HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Gender dalam Deklarasi Boe PIF 2018

Wendy Saravagy mengambil sampel darah untuk pemeriksaa malaria di Klinik Borohinaba di Kepulauan Solomon 2004. - Department of Foreign Affairs and Trade/ AusAID/ Peter Davis

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Ali Gillies

Isu gender ada di mana-mana di dalam Deklarasi Boe dari Forum Kepulauan Pasifik (PIF) pada 2018. Sekilas, Deklarasi Boe tentang Keamanan Regional, dan rencana aksinya, tampaknya menangani gender hanya sebagai satu lagi isu lintas-sektoral – hampir tidak terlihat jelas. Tetapi setiap pembahasan Deklarasi Boe dan implementasinya yang serius harus menekankan bahwa pemahaman gender itu sangat penting untuk memastikan ia sukses.

Gender dalam Deklarasi Boe PIF 2018 1 i Papua

Dengan memperluas konsep keamanan untuk juga memasukkan keamanan manusia, Deklarasi Boe menggeser persepsi mengenai keamanan nasional dari suatu ranah yang umumnya untuk laki-laki, diperluas menjadi lebih banyak domain yang umumnya didiami oleh perempuan, dari pasar makanan hingga proses perdamaian.

Jadi apa yang diungkapkan oleh pembacaan Deklarasi Boe dari kacamata gender?

Deklarasi ini menegaskan bahwa perubahan iklim tetap merupakan ancaman terbesar bagi mata pencaharian, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat Pasifik. Tingginya frekuensi dan intensitas bencana iklim memiliki dampak yang lebih besar kepada perempuan daripada laki-laki.

Oxfam menemukan bahwa 77% kematian di desa-desa Indonesia setelah tsunami 2004 adalah perempuan. Ada berbagai alasan untuk memprediksikan kerentanan yang sama di Kepulauan Pasifik, meskipun data khusus gender sulit ditemukan.

Faktor-faktor yang menyebabkan dampak yang signifikan pada perempuan mungkin kelihatannya sepele – sampai ombak laut tiba di depan pintu. Lebih banyak laki-laki yang bisa berenang daripada perempuan, begitu juga dengan memanjat pohon kelapa atau mengendarai mobil. Tanggung jawab perempuan, seperti merawat anak-anak dan orang tua, sering kali berarti mereka kurang gesit. Hal-hal seperti ini dapat membawa konsekuensi mematikan pada saat-saat krisis. Ketika krisis, stres meningkat, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa tingkat kekerasan berbasis gender (KBG) meningkat dalam periode ini.

Pemahaman kita mengenai pendekatan yang paling sesuai dalam menanggapi keadaan darurat kemanusiaan, yang dapat kita antisipasi akan meningkat akibat perubahan iklim, juga telah berubah dalam tahun-tahun terakhir ini. Dulunya, upaya pemulihan bencana alam dipimpin oleh militer; dan tentu saja model penanggulangan bencana alam yang di-militerisasi dapat membuahkan dukungan logistik yang sangat efektif. Tetapi, jika kita membiarkan pasukan militer untuk mendistribusikan makanan dari belakang truk mereka, kemungkinkan besar korban yang lebih kuat akan mendominasi.

Ketika organisasi berbasis masyarakat yang melibatkan perempuan yang bertanggung jawab, kalian cenderung melihat barisan teratur perempuan yang menerima alokasi untuk keluarga-keluarga mereka. Pengalaman dan keahlian perempuan sangat penting untuk ketahanan dan pemulihan keluarga dan komunitas mereka. Melibatkan laki-laki dan perempuan dalam tahap perencanaan dan aksi akan memberikan hasil yang lebih baik.

Dalam keluarga dan komunitas mereka, perempuan memainkan peran penting dalam keamanan manusia. Perempuan dan laki-laki memiliki pemahaman, tanggung jawab, dan prioritas yang berbeda tentang ketahanan pangan, keamanan air, dan keamanan kesehatan.

Tanpa memperhitungkan peran-peran gender seperti ini, negara-negara Pasifik akan sulit mencapai keamanan manusia. Kita semakin sering melihat perempuan menciptakan perbedaan yang bermakna di tingkat lokal sampai nasional.

Meskipun Pasifik memiliki reputasinya sebagai wilayah yang damai, sejarahnya yang modern termasuk pertentangan dalam negeri dan konflik kekerasan. Angka ketaksetaraan gender yang tinggi dikaitkan dengan angka kekerasan antarnegara yang tinggi, dan KBG cenderung terjadi di negara-negara yang menggunakan taktik kekerasan untuk menyelesaikan konflik. Negara-negara Pasifik — khususnya di Melanesia — memiliki tingkat KBG yang tinggi.

Namun, pelibatan perempuan dalam proses perdamaian meningkatkan kemungkinan perdamaian itu bisa bertahan lebih dari satu dekade. Seperti yang dikatakan aktivis hak-hak perempuan Fiji, Sharon Bhagwan Rolls, perempuan di Pasifik, telah berperan penting dan seringkali ini adalah kelompok yang paling dipercaya oleh kedua sisi dari suatu konflik. Karena itu, perempuan sering menjadi negosiator utama dalam gencatan senjata. Perempuan sering membuka jalan untuk operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan regional, untuk penandatanganan perjanjian perdamaian dan memulai proses transisi.

Kerangka kerja keamanan nasional yang konvensional cenderung berfokus pada bidang-bidang yang didominasi oleh laki-laki — militer dan kepolisian. Tetapi lembaga-lembaga ini terus berevolusi. Kolonel-kolonel dan komisaris-komisaris polisi semakin menyadari bahwa institusi mereka jauh lebih efektif ketika perempuan memiliki posisi senior, dan dalam kepemimpinan. Keanekaragaman juga penting untuk kepentingan nasional mereka.

Isu-isu dan suara perempuan juga harus diakui dalam topik keamanan konvensional lainnya, seperti kejahatan transnasional dan keamanan siber, keduanya tertulis dalam agenda Deklarasi Boe. Keterhubungan secara digital telah berkembang pesat di Pasifik dan membawa banyak peluang — contohnya dalam meningkatkan akses ke informasi pasar, pendidikan, dan politik.

Tetapi ada juga berbagai kekurangan akses digital yang umum, yang juga sangat relevan di Pasifik. Jejaringan sosial dapat membawa cyberbullying, dan memungkinkan pasangan untuk lebih intens mengawasi pasangannya. Dimana ketaksetaraan antar gender sudah tinggi, kerentanan ini akan semakin umum. Memberdayakan perempuan untuk menyadari perangkap seperti ini, dan untuk memanfaatkan peluang yang ada, berarti mereka perlu duduk di meja pengambil kebijakan dan mereka dapat mengakses informasi tentang keamanan digital.

Kita tahu bahwa perencanaan dan implementasi kebijakan lebih efektif ketika mereka memanfaatkan keragaman pengalaman dan pemahaman. Jika potensi masyarakat Pasifik ingin direalisasikan dengan sepenuhnya, proses-proses untuk mengupayakan keamanan nasional dan regional harus mengacu pada kepemimpinan dan pengalaman perempuan.

Pandangan gender tentang Deklarasi Boe bukan hanya tentang kesetaraan dan HAM, ini tentang memastikan bahwa Deklarasi Boe membawa keamanan bagi semua orang di Pasifik.

Ali Gillies memiliki pengalaman yang luas dalam bidang pengembangan internasional. Ia pernah memimpin kebijakan gender untuk program bantuan Australia sebagai Koordinator bidang Gender. (Policy Forum, Asia & the Pacific Policy Society)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.