Follow our news chanel

Previous
Next

Informasi penjualan pulau Pendek, ini penjelasan ahli waris

Papua
Keindahan pulau Matas, salah satu potensi pengembangan sektor pariwisata kepulauan Auri kabupaten Teluk Wondama. (Jubi/dokumentasi pribadi)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kendari, Jubi – Sahiba Gambo 61 tahun, mengaku terkejut mendapat informasi dari keluarganya bahwa Pulau Pendek, di Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) dijual di situs jual beli online. Salah satu ahli waris tanah di Pulau Pendek ini mengaku tidak pernah berniat menjual tanah apalagi sampai pulau di Buton dijual.

“Kaget juga sih, karena kita tidak pernah menyuruh orang mengiklankan di internet. Kita tidak menjual pulau, masa kita menjual pulau,” kata Sahiba, Senin (31/8/2020) kemarin.

Baca juga : Hampir seribu aparat diturunkan amankan HUT PI di Pulau Mansinam 

Pemprov Papua Barat targetkan potensi wisata di kepulauan Auri 

Kepulauan Cook didesak ubah nama kembali ke tradisional Māori

Sahiba menjelaskan tanah di Pulau Pendek itu memiliki luas 220 hektare berdasarkan sertifikasi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tahun 1975. Namun jauh sebelum itu, saat pendudukan Belanda di Buton, tanah itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Buton yang diberikan kepada Abdul Rahim Daeng Matiro, seorang pejabat kerajaan yang tidak lain adalah kakek Sahiba.

Loading...
;

“Kakek saya diberikan lahan dan menanam kelapa untuk kebutuhan kerajaan di sana. Hasilnya lalu dijual,” ujar Sahiba menambahkan.

Sahiba menyebut setelah Abdul Rahim Daeng Matiro meninggal, tanah itu kemudian diturunkan kepada ahli waris salah satunya orang tua Sahiba dan pamannya. Selanjutnya, tanah itu diwariskan lagi ke Sahiba dan keluarganya yang lain.

Sejak dikuasai oleh keluarga, tanah di pulau itu diolah secara turun temurun termasuk kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) setiap tahunnya.

“Jadi di sana ada beberapa ahli waris termasuk saya,” kata Sahiba menjelaskan.

Ia mengatakan terdapat dua orang warga yang tinggal di pulau tersebut, namun atas izin keluarga. Kedua warga itu bukan ahli waris tanah di Pulau Pendek yang  tinggal hanya untuk berkebun tanaman jangka pendek seperti jagung dan ubi-ubian.

“Sekitar Tahun 2018 lalu, saya pernah ke sana, antar orang lihat-lihat, mau jajaki kemungkinan bangun apa, saya sempat sampaikan (ke dua warga) kamu tidak bisa tinggal di sini karena ini bukan milik perorangan,” katanya.

Pada tahun 2019 lalu ia juga sempat menawarkan kerja sama kepada investor untuk membangun fasilitas pariwisata di pulau itu, namun belakangan rencana tersebut batal. Sejumlah investor itu sebelumnya datang lihat dan hendak membangun pesantren namun tidak jadi. Ada juga

mau membangun tempat wisata tapi pada akhirnya belum jadi juga.

Sahiba menganggap rencana penjualan pulau oleh orang lain yang saat ini yang menjadi viral di media sosial justru  menjadi ajang promosi gratis terhadap pulau yang selama ini dibiarkan terbengkalai.

Ia menegaskan sekalipun diiklankan di media sosial, pulau tetap tak bisa dijual jika ahli waris tanah di Pulau Pendek tak setuju.

Kabar penjualan Pulau Pendek viral di media sosial karena dijual di situs jual beli online. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo mengatakan warga boleh menjual Pulau Pendek di Buton, Sulawesi Tenggara untuk kepentingan investasi. Namun, pulau tidak boleh dijual kepada orang atau investor asing.

“Jual beli Pulau di Buton, Sulawesi Tenggara oleh warga di sana boleh saja, asal pulau itu dijual untuk investor Indonesia bukan untuk orang asing,” ujar Edhy. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top