Honiara akan kembali gunakan nama adat untuk penamaan jalan dan daerah

Penamaan ulang daerah-daerah oleh kaum penjajah adalah salah satu cara yang biasanya digunakan untuk mengendalikan masyarakat adat di seluruh kawasan Pasifik. - Pacific Beat/ Zahiyd Namo/Aelanlife Photography

Papua No.1 News Portal | Jubi

Honiara, Jubi – Sebuah gerakan telah dimulai di Kepulauan Solomon untuk mengganti nama jalan-jalan dan daerah-daerah di ibu kota Honiara, dari nama kolonial menjadi nama adat sesuai dengan pemilik tanah tradisional di Guadalcanal.

Mereka yang mendorong pengubahan itu berkata penjajahan yang bertahun-tahun lamanya, diikuti dengan migrasi massal ke ibu kota, telah menghapus identitas adat setempat di kota itu.

Gubernur Guadalcanal, Francis Sade, membenarkan adanya gerakan ini kepada Pacific Beat, menegaskan bahwa pemerintahnya ingin kembali menggunakan nama-nama adat setempat.

“Yang paling penting adalah kembali menamai jalan-jalan, daerah-daerah, dan sungai-sungai menggunakan nama aslinya untuk menghormati masyarakat yang telah memberikan tanah ini kepada pemerintah,” katanya.

Akademisi asal Kepulauan Solomon, Dr. Tarcisius Kabutaulaka, mengatakan penamaan ulang tempat-tempat yang dilakukan oleh kaum penjelajah dan penjajah adalah salah satu cara yang biasanya digunakan untuk mengendalikan masyarakat adat di seluruh kawasan Pasifik.

“Nama itu sangat penting, karena nama bukan sekadar pengenal suatu tempat atau suku, nama adat itu juga memiliki ceritanya sendiri, itu merupakan repositori masyarakat setempat dan budayanya,” ujarnya.

Loading...
;

Dr. Kabutaulaka mengatakan Guadalcanal menderita akibat militerisasi selama Perang Dunia Kedua, dimana nama-nama tempat yang baru digunakan mengganti nama-nama adat, nama yang diberikan penjajah contohnya Bloody Ridge dan Hells Point.

Gubernur Guadalcanal menambahkan bahwa dia telah membahas hal ini dengan Dewan Kota Honiara, dan anggota-anggota dewan itu tampaknya mendukung gagasan untuk membarui nama-nama tersebut.

Di halaman Facebook Radio Australia, beberapa orang mengkritik rencana tersebut karena mereka mengatakan itu akan menyebabkan hilangnya sejarah nasional negara itu, tetapi yang lain mendukung dengan mengatakan bahwa rencana itu adalah langkah yang tepat untuk mengenali budaya Guadalcanal dengan kembali menggunakan nama-nama tradisional.

Dr. Kabutaulaka juga mengungkapkan bahwa status Honiara sebagai ibu kota juga perlu dipertimbangkan, dan nama-nama asli dari provinsi-provinsi lain mungkin bisa digunakan untuk nama jalan-jalan.

“Daripada menggunakan nama-nama asing,” tegasnya. (Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top