Follow our news chanel

Hesegem: Bukan OPM yang pengkhianat negara, tapi oknum aparat keamanan yang jual senjata

Papua
Ilustrasi Senjata Api dan Amunisi - Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pegiat Hak Asasi Manusia atau HAM di wilayah Pegunungan Tengah Papua, Theo Hesegem menyoroti adanya oknum aparat keamanan yang menjual senjata api (senpi) dan amunisi kepada Organisasi Papua Merdeka atau OPM.

Hesegem menilai, perbuatan itu mengindikasikan jika oknum tersebut tidak dapat menjaga wibawa dan harga diri negara. Oknum itu merupakan bagian dari pertahanan dan keamanan negara, namun justru berperan mempersenjatai pihak yang berkonflik dengan negara.

“Yang menjadi korban dari penggunaan senjata dan amunisi itu adalah aparat keamanan juga. Ini sama saja suruh OPM bunuh teman mereka sesama aparat keamanan,” kata Theo Hesegem kepada Jubi melalui panggilan teleponnya, Selasa (27/10/2020).

Menurutnya, oknum seperti itu adalah orang tak tahu diri. Ia telah digaji oleh negara, namun masih saja merasa kurang sehingga menjual senjata dan amunisi untuk keuntungan pribadinya.

Katanya, lantaran ada sejumlah oknum yang berprilaku seperti itu, memunculkan berbagai dugaan di publik. Ada pihak yang menduga akan adanya kelompok bersenjata buatan.

Kata Hesegem, bukan OPM yang pengkhianat negara, tapi oknum aparat keamanan yang jual senjata atau amunisi itu.

“Kalau OPM kan jelas ideologinya. Mereka menyatakan bukan warga Negara Indonesia. OPM dapat senjata dan amunisi dari mana? Tidak mungkin bikin peluru dan senjata di hutan. Mereka jual senjata dapat uang. Kita pekerja kemanusiaan yang pusing kalau ada korban dari warga sipil,” ucapnya.

Loading...
;

Katanya, kemungkinan itu terjadi karena pimpinannya kurang kontrol terhadap penggunaan senjata dan amunisi oleh anggotanya.

Untuk itu, ketika ada oknum aparat keamanan yang terbukti menjual senjata dan amunisi, pimpinan di wilayah mereka bertugas juga disanksi.

“Saya yakin, Kapolda, Pangdam, Kapolres, Dandim pasti sudah jelas melarang penjualan senjata dan amunisi. Tapi mungkin pengawasannya yang kurang di tingkat bawah,” katanya.

Sebelumnya tim gabungan TNI-Polri menangkap seorang anggota polisi berinisal JH di Bandara Udara Kabupetan Nabire, Papua pada 22 Oktober 2020 silam.

JH diduga terlibat penyelundupan senjata api kepada kelompok bersenjata di sejumlah wilayah Papua. Ia ditangkap setibanya dari Jakarta dengan membawa dua senjata api laras panjang jenis M-16 dan M-4.

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw beberapa hari lalu mengatakan, JH diduga bekerjasama dengan beberapa oknum pecatan kepolisian.

“Kemudian kita juga kembangkan, nampaknya sudah mungkin sekitar empat, lima, enam kali membawa barang ini masuk ke Papua lewat Nabire. Dibawa ke Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Tolikara dan lain sebagainya yang berkaitan dengan keberadaan kelompok kriminal bersenjata,” kata Irjen Pol Paulus Waterpauw.

Menurutnya, sebelum penangkapan tim gabungan TNI-Polri sudah dua bulan memantau pergerakan JH. Termasuk dengan pihak mana saja terduga berkomunikasi salam itu.

Katanya, JH membawa senjata api ke Papua dengan memanfaatkan kelengkapan administrasi terkait mobilisasi senjata api, dan statusnya sebagai anggota polisi. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top