HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Gereja-gereja Papua menghadapi globalisasi

Ilustrasi, Dok/Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Era globalisasi adalah era peralihan dan segala penentuan nasib kepada pilihan bebas individu. Segala penentuan yang bersifat niscaya menjadi semakin berkurang dan lemah. Di tengah situasi semacam ini yang semakin berperan adalah individu itu sendiri. Setiap individu mesti sendiri memilih dari sekian banyak tawaran dan bertanggung jawab atas pilihan itu.

Manusia yang mandiri—yang berpikir dan bertindak berdasarkan pertimbangan yang dibuatnya sendiri—adalah manusia yang dapat menghadapi tantangan globalisasi. Sebab itu, untuk umat menghadapi globalisasi, gereja-gereja Papua diperlukan solidaritas. Semangat belarasa, melihat melampaui kepentingan sendiri, adalah sikap yang perlu ditumbuhkan dalam era globalisasi, dan gereja-gereja Papua dipanggil untuk menumbuhkannya.

Memperkuat kemandirian individu

Ungkapan terkenal dari seorang teolog Katolik Karl Ranher berkaitan dengan keimanan dalam konteks modern berlaku pula dalam konteks globalisasi, “Orang Kristen di masa depan itu harus menjadi mistikus”. Artinya, orang harus bertumbuh sebagai individu yang beriman dan mempunyai kesadaran pribadi dan rasa percaya diri yang sehat. Untuk menghadapi tantangan yang datang dari arus globalisasi kita membutuhkan manusia-manusia yang memiliki kemandirian pribadi yang baik. Manusia yang tidak mengabaikan nuraninya pada sesama yang lain dan akalnya pada sebuah lembaga akan sanggup menghadapi berbagai tawaran dan kemungkinan yang disampaikan kepadanya di era globalisasi.

Loading...
;

Kemandirian mensyaratkan suasana kebebasan. Orang mesti dibebaskan dari tekanan luar untuk dapat secara pribadi menentukan sendiri arah tindakan dan gagasannya (R. Mirsel, dalam ertikelnya  “Hidup berpengharapan di tengah badai globalisasi”, 2011). Hanya di dalam suasana kebebasan dituntut bertanggung jawab atas diri mempunyai landasan pembenaran. Namun, itu tidak berarti bahwa pribadi yang mandiri harus dijauhkan dari segala macam arus informasi yang menantang dan menawarkan berbagai kerangka pemikiran.

Mandiri tidak berarti setiap orang harus menciptakan sendiri sebuah kerangka kehidupan yang sama sekali baru. Yang terpenting dalam kemandirian adalah orang menentukan sendiri sebuah kerangka pemikiran dan tindakan.

Kita tidak dapat mengandaikan bahwa manusia sudah mandiri dari awal, dan agama boleh membangun terus di atas landasan kemandirian itu. Gereja-gereja Papua mestinya menjadikan kemandirian umat sebagai tujuan. Tujuan ini dilaksanakan oleh gereja, antara lain, melalui pendidikan. Artinya bahwa pendidikan yang melengkapi orang dengan kesadaran kritis akan segala yang datang dari luar, termasuk di dalam ajaran budaya dan agamanya.

Memang, kita tidak pernah akan sanggup berpikir tanpa ajaran, tetapi ini bukan berarti kita tidak bisa mempertanyakan secara kritis ajaran kita. Yang mestinya terus ditingkatkan di dalam pendidikan menuju kemandirian adalah mempertanyakan kepentingan yang dilindungi oleh sebuah ajaran.

Gereja-gereja Papua perlu memikirkan pendidikan untuk membantu orang-orang Papua menjadi manusia yang mandiri. Guna membentuk pribadi-pribadi yang mandiri diperlukan partisipasi lembaga-lembaga pendidikan. Kemandirian itu tampak dalam kemampuan berpikir mandiri, ketrampilan bekerja dan berdaya saing. Globalisasi membuka banyak peluang usaha dan interaksi lintas batas bagi orang Papua. Agar kita dapat mengambil manfaat dari peluang ini, kita perlu mendidik orang-orang kita agar memiliki kepribadian yang mandiri serta mentalitas dan kecakapan berwirausaha. Di sini gereja-gereja Papua perlu menggalang kerjasama dengan berbagai pihak yang mempunyai kepedulian dalam bidang pendidikan.

