandala saat pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah di Jayapura.

Frans kecil pun tak ketinggalan memberikan dukungan bagi klub kebanggaan masyarakat kota karang panas, Biak. Dia bukan berteriak atau pun bertepuk tangan melainkan membawa sisir kecilnya lalu mengalunkan “suara tiupan sisir” di tengah tepukan tangan dan teriakan pendukung.

Frans hanya memakai sisir dan kantong plastik guna mendukung tim kebanggaannya, sejak itu pula alat sisir rambut ini membawa keberuntungan baginya untuk berkarier musik di masa depan.

Bakat alam itu memang diperoleh sejak kecil, saat masih tinggal di Pulau Wundi, yang indah banyak pohon kelapa dan pasir putih.

Kebetulan kakeknya membangun sebuah rumah di Kampung Wundi sehingga membawa kenyamanannya untuk cucunya berkreasi dan berimajinasi menirukan suara burung dan juga merasakan tiupan angin di kepulauan Padaido.

Tiupan suara sisir itu pun mulai berkembang saat Frans Rumbino hijrah ke Jakarta, mulai meniru bunyi suara saksofon hingga trombone.

Bahkan sisir yang dimasukan dalam kantong plastik itu mampu menghasilkan bunyi trombone yang bersuara agak berat.

Frans kepada majalah rohani Bahana mengaku sejak kecil sudah ditinggalkan orang tuanya, namun hal itu tak meninggalkan keceriaannya. Dia tinggal bersama kakek Roberth dan nenek Alexanderina di Kampung Wundi.

“Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga,” katanya.

Sepulang dari mencari ikan, Frans kecil suka meniup daun ataupun kulit kerang. Kebetulan dalam orang Biak juga ada bia triton yang biasa dipakai dalam upacara adat setiap ada tiupan triton semua orang kumpul untuk pesta adat atau peringatan penting lainnya.

Merantau ke Malang

Putra sulung dari enam bersaudara itu dari Biak, pindah ke Jayapura dan sekolah pun berpindah-pindah dari satu ke kota mulai dari Blitar, Jakarta dan kembali ke Jayapura hingga menyelesaikan pendidikan SMP pada 1988.

Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 8 Malang, Jawa Timur. Di Malang semua bakat yang terpendam dalam diri Frans sisir mulai keluar mulai dari bermain bola dan berposisi sebagai striker.

Akibatnya waktu bermusik berkurang dan lebih banyak ke sepak bola, padahal keponakan guru Yance Rumbino ini mahir bermain musik sisir dan memiliki suara tenor yang melengking tinggi.

Setamat SMA di Malang, Frans kembali ke Jakarta dan sempat kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang di Jakarta.

Sayang, cita-cita untuk menjadi diplomat kandas di tengah jalan, gara-gara terbentur biaya kuliah. Akibatnya Frans membanting stir dengan bergabung sebagai debt collector dan juga sebagai anggota Pemuda Pancasila di Jakarta.

Pekerjaan debt collector yang keras di Jakarta mengantarkan pula dirinya menghuni hotel prodeo di Metro Jaya.

Padahal saat itu pula Frans sudah menikah dan memiliki anak pertama Anelo, yang baru berusia empat bulan sedangkan adiknya Kezia dan Lidya belum lahir.

Papua
Frans sisir bersama keluarganya-Jubi/Facebook Frans Sisir.

Setelah dua bulan di sel Metro Jaya, pindah ke LP Cipinang di Jakarta Timur. Selama tinggal di dalam tahanan membuat iman ayah dari Anelo semakin bertumbuh dan menyadari bahwa Tuhan itu baik.

”Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia sia,” katanya sebagaimana diberitakan dalam majalah Bahana Kristen.

Dia juga sempat melakukan pelayanan main musik dan juga termasuk olahraga dan saat itu mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao.

Selama di LP Cipinang Frans terus bersaksi dan melayani serta memainkan musik sisir menirukan lagu-lagu rohani. Hingga akhir penahanan di LP Cipinang berhasil menyandang predikat napi terbaik maksudnya narapidana terbaik.

Bebas dari tahanan, aktivitas Frans Rumbino lebih banyak melayani dalam ibadah gereja maupun bersaksi dalam kebaktian kebangunan rohani (KKR). Dia diundang dalam pelbagai acara mulai dari ulang tahun hingga pementasan dalam acara TV.

Bahkan kepiawaiannya bermusik dengan sisir dan plastik, mantan Presiden Soeharto, Megawati juga Susilo Bambang Yudhohyon dan Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam dibuatnya kagum dan terpesona.

Uniknya, ketika diundang ke rumah mendiang Presiden Soeharto di jalan Cendana Jakarta, Frans meminjam sisir Pak Harto untuk membuktikan bisa memainkan musik dengan berbagai bentuk sisir. Dia mengaku saat memakai sisir Pak Harto membawakan lagu berjudul Sio Mama He, lagu asal Ambon Maluku.

Menurutnya, sejak 2003, ia lebih banyak melayani dalam ibadah maupun di gereja merupakan panggilan keseharian. Walau pun Frans tak memungkiri bahwa juga mendapat panggilan dalam pesta maupun perform bermusik.

Pada 2005, sempat ikut pelayanan ke Amerika Serikat awal mulanya sulit memperoleh visa ke Amerika Serikat, apalagi Frans mengaku ke Amrerika untuk bermain musik, yang membuat warga di sana heran.

Beruntung musik khas sisir dan plastik membuat mereka terkagum hingga Frans berhasil mendapat visa untuk berkunjung ke Amerika Serikat di sana sempat berkeliling ke New Jersey, New York, Boston dan Atlanta. Berkat musik sisir pula, Frans Rumbino pernah berkunjung ke Italia, Perancis dan tentunya negera kincir angin Belanda.(*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top