Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

gubernur-papua-barat
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dan unsur pimpinan daerah menjemput 7.160 vaksin di Bandara Rendani Manokwari - Jubi/Hans Arnold Kapisa

Ketua IDI Papua: pemberian vaksin Covid-19 tunggu izin BPOM

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua dr. Donald Aronggear mengatakan pemberian vaksin Covid-19 kepada masyarakat di Provinsi Papua tinggal menunggu izin penggunaan vaksin tersebut dari BPOM (Balai Pengawas Obat dan Makanan) RI di Jakarta.

Ia menyampaikan, sebanyak 14.680 dosis vaksin Covid-19 kiriman dari Jakarta sudah tiba di Papua dan akan segera diberikan kepada masyarakat setelah izin BPOM keluar. Vaksin, katanya, menjadi salah satu jalan keluar menghadapi Covid-19.

“Informasi terakhir dari IDI, masih menunggu izin dari BPOM dan memang mereka sedang melakukan pengkajian secepatnya, tapi distribusinya sudah berjalan, kita berharap prosesnya segera ada,” ujar Donald kepada Jubi melalui via telepon, Selasa (05/01/2021).

Perizinan dari BPOM, katanya, penting agar tidak menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat, terutama tenaga kesehatan yang pertama akan menerima vaksin dan nantinya memberikan vaksin kepada masyarakat.

Menurut Donald, di beberapa negara vaksin Covid-19 sudah berjalan, seperti di Turki dengan Sinovac atau di Amerika dengan vaksin yang lainnya, karena mereka sudah memiliki perizinan di negaranya.

“Kita berharap di tempat kita segera ada izin dan saya yakin dalam waktu dekat sudah keluar sehingga bisa berjalan,” ujarnya.

Loading...
;
Terkait kekhawatiran masyarakat, kata Donald, IDI Papua sudah mengusulkan pembentukan tim pokja yang salah satunya bertugas melakukan sosialisasi dengan gencar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya vaksin Covid-19 tersebut. IDI juga sudah mengusulkan untuk membuat satu tim pokja pemantuan.

“Kita bukan berbicara masalah vaksinnya saja, tapi juga menyosialisasikan kembali, khususnya kepada kita punya masyarakat, karena kultur budaya kita dan tempat lain itu berbeda,” ujarnya.

Menurut Donald perlu ada penyampaian secara khusus dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan adat. Penting juga memberikan pengetahun  khusus kepada tenaga kesehatan yang akan bertugas menyuntikan vaksin Covid-19 tersebut.

“Siapa yang melakukan vaksin ini, karena sifatnya kan suntik, pasti nakes kan yang menyuntikan sehingga perlu pemberian pengetahuan khusus tetang vaksin tersebut kepada mereka yang bertugas menyuntikan juga,” katanya.

Terkait pengawasan pendistribusian dan penempatan logistik, Donald meminta agar benar-benar diamankan. Selain itu juga perlu pemantauan khusus dampak vaksin secara ketat. Jangan sampai ada dampak kepadamasyarakat.

“Sampai saat ini sebenarnya untuk pemantuan itu kita juga masih menunggu izin BPOM, jadi maksud saya tujuan dari vaksin itu baik, tapi kita harus mengawasi dan memantau betul secara ketat,” ujarnya.

Sambil menunggu izin BPOM, kata Donald, yang paling penting adalah melakukan “screening” pendataan sehingga saat pelaksanaan sudah mengetahui jumlah penerima vaksin Covid-19.

“Karena saya bilang screening itu sangat penting, misalnya ada namanya tercantum tapi layakkah atau tidakia mendapat itu, jangan sampai ada penyakit penyerta atau efek samping lainnya, itu yang dari sekarang perlu kita lakukan,” katanya.

Screening, kata Donald, bermaksud supaya tepat dalam hal pelaksanaan vaksin berdasarkan prioritas. Contohnya yang langsung terpapar dengan Covid-19 dan meng-exclude (mengecualikan), misalnya pasien-pasien yang mempunyai penyakit lain tidak boleh disuntik dan yang memiliki alergi berat.

“Apakah ada reaksi alergi, jadi harus ada yang perlu kita screening untuk kita melihat secara keseluruhan,” ujarnya.

Donald mengatakan yang diprioritaskan akan menerima vaksin Covid-19 dari sisi umur adalah usia 15-59 tahun, tidak memiliki penyakit penyerta, dan tidak memiliki masalah alergi berat. Usia 15-59 adalah usia produktif yang terdampak dalam pekerjaan, gampang kontak dengan pasien lainnya. Sedangkan usia 60-an tidak menjadi prioritas karena biasanya berada di rumah.

Kemudian calon penerima vaksin harus diperiksa penyakitnya. Jangan sampai memiliki penyakit penyerta dan tidak memiliki reaksi alergi meski penderita Covid-19.

“Itu perlu kita pantau masalah alergi yang berat, tapi menderita Covid-19, mau tidak mau tidak diberikan vaksin dulu,” ujarnya.

Walapun sudah ada vaksin covid-19, Donald menhimbau masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan 3M.

“Semua negara sudah melakukan vaksin dan pasti divaksin itu terbaik dibanding tidak divaksin, tapi prokes itu yang paling utama dan kepatuhan terhadap prokes itu jangan sampai lengah,” katanya. (Theo Kelen)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top