Pemenang Lomba Prasejarah Danau Sentani Akan Terima Hadiah

papua lomba gerabah
Dua siswa serius membuat gerabah saat lomba membuat gerabah, Rumah Peradaban Prasejarah Danau Sentani yang diadakan Balai Arkeologi Papua. -Jubi/ Theo.

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Para pelajar pemenang sejumlah lomba pada kegiatan “Rumah Peradaban Prasejarah Danau Sentani” yang diadakan Balai Arkeologi Papua akan menerima hadiah saat acara “Pameran Kebudayaan Arkelogi” di Ramayana, Jayapura, Papua, Rabu (28/10/2020).

Ketua pantia lomba, Hari Suroto mengatakan pemenang lomba yang diikuti 28 sekolah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua tersebut akan mendapatkan piala, sertifikat, dan uang pembinaan.

Hari Suroto kepada Jubi di Balai Arkelogi Papua, Kamis (22/10/2020) menjelaskan, acara puncak lomba yang diselenggarakan pada 21-22 Oktober 2020 tersebut bertujuan memperkenalkan situs-situs arkelogi dan hasil penelitian peradaban Danau Sentani.

Lomba diikuti pelajar dari 8 Sekolah Dasar, 9 SMP, dan 11 SMA. Pada hari pertama lomba, 21 Oktober dilakukan penjurian tiga besar Lomba Bercerita Cerita Rakyat tingkat SD dengan tema “Terjadinya Danau Sentani” dan  lomba Vlog Tingkat SMP bertema “Prasejarah Danau Sentani”.

“Untuk mengurangi agar peserta tidak berkumpul, kedua jenis lomba telah dilakukan secara daring selama seminggu,” katanya.

Hasilnya diumumkan 19 Oktober dan tiga terbaik diundang presentasi di depan juri pada 21 Oktober untuk menentukan juara satu hingga tiga,” katanya.

Loading...
;

Pada 21 Oktober tersebut juga diadakan lomba menggambar motif Tutari tingkat SD dan SMP. Sedangkan tingkat SMA lomba membuat gerabah.

Pada Kamis, 22 Oktober diadakan penjurian menentukan juara tiga besar lomba tingkat SMA, yakni lomba vlog, lomba cerpen arkeologi, lomba artikel ilmiah populer prasejarah Danau Sentani, lomba menggamabr motif Tutari, dan lomba membuat gerabah.

“Untuk lomba membuat gerabah, hasil gerabah peserta dibawa ke sekolah masing-masing untuk proses pembakaran dengan dipandu panita,” ujarnya.

Untuk menyesuaikan dengan protokol Covid-19, kata Hari, panitia hanya membatasi dua peserta tiap-tiap lomba dan dua guru pendamping. Mereka wajib memakai masker dan mencuci tangan.

Aditya, guru pendamping dari SMA Al Fatah YPKP Sentani mengatakan kegiatan tersebut bagus karena sedikit orang yang mau melestarikan kebudayaan daerah. Sekarang siswa lebih banyak mengenal kebudayaan luar.

“Setiap orang wajib ikut melestarikan kebudayan Papua, terutama bagi mereka yang lahir dan besar di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia mengusulkan kegiatan tersebut bisa diadakan dua kali setahun di akhir semester untuk mengisi libur dengan memperbanyak jenis lomba.

“Kalau bisa ada lomba menggambar di atas kulit kayu, membuat guci, dan membuat pot bunga dari tanah liat,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Fransisco Mahuse Ndiwaen, siswa SMA Negeri 1 Sentani. Menurutnya lomba tersebut bagus dan bermanfaat, karena ia mendapatkan pengetahuan baru tentang peradaban Papua.

Fransisco berharap kegiatan tersebut ditingkatkan lagi supaya peradaban Papua semakin dikenal masyarakat. Maksimal dua kali setahun agar informasi tentang sejarah ini cepat menyebar dan diketahui masyarakat.

“Kalau bisa diadakan pameran-pameran kebudayaan,” ujarnya. (CR7)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top