Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Iman adalah logika “spiritualitas Papua dalam menghadapi pandemi covid-19”

Papua
Denis Koibur mulai dikenal luas oleh masyarakat Papua ketika berhasil memimpin suatu ekspedisi pelayaran pada akhir 2018 - Jubi/Dok. Penulis

 

Oleh: Daniel Randongkir

Selama dua pekan terakhir, saya dan beberapa rekan kru “Tafiaro Broadcasting” bertemu saudara Denis Koibur sebanyak tiga kali. Pertemuan kami sebenarnya bertujuan untuk mendengar pandangan beliau tentang ketahanan pangan warga Papua dalam menghadapi ancaman pandemi covid- 19 yang semakin meluas di Tanah Papua.

Iman adalah logika "spiritualitas Papua dalam menghadapi pandemi covid-19" 1 i Papua

Tak disangka sebelumnya, dalam pertemuan tersebut kami lebih intens berdiskusi mengenai topik-topik menarik seputar antropologi religi.

Denis Koibur mulai dikenal luas oleh masyarakat Papua ketika berhasil memimpin suatu ekspedisi pelayaran pada akhir 2018, menggunakan perahu tradisional orang Byak yang disebut ‘Wairon’.

Pelayaran tersebut dilakukan dari pulau Biak hingga ke kampung Maiwara di Provinsi Milne Bay, Papua Nugini.

Denis menjelaskan bahwa inisiatif yang mendasari pelayaran tersebut merupakan amanat leluhur yang harus dilakukannya sebagai seorang ‘women’ (pelayan atau budak) dalam stratifikasi dan struktur kepemimpinan “alam roh”.

Loading...
;

Selanjutnya Denis menegaskan, “Pelayaran itu saya lakukan bukan untuk mengejar reputasi atau prestise sosial di mata orang Byak, tapi itu merupakan amanat leluhur yang harus saya laksanakan.”

Lebih jauh Denis menjelaskan bahwa pelayaran Wairon, merupakan salah satu dari beberapa tugas yang diamanatkan oleh para leluhur kepadanya.

“Amanat lain yang diperintahkan oleh leluhur kepada saya adalah membangun rumah adat dan membuat kebun-kebun yang besar. Sejak tahun 2003, saya mulai terhubung dengan ‘alam roh’. Kemudian tahun 2013 saya menerima pesan dari para leluhur agar mempersiapkan kebun dalam skala besar, guna memenuhi kebutuhan pangan warga kampung. Kebun-kebun tersebut harus ditanami dengan jenis tanaman pangan lokal yang dapat dikonsumsi oleh warga, dengan memperhitungkan jarak waktu tanam, agar dapat dipanen secara terus menerus selama masa krisis.”

“Ketika saya mulai berkampanye tahun 2015 tentang mempersiapkan kebun-kebun besar di Biak, banyak orang yang menganggap saya ini adalah orang gila. Bahkan ada seorang pemuka agama Kristen di kampung saya, mengecam saya sebagai nabi palsu. Saya katakan bahwa ketika masa krisis pangan menghampiri kita, kami di Mokmer tidak punya persediaan sagu untuk dikonsumsi,” ujar Denis.

Sekalipun mendapat banyak tantangan, tidak menyurutkan semangat Denis untuk terus berkampanye tentang kesiapan pangan menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan.

“Ada keluarga di wilayah Biak Timur yang sejak tahun 2017 mulai melaksanakan amanat leluhur untuk berkebun. Dorang bikin kebun dan sudah beberapa kali panen. Sekarang ini dorang sedang memperluas kebun dan ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan; baik tanaman jangka pendek, menengah dan panjang,” katanya.

Menurut Denis, penghitungan terhadap ketersediaan pangan dalam menghadapi situasi krisis seperti pandemi covid-19 pada saat ini, didasarkan pada pesan simbolik yang terdapat dalam mitologi Koreri.

Dijelaskan bahwa “Manarmakeri” atau juga disebut “Kayan Byak” (tokoh utama dalam Mitologi Koreri), telah menerima pesan misterius yang memerintahkannya agar mengimbau orang Byak untuk mempersiapkan kayu api sebanyak mungkin guna menyalakan api selama “tiga hari” kegelapan.

