TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Hutan sagu di pesisir Danau Sentani semakin berkurang

Pengolahan Sagu di Papua
Seorang ibu memindahkan sari hasil parutan sagu untuk diremas. - Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Luasan hutan sagu di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, semakin berkurang, akibat penebangan yang berlebihan dan alih fungsi lahan. Hutan sagu juga semakin berkurang karena lunturnya nilai budaya masyarakat adat Sentani yang dahulu menempatkan pohon sagu sebagai bagian yang penting dari kehidupan mereka.

Sebagian besar lahan sagu di Kabupaten Jayapura berada di kawasan hutan produksi yang rawan mengalami alih fungsi lahan. Hutan sagu antara lain terdapat di Distrik Sentani (1.964 hektar), Sentani Timur (473 hektar), Waibu (138 hektar), dan Sentani Barat (277 hektar).

Ondofolo Kampung Simporo, Andi Tokoro, menyatakan populasi sagu di  pesisir Danau Sentani berkurang karena terus ditebang oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Bisa 10 – 20  pohon yang ditebang untuk kepentingan hidup sehari-hari,” ujar Tokoro saat dihubungi pada Rabu (23/6/2021).

Tokoro juga merasakan nilai-nilai budaya luhur masyarakat adat Sentani semakin luntur karena perkembangan dan modernisasi. Pohon sagu bukan lagi tanaman yang penting bagi keberlangsungan hidup generasi muda masyarakat adat Sentani.

Baca juga: Pemda di Papua diminta kembangkan industri sagu

Akibatnya, orang Sentani semakin jarang menanami kembali hutan sagu untuk menggantikan pohon sagu yang ditebang. “Kalau dulu, tiga pohon ditebang, maka [orang yang menebang akan menanam] dua hingga tiga kali lipat dari jumlah pohon sagu yang ditebang. Bibitnya [ditanam] di dekat pohon yang sagu yang ditebang,” kata Tokoro.

Hutan sagu juga ditebang secara berlebihan, karena sekarang orang menggunakan beragam mesin untuk menebang dan memarut sagu. Orang bisa menebang dan memarut lebih banyak sagu untuk kemudian dijual di pasar.

“Setiap hari pasti ada yang membawa sagu ke pasar untuk dijual. Dampaknya mulai terasa, lima hingga sepuluh tahun mendatang, pohon sagu sudah tidak mudah untuk di dapati lagi,” kata Tokoro.

Ia menyadari ancaman kepunahan hutan sagu di Kabupaten Jayapura. Oleh sebab itu, masyarakat diminta menanam sagu di masing-masing lahan atau hutan sagu yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten Jayapura juga dapat melakukan penanaman sagu untuk menggantikan tempat yang telah dialih fungsikan menjadi jalan raya, atau membuat hutan sagu yang menjadi binaan pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Jayapura telah mengundangkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Hutan Sagu di Kabupaten Jayapura. Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan peraturan daerah itu masih berlaku, namun ia mengakui hutan sagu terus terganggu.

Awoitauw menyatakan hutan sagu di Kabupaten Jayapura terganggu karena terdampak kegiatan pembangunan. Ia menyatakan pihaknya berkomitmen melakukan penanaman serta peremajaan hutan sagu di sekitar pesisir Danau Sentani.

Baca juga: Hutan sagu di Papua harus segera diselamatkan 

“Hutan sagu pemiliknya adalah masyarakat adat di mana hutan sagu itu berada. Sudah kami tegaskan, bahwa hutan dan tanah tidak boleh dijual untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Apalagi yang tidak mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat itu sendiri,” tegasnya.

Tanah dan hutan, kata Awoitauw, menggambarkan jati diri masyarakat adat di atas semua yang dimilikinya. Hutan sagu seharusnya tidak bisa diperjualbelikan atas nama pribadi.“Lahan hutan sagu banyak yang dialihfungsikan menjadi kompleks perumahan, dan itu atas kesepakatan pemilik dan pihak ketiga atau developer yang akan membangun,” kata Awoitauw.

Awoitauw meminta masyarakat kembali mengelola potensi alamnya dengan baik, termasuk menanam kembali pohon sagu di hutan mereka. Ia menyatakan Pemerintah Kabupaten Jayapura telah membuat kampanye menanam sagu dengan mewajibkan setiap pasangan pengantin menenam lima bibit sagu sebelum mencatatkan perwakilan mereka di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

“Berbagai jenis kue dan penganan ringan dibuat dari bahan sagu. Selain dikonsumsi warga masyarakat lokal, berbagai makanan berbahan sagu juga bisa dibawa sebagai bekal dan oleh-oleh keluar Papua,” pungkasnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us