Hadapi pemilu AS, Facebook akan cekal iklan rasis

Facebook merupakan platform media sosial yang paling populer PNG. -Facebook

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta,  Jubi  – Facebook akan mencekal konten iklan yang mengandung kebencian mendorong perpecahan rasial.  Secara khusus kebijakan baru itu akan melarang klaim atas orang-orang dari ras, etnis, kebangsaan, agama, kasta, orientasi seksual, gender atau status imigrasi tertentu, termasuk ancaman terhadap keselamatan fisik, kesehatan, atau kelangsungan hidup orang lain.

“Kebijakan ini juga akan membatasi iklan yang menyatakan penghinaan bagi imigran atau pengungsi,” tulis The Verge, Minggu, (28/6/2020).

Baca juga : Zuckerberg abaikan protes karyawan Facebook terkait postingan Trump 

Twitter dan Facebook tutup 80 akun yang berkaitan dengan propaganda militer Indonesia tentang Papua

Perselisihan pro-demokrasi memanas, Tonga pertimbangkan larangan Facebook

Namun perlu dicatat pembatasan baru tersebut hanya berlaku untuk iklan, dan tidak akan memengaruhi postingan tanpa promosi berbayar.

Loading...
;

“Facebook tetap memberikan suara kepada orang-orang, dan itu berarti orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki banyak suara, atau kekuatan untuk berbagi pengalaman mereka sendiri,” ujar CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Ia menyatakan sangat penting bagi perusahaannya untuk memastikan platform memenuhi prinsip-prinsip  anti rasial. Pembatasan ini merupakan bagian dari serangkaian perubahan yang dilakukan Facebook sebelum pemilihan umum AS tahun 2020.

Facebook juga berencana proaktif memantau informasi tentang kondisi dalam 72 jam sebelum Pemilu, dengan standar yang lebih ketat untuk postingan-postingan yang tampaknya mengintimidasi atau menyesatkan selama periode waktu tersebut.

Posting tentang Pemilu akan dilengkapi dengan tautan otomatis ke Pusat Informasi Pemungutan Suara milik Facebook, yang dimaksudkan untuk memberikan informasi resmi mengenai Pemilu. Pusat Informasi Pemungutan Suara juga akan tampil menonjol di aplikasi Facebook dan Instagram.

Media sosial itu juga mengumumkan protokol baru ketika postingan melanggar kebijakan, tetapi diizinkan untuk tetap berada di platform karena mengutamakan nilai kepentingan publik.

Di bawah sistem baru itu, Facebook akan memberi label konten tersebut sebagai subjek pengecualian berita.

Perubahan itu terjadi di tengah boikot yang sedang berlangsung yang dipimpin oleh Color of Change, yang menyerukan pengiklan untuk berhenti beriklan di Facebook sebagai tanggapan atas ketidakmampuan perusahaan dalam menangani konten yang berisi pernyataan kebencian.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Unilever dan Verizon telah bergabung dalam boikot tersebut dengan membatalkan semua rencana pembelian iklan hingga akhir tahun. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top