Masa ‘tiga hari’ dianalogikan sebagai tiga periode krisis, yang terbagi atas periode awal, periode pertengahan dan periode akhir.

Namun pesan atau imbauan tersebut, tidak dipahami oleh orang Byak, sehingga kita bisa mendengar kisah sejarah dimana orang Byak pernah menghadapi wabah penyakit dan krisis pangan yang menyebabkan banyak orang menjadi korban di masa lalu.

Dengan merujuk pada pesan spiritual yang tersembunyi dibalik mitologi Koreri, Denis menyampaikan bahwa situasi yang kita hadapi pada saat ini, merupakan permulaan dari periode krisis.

“Kitong baru masuk di tahap awa, sehingga dalam segala persiapan yang kita mau buat ke depan, harus memperhitungkan dengan baik setiap periode yang akan kita lalui. Jika WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memprediksi bahwa paling cepat krisis ini akan berakhir dalam jangka waktu dua tahun, maka kita juga harus memperhitungkan setiap tindakan strategis yang akan kita tempuh dalam jangka waktu tersebut. Misalnya kita bikin kebun, maka kita harus menghitung ketersediaan pangan yang akan kita konsumsi dari kebun itu selama jangka waktu dua tahun,” tutur Denis.

“Saya sebenarnya sudah mendapat peringatan keras dari para leluhur tentang ancaman krisis saat ini, ketika terjadi gerhana bulan darah. Para leluhur mendesak saya agar segera membuat kebun untuk menghadapi masa krisis. Dalam kosmologi orang Byak, gerhana bulan darah disimbolkan sebagai masa di mana segala kekuatan jahat dan roh kegelapan dibebaskan dari kurungan. Ini merupakan sinyal bahwa kita mulai memasuki masa krisis. Saya akhirnya baru dapat mempersiapkan proses membuat kebun pada pertengahan Februari 2020,” katanya.

Seperti kita ketahui, fenomena gerhana bulan serigala darah (super blood wolf moon) atau dalam istilah ilmiah disebut gerhana bulan penumbra, terjadi pada 11 Januari 2020.

“Dalam pengamatan saya, saat ini kalangan rohaniawan dan juga budayawan kurang peka terhadap fenomena kosmik, sebagai medium yang membawa pesan dari leluhur maupun Tuhan, agar umat manusia segera mempersiapkan diri menghadapi gelombang krisis besar,” katanya.

Rohaniawan dan budayawan terjebak dalam dialektika semu. Bagi kalangan budayawan Byak, Denis mengajukan tantangan agar mempraktikkan cara bercocok tanam secara tradisional sebagaimana yang dipahami dan dipraktikkan dalam tradisi orang Byak.

“Awalnya saya merasa kagum dengan budayawan Byak, karena mereka mampu menjelaskan secara detail proses dan teknik berkebun yang diwariskan turun-temurun oleh orang Byak, tetapi saat ini saya tidak melihat mereka mempraktikkan hal tersebut sehingga dapat menjadi panduan bagi orang Byak yang lain.”

