Follow our news chanel

Previous
Next

Hasil rapid test negatif bukan jaminan bebas virus Korona

Papua
Ilustrasi Pandemi Covid-19 - Pixabay.com.
Hasil rapid test negatif bukan jaminan bebas virus Korona 1 i Papua
Ilustrasi Pandemi Covid-19 – Pixabay.com.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Yogyakarta, Jubi – Pemerintah RI tengah menyiapkan 125 ribu unit alat tes cepat atau rapid test virus Korona untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia, guna mempercepat pelaksanaan tes massal. Meskipun demikian,juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengingatkan bahwa hasil rapid test memiliki tingkat kepercayaan yang lebih rendah, dan orang yang mendapatkan hasil rapid test negatif belum tentu bebas dari virus Korona.

Hal itu disampaikan Achmad Yurianto dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (23/3/2020). Yurianto meminta setiap orang yang telah mendapatkan hasil rapid test negatif Korona tetap berhati-hati dan menjalankan pembatasan sosial, menjaga jarak antarorang, serta rajin mencuci tangan.

Yurianto menyatakan pemerintah mengadakan 125 ribu alat tes cepat atau rapid test untuk mempercepat tes massal yang akan dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Tes massal dengan metode rapid test itu dilakukan agar pemerintah dapat secara cepat mengidentifikasi orang yang positif terinfeksi virus Korona.

“Pemeriksaan rapid test ditujukan untuk melaksanakan pencarian kasus positif di tengah masyarakat. Ada 125 ribu kit rapid test yang akan dibagikan ke seluruh Indoensia. Kita akan bergerak mulai hari ini,” kata Yurianto.

Akan tetapi, Yurianto mewanti-wanti, bahwa orang yang telah menjalani tes massal dan mendapatkan hasil rapid test negatif belum tentu bebas dari infeksi virus Korona. “Dalam sejumlah tes massal, kebanyakan hasil tesnya negatif. Perlu dipahami, hasil negatif tidak menjamin yang bersangkutan tidak sakit. Pemeriksaan rapid test mengukur kadar antibodi [dalam tubuh orang yang dites]. Tidak semua infeksi virus seketika memunculkan antibodi. Jika pemeriksaan rapid test memberikan hasil negatif, bisa saja karena antibodi belum terbentuk, karena infeksi [yang telah terjadi] kurang dari tujuh hari,” kata Yurianto.

Ia menyatakan setiap orang yang telah menjalani rapid test dan mendapatkan hasil negatif harus mengulang rapid test itu. Tes ulangan dilakukan antara kurun waktu tujuh sampai sepuluh hari setelah rapid test pertama.

Loading...
;

“Manakala pemeriksaan kedua tetap negatif, baru kita bisa menyimpulkan saat ini tidak sedang terinfeksi. Tapi ingat, kita belum punya kekebalan untuk tidak terinfeksi. Sikap untuk tetap berhati-hati menjadi penting,” kata Yurianto.

Yurianto menyatakan setiap orang yang mendapatkan hasil rapid test positif Korona akan menjalani tes lanjutan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Tes metode PCR memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, dan mampu mendeteksi infeksi Korona secara langsung (tidak menunggu terbentuknya antibodi di dalam tubuh orang yang menjalani pemeriksaan). Jika hasil tes PCR mengonfirmasi infeksi Korona, orang tersebut harus menjalani penanganan lebih lanjut.

Menurut Yurianto, hingga 23 Maret 2020 pukul 12.00 WIB, kasus positif Korona telah bertambah menjadi 579 kasus. Dari jumlah itu, sejumlah 49 pasien positif Korona telah meninggal dunia, dan sejumlah 30 pasien positif Korona telah sembuh. Hingga Senin, masih ada 500 pasien positif Korona yang masih menjalani perawatan.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top