Menumbuhkan semangat kebersamaan

Gereja-gereja Papua perlu membuka kesadaran dan menajamkan nurani para pemeluknya untuk menangkap berbagai penyelewengan dan pelecehan terhadap martabat manusia, untuk menyuarakan berbagai pengukuhan terhadap kemandrian manusia. Nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan atau dibatasi oleh agama, kebudayaan atau jenis kelamin tertentu.

Gereja-gereja Papua sebagai wadah sosial dan historis yang mengingatkan manusia akan Allah sebagai Pencipta umat manusia perlu membuka mata manusia terhadap keluhuran martabat manusia. Bagi gereja Katolik, manusia bermartabat luhur karena dia adalah ciptaan Allah yang paling luhur dan karena itu Allah berhak atas dirinya. Hak Allah atas diri manusia menjadi jaminan dan dasar bagi hak asasi manusia (HAM). Karena Allah berhak atas manusia, maka manusia-manusia tidak dapat melecehkan hak manusia lain. Mempermainkan hak manusia berarti melecehkan hak Allah atas manusia (Paul Budi Kleden, dalam buku “Teologi Terlibat” 2003).

Derasnya arus globalisasi hanya dapat ditanggapi apabila warga membentuk dan memelihara persekutuan dan kebersamaan. Tidak jarang terjadi, untuk memudahkan ekspansi kekuatan ekonomi, orang memecah-belah kesatuan tradisional warga. Menghadapi tantangan seperti ini gereja-gereja Papua perlu secara intensif  dan sistematis memberikan motivasi dan melatih ketrampilan umat untuk membentuk atau memperkuat persekutuan dan kelompok-kelompok.

Menumbuhkan semangat kebersamaan intrakelompok dan kebersamaan antarkelompok menjadi tujuan utama. Pengalaman sering menunjukkan umat kita sangat mudah menyatakan semangat kebersamaan dalam kelompok sendiri. Kebutuhan dan kesulitan yang sedang dihadapi seseorang atau satu keluaga dalam kelompok sendiri muda ditanggapi. Sangat mudah menggalang aksi kebersamaan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh sesama agama sendiri daripada agama lain. Namun, kurang menyatakan sikap bela rasa terhadap kesulitan  dan kebutuhan yang sedang dialami kelompok lain.

Era globalisasi menuntut gereja-gereja Papua untuk semakin menjadikan semangat kebersamaan dengan umatnya. Menghadapi kualisasi ekonomi dan politik yang tidak peka terhadap daya tahan dan daya serap masyarakat, gereja-gereja Papua ditantang untuk menunjukkan sikap terhadap kekuatan-kekuatan tersebut. Selain itu, gereja-gereja Papua perlu mendorong dan memanfaatkan wadah kerukunan dan semangat kebersamaan orang Papua di mana saja untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang apa yang perlu dilakukan di Papua.

Menjadi lembaga yang kritis

Tidak dapat dipungkiri, globalisasi membentuk pola pikir melalui penyebaran konsumsi, secara perlahan, wawasan dan prilaku orang berubah karena apa yang dibeli, digunakan, dan dibuangnya. Menghadapi kenyataan ini, gereja-gereja Papua menjadi lembaga yang kritis secara ke dalam dan keluar. Perlu bertanya secara kritis tetang apa yang dihapi oleh umat, tentang apa yang terjadi saat ini dan menjadi lembaga yang kritis bagi pihak-pihak lain. Gereja-gereja Papua perlu bersikap kritis terhadap diri dan terlibat dalam perjuangan masyarakat memanfaatkan peluang positif dari arus globalisasi dan menangkal bahaya-bahayanya. (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa