Follow our news chanel

Hadapi corona dengan akal

coronavirus - jubi
Para ilmuwan, pemimpin negara, pemimpin agama dan gereja telah sepakat, bekerja sama jaga jarak - Jubi/pixabay.com
coronavirus - jubi
Para ilmuwan, pemimpin negara, pemimpin agama dan gereja telah sepakat, bekerja sama jaga jarak – Jubi/pixabay.com

Oleh: Benny Mawel

Ketika pintu-pintu gedung gereja ditutup, orang-orang dibatasi berdoa bersama, lalu pengguna media sosial menggugat iman kekristenan.

Dimanakah imanmu? Mengapa takut virus corona? Apakah Tuhan yang berkuasa atau corona?

Para penggugat lanjut mengajak “jangan takut, Tuhan menyertai” untuk berkumpul bersama, berdoa bersama; melawan anjuran pakar kesehatan dan pemerintah.

Gugatan dan ajakan itu tanpa argumen yang jelas. Argumennya omong-omong doang, kutip-mengutip ayat kitab suci tanpa melihat substansi penciptaan.

Kitab suci kekristenan tidak bisa dibaca terpisah-pisah. Ia harus dibaca secara utuh dan menyeluruh dalam konteks penciptaan alam semesta dan manusia.

Karena itu, kitab Perjanjian Baru tidak bisa dibaca lepas dari kitab Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru ada karena Perjanjian Lama.

Loading...
;

Kisah penciptaan harus menjadi titik tolak iman, refleksi dan ajakan, karena kisah penciptaan mengungkap tujuan penciptaan manusia, alam semesta dan kelanjutan ciptaan.

Secara kronologis kitab kejadian berkisah, Tuhan menciptakan langit dan bumi lalu menciptakan segala sesuatu yang ada di dalam bumi dan langit. Kemudian, yang terakhir Tuhan menciptakan manusia.

“Baiklah Kita menciptakan manusia supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak dan atas seluruh bumi…”(Kejadian 1:26).

Kutipan kronologis penciptaan itu mengungkap dua hal. 

Pertama, Tuhan menciptakan manusia setelah menciptakan semua. Tuhan menempatkan manusia menjadi puncak dari seluruh ciptaan-Nya.

Manusia sebagai puncak ciptaan, Tuhan memberi akal. Akal itulah yang membedakan manusia dengan hewan lainnya di bumi. Tuhan melengkapi manusia dengan akal supaya manusia menguasai dan menaklukkan ciptaan lainnya;

Kedua, Tuhan menciptakan manusia dalam rangka bekerja sama dengan seluruh potensi diri-Nya. “Mari kita menciptakan manusia.” 

Tuhan mengkonsolidasikan seluruh kekuatan dan kekuasaan-Nya untuk menciptakan manusia.

Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai upaya individu, tetapi sebagai upaya kerja sama. Tuhan memperlihatkan kerja sama Putra dan Roh-Nya jauh sebelum Putra-Nya hadir ke dalam dunia.

Karena itu, tidak heran, ketika menjadi manusia, Yesus berbicara kerja sama dengan Bapa-Nya dalam Roh. Lukas 4:18 menulis, Yesus membaca “Roh Tuhan ada pada-Ku…” kata Yesus membaca kutipan kitab Yesaya (61:1)

Yesus mengatakan demikian karena memang keduanya satu kesatuan dalam kata dan tindakan. “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 11:30). Karena itu, yang melihat dan mendengar Yesus (berarti) melihat dan mendengar Allah. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami (Yoh 14:9).

Kerja sama itu tidak berakhir dengan proses pengadilan, penyiksaan, pembunuhan dan kematian Yesus. Pembunuhan Yesus malah menjadi kerja sama seluruh manusia (untuk) terlibat dalam kerja sama memulihkan penderitaan manusia.

Karena, tanpa manusia menjadi jahat, tidak menjadi baik, tidak akan pernah mengerti kerja sama seluruh diri Allah dan manusia. Manusia hanya mengerti kehadiran Allah dalam kerja sama dengan sesama.

Karena itu, penggunaan akal dalam kerja sama semua manusia dalam menghadapi virus corona menjadi satu keharusan. Semua manusia harus bekerja sama menggunakan akal untuk menguasai dan menaklukkan virus yang terus mengejar dan membunuh manusia.

Manusia yang berakal, harus bisa bekerja sama, tidak boleh kalah dengan virus corona. Manusia harus memenangkan pertarungan. Manusia harus menghentikan penyebaran virus ini dengan solidaritas semesta.

Para ilmuwan, pemimpin negara, pemimpin agama dan gereja telah sepakat, bekerja sama jaga jarak, cuci badan setiap berkontak orang lain untuk menaklukan virus corona. Cuci badan dengan sabun dan cairan alkohol atau cairan lain yang dianjurkan.

Jaga jarak menurut anjuran ada beberapa cara. Jaga jarak berdiri dengan sesama untuk komunikasi, berjalan atau duduk satu meter atau lebih. Dalam proses itu, akal terus membimbing kita harus kerja sama lebih dari itu, isolasi diri, rumah, lingkungan, wilayah dan negara.

Cara-cara itu telah efektif. Sebagian nyawa masih bernapas dengan jaga jarak, tidak terpapar dengan virus tetapi kita yang berani, atas nama Tuhan tidak peduli menggunakan akal dengan terus berjalan, berpesta pora, kumpul-kumpul atas nama bisnis, atas nama Tuhan.

Kita yang berani itu tidak terhindarkan, terpapar virus dan berguguran, jatuh. 

Ketika terpapar dengan virus, kita belum mendengar ada yang menolak tidak dirawat karena akan mati atas nama Tuhan, atas nama bisnis atau Tuhan akan menolong langsung.

Kita masih percaya Tuhan sedang dan akan menolong melalui para perawat, sehingga kita mencari pertolongan medis. Kita ke rumah sakit mencari pertolongan, pasrah kepada tim medis untuk “membunuh” virus dari badannya.

Apa yang terjadi? Akibat bandelnya, tidak mau kerja sama, ratusan perawat, dokter tewas di seluruh dunia. Kita yang bandel sudah menyusahkan para perawat, menularkan virus kepada mereka dan akhirnya ada yang meninggal.

Mereka meninggal karena kita tidak takut, tidak menggunakan akal dan kerja sama. 

Apakah kita yang berani telah menjadi utusan Tuhan untuk menyebarkan virus yang membunuh orang? Apakah keberanian menularkan virus dan menyebarkan kematian tidak lebih berdosa daripada menggunakan akal untuk menaklukan virus?

Kalau masih berani, silakan lanjut saja, tetapi kalau sepakat kerja menggunakan akal, masih berakal, masih percaya Tuhan akan menolong melalui sesama, mari kita kerja sama, menggunakan akal untuk menolong diri, sesama, dan paramedis dengan jaga jarak, tidak kumpul-kumpul atas nama bisnis dan Tuhan.

Mari, kita bekerja, belajar dan berdoa di rumah saja kalau sayang diri, keluarga, dan masyarakat Papua yang sudah tinggal sedikit ini. 

“Mari selamatkan yang tersisa biar tidak ada cerita negeri ini pernah ditinggali ras melanesia tetapi habis karena virus corona.” (*)

Penulis adalah jurnalis Jubi.co.id

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top