HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Hindari apropriasi budaya, tari api Baining dibatasi di PNG

Tari api Baining di Tolai Mask Festival Juli tahun ini. – Post Courier

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kerevat, Jubi – Tari api Baining versi PNG tidak akan lagi ditampilkan di mana pun di daerah kota atau di hotel-hotel.

Ini adalah pesan dari ketua kelompok Uramat Incorporated Land Group (ILG), Hosea Kaelam, di Provinsi East New Britain.

Pada awalnya, sebelum tari ini muncul di hadapan publik dan dianggap sebagai budaya baru dari Provinsi East New Britain, tarian api Baining hanya dilakukan beberapa hari, biasanya selama pertemuan-pertemuan penting seperti pesta tradisional atau upacara tradisional.

Kaelam menerangkan bahwa dalam pertemuan yang diadakan pada 2 September 2019, dihadiri oleh pemimpin-pemimpin Baining di bawah tema โ€˜Kisim Bek Indigenous Identityโ€™, mereka sepakat bahwa semua kegiatan budaya akan diadakan di tingkat desa-desa, untuk mempertahankan nilai dan kerahasiaan ritual Baining dan praktik budayanya.

Selain itu, pengubahan itu diharapkan akan mendorong pembangunan hingga ke masyarakat pedesaan, serta memberdayakan rasa kepemilikan dan kekayaan identitas budaya pribumi, dalam mempromosikan Provinsi East New Britain dan PNG sebagai destinasi festival budaya.

Kaelam berkata para pemimpin telah meminta bantuan dari otoritas pariwisata Provinsi East New Britain, untuk menginformasikan dan memberikan arahan kepada semua sektor kementerian yang tepat dan hotel-hotel, bahwa tidak boleh lagi ada lagi tarian api Baining, dan kegiatan budaya Baining hanya dilaksanakan di desa-desa dan bukan dalam kota.

Loading...
;

Kaelam juga berkata bahwa pemimpin suku Baining telah diberikan wewenang, untuk memberikan izin pertunjukan tarian api untuk setiap kesempatan. Persetujuan untuk melakukan tarian api Baining harus didapatkan terlebih dahulu dari pemimpin suku itu, sebelum dipentaskan.

Pemberitahuan ini, menurut Kaelam, diumumkan sebagai tanggapan atas keluhan apropriasi budaya dan cultural theft oleh orang-orang asing yang telah menimbulkan kekhawatiran di antara kepala-kepala suku, tetua desa, dan perempuan dari Uramat, serta mendorong upaya untuk melindungi dan melestarikan nilai-nilai dan praktik budaya, untuk kepentingan generasi mendatang dan tidak membiarkan hilangnya budaya melalui manipulasi oleh budaya Barat. (Post Courier)

Baca juga  Posting komentar SARA, MP ditekan Gereja, politisi dan masyarakat Fiji


Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa