GAPKI: Bencana Kebakaran Rugikan Industri Sawit

Jakarta, Jubi/Antara – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bencana kebakaran yang melanda sebagian lahan perkebunan sawit di Indonesia akhir-akhir ini merugikan industri komoditas itu.

“Bencana kebakaran sekarang ini merugikan semua pelaku usaha di sektor sawit baik langsung ataupun tidak langsung,” kata Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono, menjawab pers, di Jakarta, Senin (21/9/2015).

Ia menjelaskan kerugian paling besar yang diderita pelaku usaha adalah tak kasat mata (intangible loss) berupa munculnya tuduhan kepada perusahaan sawit sebagai penyebab utama kebakaran.

Padahal, lanjutnya, perusahaan sawit yang mengelola lahan perkebunan itu sudah memenuhi standar operasi untuk mencegah dan memadamkan kebakaran.

“Investasi juga cukup besar dikeluarkan untuk memenuhi prosedur operasi standar penanganan dan peralatan kebakaran,” katanya, tanpa merinci nilai investasi dan kerugian materi industri sawit yang dimaksud.

Perusahaan yang memiliki izin pengelolaan lahan sudah lama menerapkan standar zero burning sesuai amanat UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup dan UU Nomor 39 Tahun 2013 tentang Perkebunan.

“Tuntutan zero burning makin menguat sejalan dengan tuntutan pasar, terutama dari pembeli internasional. Selama ini perusahaan yang terkena dampak kebakaran harus berusaha memadamkan, baik dengan kekuatan sendiri atau bantuan pihak lain. Seharusnya aksi perusahaan-perusahaan ini diapresiasi, bukan malah dihukum,” katanya.

Loading...
;

Dia berharap pemerintah juga mengedukasi masyarakat, karena di lapangan masih terjadi pembakaran oleh petani yang ingin membuka ladang pertanian.

“Ini praktik ratusan tahun dan turun temurun. Makanya melalui UU 32/2009, pembukaan lahan dengan membakar oleh petani dianggap sebagai kearifan lokal dan dibolehkan hingga luas dua hektare,” katanya.

PP 4/2001 menegaskan bila petani membakar untuk buka ladang tidak boleh dipadamkan kecuali sudah ke luar ladangnya.

Itu semua juga menjadi pemicu meluasnya kebakaran di samping unsur ketidaksengajaan lainnya yang juga bisa menjadi penyebab kebakaran.

Merujuk pada hasil pengamatan yang dilakukan Website http://fires.globalforestwatch.org yang bekerja sama dengan World Research Institute termonitor hotspot dalam satu minggu terakhir terdapat di hampir seluruh wilayah Indonesia, Malaysia Sabah dan Serawak, Papua Nugini dan Australia Utara.

Di situs itu terlihat lahan konsesi hutan tanaman industri, kelapa sawit dan logging hanya berkontribusi sebesar 3-4 persen dari total titik api yang dimonitor oleh satelit.

Kebakaran lahan saat ini banyak didomminasi di luar konsesi (54 persen), 41 persen pada konsesi pulp and paper, dan 1 persen pada konsesi logging. Di Sumatera, ada lebih dari 50 persen kebakaran terjadi di luar konsesi perusahaan dan di Kalimantan angka ini lebih besar, sekitar 70 persen. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top