Sedangkan respons Denis terhadap kritik kalangan rohaniawan, “Beberapa rohaniwan menuding saya menyampaikan ajaran kafir atau sesat yang bertentangan dengan keyakinan agama samawi. Mereka menuduh saya tidak mempercayai Tuhan yang saat ini diyakini oleh mayoritas orang di Papua. Namun saya tidak menghiraukan itu, karena saya sangat meyakini apa yang disampaikan oleh para leluhur. Sebab dalam hierarki kepemimpinan alam roh, Tuhan adalah sebagai penguasa tertinggi, kemudian para leluhur sebagai pelaksana perintah Tuhan, dan saya adalah pelaksana perintah leluhur di alam nyata. Jadi, Tuhan yang dipercayai oleh agama samawi, adalah Tuhan yang sama di dalam agama adat. Kalau para rohaniwan agama samawi mengklaim diri memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, mengapa mereka tidak memberi peringatan kepada umat manusia tentang ancaman krisis global pada saat ini. Sementara Tuhan yang sama pula, telah memberikan pesan kepada saya melalui para leluhur agar memperingatkan orang Byak mempersiapkan diri menghadapi krisis saat ini. Walaupun saya diejek dan ditertawai, tapi saya sangat yakin dengan amanat yang disampaikan oleh para leluhur kepada saya. Segala hal yang awalnya tidak masuk akal, kini semuanya menjadi nyata dan masuk akal bagi saya. Sementara di sisi lain, kalangan rohaniwan agama samawi menyampaikan sesuatu yang umumnya dapat diterima oleh logika banyak orang, tapi kenyataannya mereka tidak mampu menjabarkan fenomena kosmik dalam mengantisipasi ancaman krisis saat ini. Sebagai contoh, dalam alkitab yang umumnya dibaca oleh umat nasrani, telah ada perumpamaan tentang “5 gadis bodoh dan 5 gadis bijak” atau juga kisah lain tentang “mimpi seorang tahanan pada masa Firaun yang melihat 7 ekor lembu kurus yang menelan 7 ekor lembu yang gemuk” lanjut Denis.

“Dulu (sebelum wabah covid-19 merebak), banyak orang menilai saya sebagai orang gila, tetapi sekarang saya melihat justru banyak orang sedang menjadi gila karena panik dengan situasi ini. Kita telah diberikan peringatan oleh para leluhur agar mempersiapkan diri menghadapi pandemi wabah ini, tetapi kita mengabaikannya. Meskipun agak terlambat, namun masih ada kesempatan untuk kita bertindak dengan mempersiapkan diri menghadapi krisis ini. Saya merasa sangat bersyukur karena selalu diingatkan oleh para leluhur, dan saya semakin yakin dengan hal tersebut. Apa yang pada awalnya bagi saya sangat mustahil, tetapi pada akhirnya mulai dinyatakan di hadapan mata saya sendiri. Keyakinan saya kini menjadi sesuatu yang masuk akal. Iman adalah logika,” katanya.

Sebelum mengakhiri pandangannya, Denis menjelaskan bahwa dalam kebudayaan Byak, masyarakat memahami manusia dalam tiga unsur utama yakni “bakbaken” atau tubuh fana, ‘nin” atau jiwa dan “rur” atau roh.

Ketika terjadi kematian, ketiga unsur ini akan berpisah. Bakbaken akan kembali ke tanah, nin akan mendiami tempat khusus seperti pekuburan, sementara rur akan kembali kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemiliknya.

Saya berupaya untuk menyimpulkan keseluruhan pandangan spiritual yang disampaikan oleh Denis sebagai pesan moral kepada kita semua dalam menghadapi krisis pada saat ini.

Pertama, sebagai seorang keturunan Byak, Denis mengurai pesan moral dalam bingkai kebudayaan Byak, namun pada hakikatnya pesan ini berlaku bagi semua orang dan dapat dikaji, serta digali dari pemahaman budaya yang terdapat dalam masing-masing suku;

Kedua, pemahaman kosmologi tradisional seharusnya dipahami dan ditransformasikan agar dapat menjadi pedoman bagi keberlangsungan hidup umat manusia pada saat ini dan di masa depan;

Ketiga, ketahanan pangan merupakan kunci (jawaban) bagi umat manusia untuk bertahan melalui pandemi global covid-19.

Dengan demikian, pemerintah maupun seluruh masyarakat harus bekerja sama dalam mempersiapkan ketersediaan pangan yang memadai bagi kebutuhan bersama.

Terkait hal tersebut, pemerintah dapat memfasilitasi distribusi bibit tanaman dan ternak kepada seluruh warga, termasuk memberikan pemahaman tentang teknik pengelolaan pertanian maupun peternakan secara berkelanjutan (sustainable).

Semoga informasi ini dapat berguna bagi kita semua, dalam menghadapi dan melalui masa krisis pada saat ini. (*)

Penulis adalah pemerhati sosial di Jayapura

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top